detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 10 Juni 2019, 14:16 WIB

Kolom

Mencari Terobosan Kerja Sama Indonesia-Swedia

Bagas Hapsoro - detikNews
Mencari Terobosan Kerja Sama Indonesia-Swedia Dubes Bagas Hapsoro (Foto: istimewa)
Jakarta - Indonesia dan Swedia memiliki kesamaan dalam mengaplikasikan politik luar negerinya. Peranan ini semakin menonjol termasuk dalam penggelaran pasukan perdamaian PBB dan mendukung kemerdekaan negara Palestina. Hubungan bilateral pun semakin meningkat seiring dengan kemajuan ICT, turisme, dan peluang lainnya di bidang lingkungan hidup.

Bersama Mendamaikan Dunia

Peranan Swedia dan Indonesia tidak dapat dikesampingkan dalam masalah internasional. Dilatarbelakangi oleh polarisasi negara-negara besar yang kian meruncing, penentangan secara nyata terhadap norma dan hukum internasional, Indonesia dan Swedia semakin aktif mengingatkan dan memberikan aksi nyata dan terlibat dalam perdamaian dunia.

Contoh konkretnya adalah dari pembahasan di DK-PBB mengenai perlindungan kepada penduduk sipil di wilayah berkonflik sampai langkah Indonesia menambah pasukan perdamaiannya secara signifikan. Dalam rangka shaping and sharing norms kedua negara aktif merumuskan kebijakan terhadap peningkatan peranan wanita. Bagi kedua negara, "gender equality" bukan slogan tetapi tuntutan zaman.

Kerja Sama Bilateral

Kunjungan kenegaraan Raja Swedia pada 2017 ke Indonesia merupakan peluang besar dan memberikan efek positif bagi para pebisnis. Dua tahun yang silam Raja Swedia beserta Ratu Silvia telah membawa 35 pimpinan perusahaan asal Swedia yang berminat berinvestasi di Indonesia. Sampai sekarang masih banyak kerja sama ekonomi yang akan ditingkatkan kedua negara. Misalnya di bidang investasi, energi, dan lingkungan hidup.

Indonesia telah menyepakati tiga kerja sama di berbagai bidang dengan Swedia. Presiden Jokowi pun menyambut baik penandatangan kerja sama antarpemerintah. Yaitu persetujuan di bidang ekonomi kreatif dan navigasi bandar udara. Beberapa kerja sama juga ditandatangani secara terpisah, yaitu di bidang inovasi, science parks, dan pembiayaan pendidikan.

Ekonomi Kreatif dan Start-up Business

Swedia adalah salah satu negara termaju di Eropa untuk urusan start-up business. Kota Stockholm, misalnya merupakan kota unicorns. Meskipun AS tetap negara terbesar dalam teknologi komunikasi, namun Swedia mempunyai inovasi yang lebih tinggi mengingat semua pihak "dilibatkan" (akademi, pebisnis dan bantuan pemerintahnya untuk riset dan pengembangan).

Saat ini Swedia sedang mengembangkan strategi untuk memperluas produk teknologi dan ritelnya ke Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Sebagai negara ASEAN terbesar, Indonesia dengan sumber daya alam dan bertambahnya SDM tentu akan meningkatkan jumlah middle class. Jumlah angkatan kerja yang meningkat tentu akan membawa konsumsi domestik besar. Tidak disangkal lagi bahwa saat ini Indonesia adalah tujuan yang menjanjikan bagi bisnis dan investasi Swedia.

Berdasarkan rilis peringkat daya saing 2019 yang dikeluarkan oleh lembaga riset yang berbasis di Swiss, IMD World Competitiveness Center, daya saing Indonesia melesat 11 peringkat tahun ini menjadi peringkat 32 dari sebelumnya pada 2018 berada di peringkat 43. Empat indikator besar yang diukur yaitu kinerja ekonomi, efisiensi birokrasi, efisiensi bisnis, dan infrastruktur.

Dalam periode 2015-2019, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu program prioritas Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasil-hasil pembangunan. Selesainya sejumlah proyek infrastruktur telah dirasakan dampaknya, salah satunya turut berkontribusi pada peningkatan daya saing Indonesia.

Kenaikan peringkat daya saing Indonesia menjadi yang terbesar di regional Asia Pasifik. Dalam rilis tersebut, peningkatan daya saing disebabkan efisiensi di sektor pemerintahan, demikian halnya kemajuan dalam ketersediaan infrastruktur dan iklim bisnis.

Pada Agustus 2018 Business Sweden, yaitu salah satu konsorsium pebisnis yang aktif di Indonesia telah melakukan survei terhadap ratusan perusahaan Nordik di Indonesia termasuk Swedia. Salah satu temuan dari survei adalah bahwa iklim bisnis saat ini cenderung membaik karena keterbukaan pemerintah. Jumlah kenaikan pebisnis Swedia yang aktif di kota besar (Surabaya, Medan, Bandung, dan Jakarta) sekitar 68%.

Situasi politik pascapemilu yang terkendali juga memberikan kepercayaan dan harapan bagi para investor. Saat ini nilai rupiah juga terlihat sangat modest dan tidak anjlok sebagaimana dikhawatirkan sebelumnya.

Tidak jauh berbeda dengan proses demokrasi yang dilakukan Indonesia, Swedia pun juga belum lama menjalani pemilu. Setelah melalui proses tiga bulan tarik-menarik di tengah kebuntuan politik, sekarang Swedia memiliki pemerintah baru. Meskipun hasil pemilu pada September 2018 telah menaikkan pamor Partai Demokratik Swedia yang beraliran ultra kanan, namun pemerintah Sosial Demokrat telah terbentuk dengan tetap mempertahankan para teknokrat dan politisi yang berpengalaman berhubungan dengan Indonesia.

Tentu kita tidak boleh menafikan kekuatan Partai Hijau yang mempunyai agenda untuk membawa lingkungan hidup dengan standard tinggi. Namun kementerian dan lembaga Swedia khususnya perdagangan, inovasi, pendidikan dan ristek serta pertahanan dan keamanan sangat erat dalam melakukan hubungan dengan mitra kerjanya, yaitu badan-badan dan lembaga Indonesia.

Terbuka Lebar

Kiranya kesempatan untuk memajukan kerja sama terbuka lebar. Karena hal ini dipandang saling menguntungkan. Isu kelapa sawit yang digembar-gemborkan para politisi Uni Eropa ternyata tidak berimbas banyak bagi Swedia, mengingat para pebisnis masih mengandalkan ampuhnya bukti ilmiah, bukan sentimen politik.

Menurut kalangan pengusaha dan akademisi Swedia, pengembangan kelapa sawit ternyata tidak akan memberikan dampak negatif kepada hutan, asal dikelola secara berkesinambungan. Studi ini yang sekarang sedang terus dikembangkan oleh Royal Institute of Technology (KTH) dengan Swedish Energy Agency. Tujuannya adalah menggunakan kelapa sawit untuk keperluan bio-diesel dalam urusan energi.

Swedish Institute telah menyatakan minatnya untuk melihat penataan hutan sawit di Kalimantan dan Sumatera pada November ini untuk melihat pengolahan sawit secara berkesinambungan. Berikutnya Swedia tentu akan sangat senang untuk membagikan resep pelestarian hutan sejak dicanangkan Forest Law 1903. Kajian dan lesson learn dari negara Nordik ini layak untuk dibicarakan dan disimulasikan.

Hal-hal ini yang kiranya menjadi isu penting untuk lebih cepat diintensifkan mengingat cakupan yang lebih dalam dan berdimensi luas.

Bagas Hapsoro Dubes Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Latvia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed