detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 10 Juni 2019, 09:50 WIB

Kolom Kang Hasan

Bekas Puasa pada Perilaku

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Bekas Puasa pada Perilaku Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Belasan tahun yang lalu, waktu kami masih tinggal di Jepang, istri saya berteman dengan seorang perempuan Kanada. Mereka berteman cukup akrab, sehingga istri saya biasa bercerita beberapa hal yang sifatnya agak pribadi. Salah satu yang ia ceritakan adalah kenaikan berat badan pasca Ramadhan. Orang Kanada tadi spontan bertanya, "Kok bisa? Kamu kan baru selesai berpuasa?"

Itu adalah pertanyaan polos orang yang bukan muslim kepada seorang muslimah. Bagi yang tidak menjalaninya, tidak pernah berinteraksi secara detail kepada orang-orang yang berpuasa, mereka mengira berpuasa itu benar-benar mengurangi makan. Padahal yang terjadi sebenarnya hanyalah memindahkan jam makan.

Ada sangat banyak orang yang justru mengalami kenaikan berat badan setelah berpuasa. Tidak usah heran. Fakta itu sejalan dengan fakta bahwa tingkat konsumsi berbagai jenis produk makanan meningkat sejak sebelum Ramadhan tiba. Alih-alih menahan nafsu makan, banyak orang justru menjadikan Ramadhan sebagai ajang kuliner malam, selama sebulan penuh.

Di bulan Ramadhan hadir berbagai jenis makanan yang tak biasa dimakan di luar Ramadhan. Kedai-kedai dadakan, penjual hidangan berbuka puasa juga bermunculan. Intinya, puasa hanyalah menghentikan makan pada siang hari. Di malam hari, orang makan seperti tanpa rem.

Pada titik itu sebenarnya kita perlu bertanya, apakah puasa yang kita lakukan itu adalah latihan untuk mengendalikan hawa nafsu, atau sekadar menahannya sesaat saja? Saya khawatir yang terjadi adalah yang terakhir itu.

Setiap tahun, usai Lebaran, saya selalu berharap ada perubahan perilaku sosial sebagai efek puasa. Asumsinya, puasa melatih orang untuk mengendalikan diri. Seperti kata para ustaz dalam berbagai ceramah selama bulan Ramadhan, terhadap yang halal saja terkendali, apalagi yang haram. Apa yang saya harapkan?

Salah satunya adalah tepat waktu. Saya meyakini tepat waktu, yaitu datang tepat waktu sesuai perjanjian, adalah ajaran Islam. Jelas sekali perintahnya dalam Al-Quran: tepatilah janjimu. Ayatnya pun tidak cuma satu. Ketika kita berjanji untuk bertemu, mau rapat, menyelenggarakan acara, semua itu adalah janji yang wajib ditepati.

Tapi apa hubungannya dengan puasa? Selama berpuasa kita sebenarnya dilatih untuk tepat waktu. Sahur dilakukan pada waktu tertentu, ada batas waktunya. Kalau batas itu dilewati, puasa tidak sah. Demikian pula dengan berbuka, tidak boleh berbuka sebelum waktu yang ditentukan.

Orang dilatih selama sebulan penuh untuk tidak makan setelah azan subuh mulai berkumandang, tidak sah puasanya bila makan melewati waktu tadi, meski hanya dua tiga detik. Ironisnya, perilaku ini tidak memberi efek pada aspek kehidupan lain. Saat berjanji untuk bertemu, terlambat 15-20 menit dianggap hal yang lumrah. Demikian pula saat orang berjanji untuk rapat, atau menyelenggarakan acara. Dosen-dosen memberi kuliah molor dari jadwal 15 menit, itu pun dianggap waktu toleransi.

Begitu pentingkah untuk tepat waktu sampai detail seperti itu? Dalam manajemen modern hal itu sangat penting. Produktivitas bisnis maupun layanan pemerintah ditentukan dari ketepatan waktu dalam penyelenggaraan berbagai urusan. Molor berarti tambahan biaya. Perusahaan penyedia jasa seperti kereta api, penerbangan, pengiriman barang, semua mementingkan ketepatan waktu sampai ke hitungan menit, bahkan detik. Dengan cara itulah mereka memastikan perolehan laba.

Toyota malah menjadikan ketepatan waktu sebagai andalan dalam sistem manajemennya. Dengan sistem produksi Just In Time, perusahaan ini sanggup melakukan efisiensi yang luar biasa, membuatnya sulit disaingi oleh perusahaan otomotif mana pun di seluruh dunia. Masihkah kita mau mempertanyakan soal pentingnya tepat waktu sampai detail itu?

Puasa mengajarkan juga kepada kita untuk sabar dan berbagi, serta tidak merampas hak orang lain. Di jalan raya prinsip itu seharusnya terlihat. Jalan raya adalah tempat berbagi yang paling nyata, yaitu berbagi jalan. Unik memang, karena di jalan kita tidak berbagi sesuatu yang menjadi milik kita. Ini milik bersama. Kalau selama puasa kita bisa berbagi sesuatu yang merupakan milik kita, seharusnya tak sulit untuk berbagi sesuatu yang memang bukan milik kita, bukan?

Kenyataannya berbeda. Di jalan raya, orang berperilaku seakan jalan itu milik dia, warisan dari nenek moyangnya. Ia ingin segala prioritas untuk dirinya. Orang lain harus di belakang. Ia tak hendak berbagi sejengkal pun. Lebih parah lagi, ia tak segan merampas hak orang lain. Ia menyerobot antrean, memepet kendaraan orang, adu nyali, memaksa orang memberi jalan atau menyingkir.

Di jalan sering kita saksikan orang tak sabar dan tak terkendali. Hanya sekadar menunggu 5-10 menit tak mau. Begitu ada celah, langsung diserobot. Jalan dua jalur dipaksa menjadi 3 jalur, lalu nanti saat harus kembali ke dua jalur, terjadi lagi pemaksaan, saling sodok dan saling serobot.

Dari hal-hal seperti itu tak tampak bekas bahwa kita semua telah berpuasa. Tak tampak bekas bahwa kita semua ini sudah berlatih untuk menjadi lebih baik. Kita adalah sosok-sosok yang sama, sebelum, selama, dan sesudah puasa. Puasa tak mengubah perilaku kita. Puasa tak meninggalkan bekas pada perilaku. Sayang sekali.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed