detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 07 Juni 2019, 11:18 WIB

Kolom

Lebaran dan Pintu-Pintu Persaudaraan

Martinus Joko Lelono - detikNews
Lebaran dan Pintu-Pintu Persaudaraan Pengunjung padati Ragunan di Hari Lebaran (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta -
Meski saya adalah seorang Katolik, saya selalu menunggu-nunggu momen Lebaran. Bahkan dulu ketika saya masih kecil saya akan menjadi "anak yang kaya" karena banyak anggota keluarga, entah itu Muslim ataupun tidak, akan memberikan uang kepada saya. Saya tidak pernah menyadari bahwa Lebaran adalah hari raya agama Islam sampai suatu hari guru saya mengatakan bahwa Idul Fitri atau yang dikenal sebagai Lebaran adalah hari raya agama Islam. Waktu itu, saya lebih mengenalnya sebagai "hari dolan nasional", kesempatan untuk mendapatkan uang dan makan dengan gratis sambil bertemu dengan keluarga besar. Mungkin ini karena bagi banyak warga di negeri ini Lebaran adalah perayaan untuk semua.

Kini, ketika saya besar, saya mengenal lebih baik apa artinya Lebaran. Namun, saya masih menolak untuk menghilangkan imaginasi masa kecil saya tentang Lebaran. Kisah tentang perjumpaan dalam suasana yang menyenangkan itu tidak pernah boleh hilang dari diri saya. Lebaran adalah saat ketika ada persaudaraan, makan bersama, berbagi dengan yang lain dan yang jelas memulai lagi semuanya dari nol. Di samping konteks ibadahnya, Lebaran membuka pintu-pintu persaudaraan yang amat sayang kalau hanya dirayakan oleh saudara-saudari Muslim saja. Seperti imaginasi masa kecil saya, Lebaran adalah perayaan bersama yang seperti kita tahu menjadi sarana untuk bersilaturahmi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata silaturahmi diartikan sebagai "tali persahabatan (persaudaraan)" sehingga kata bersilaturahmi berarti mengikat tali persahabatan (persaudaraan). Inilah alasan mengapa banyak orang berbondong-bondong pulang kampung. Bersilaturahmi menjadi jalan untuk terus menyatukan persahabatan dan persaudaraan satu dengan yang lain. Apakah silaturahmi ini mengenal batas agama? Rasanya tidak. Teramat sayang kalau semua hal harus diukur dari perbedaan agama.

Keluarga saya dan mungkin juga keluarga Anda terdiri dari berbagai agama, tetapi apakah perbedaan itu harus memisahkan satu dengan yang lain? Tentu saja tidak. Lebaran menjadi kesempatan bersilaturahmi. Dalam bahasa Rudolf Otto, seorang ahli agama, di dunia ini dikenal istilah "waktu khusus dan tempat khusus" yang menunjuk pada peristiwa tertentu yang memiliki nilai kekudusan. Dalam konteks silaturahmi, kita tidak membiarkan hal lain mengganggu waktu khusus dan tempat khusus yang kita sediakan untuk kembali mengikat persaudaraan dan persahabatan. Momen ini disebut sebagai momen yang mengikat kembali satu dengan yang lain.

Maka, benar ungkapan dalam bahasa Indonesia yang mengatakan, "Mulai lagi dari nol." Sejauh saya tahu dalam tradisi silaturahmi ini ada kesalahan yang dimaafkan, ada doa yang dipanjatkan dan ada harapan yang diungkapkan. Di sinilah orang mulai merasakan maknanya mengikat persaudaraan.

Di tengah masyarakat yang penuh dengan persaingan, Lebaran menjadi momen yang penting bagi bangsa ini. Orang diajak introspeksi diri, menyadari arti penting kehadiran orang lain di dalam kehidupan kita. Semangat zaman yang mengutamakan "kumpul tidak kumpul asal makan" (bahkan dengan makan teman atau saudara) bisa diredam dengan mengingat kembali filosofi lama "makan tidak makan asal kumpul." Lebaran, bagaimanapun mengingatkan kita bahwa kita tidak hidup sendiri-sendiri, tetapi kita memerlukan orang lain dan diperlukan oleh orang lain.

Dari kedalaman hati saya, saya bersyukur karena di negeri ini ada hari Lebaran yang menjadi hari persaudaraan dan persahabatan. Tidak bisa dipungkiri ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk menjaga kesatuan negeri ini. Di balik berbagai kejadian yang sudah, sedang, dan akan terjadi di negeri ini, bangsa kita selalu memiliki sarana untuk membangun persaudaraan. Selamat berlebaran! Mohon sampaikan salam persaudaraan saya kepada orang-orang terdekat Anda.

Martinus Joko Lelono pastor Katolik di Yogyakarta, mahasiswa Indonesian Consortium for Religious Studies, UGM Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed