detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 04 Juni 2019, 16:08 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Lebaran dan Pulihnya Kemanusiaan Kita

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Lebaran dan Pulihnya Kemanusiaan Kita Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Apa itu kemanusiaan? Saya melihat banyak orang melupakan kata dasarnya.

Saking seringnya kita mendengar istilah "aksi kemanusiaan", misalnya, maka kata "kemanusiaan" pun sering dipahami secara sepintas lalu sebatas dalam wujud bantuan-bantuan sosial, tanggap bencana, pengobatan gratis, hingga donor darah. Kita lupa bahwa dalam kata "kemanusiaan" ada "manusia", hal tentang (bagaimana menjadi) manusia.

Maka, alangkah luasnya makna kemanusiaan. Sebab apa pun yang bisa membuat kita meneguhkan karakter sebagai manusia adalah kemanusiaan.

Kita turut berbahagia melihat seorang sahabat yang sedang berbahagia, maka kita sedang menjadi manusia. Dan, itulah wujud kemanusiaan.

Ketika kita "bukber" dan berkumpul bersama kawan-kawan lama, lalu ngakak-ngakak bersama untuk menertawakan setumpuk khazanah kekonyolan masa lalu, itu pun satu mekanisme agar kita mengutuhkan diri sebagai sebenar-benar manusia. Itulah wujud kemanusiaan.

Ketika hati kita perih melihat tetangga tidak mampu membelikan baju baru untuk anak mereka yang merengek-rengek, sementara kita sendiri tidak memiliki kelonggaran untuk membantu dia, rasa sedih itu sendiri pun sudah menjadi bukti bahwa kita masih manusia. Itulah kemanusiaan.

Tak terkecuali dengan segenap tontonan massal kita di layar televisi, juga di layar telepon genggam.

Ketika kita melihat wajah Bu Ani yang memucat waktu sakit berat, kita tidak sedang melihat seorang istri mantan presiden. Kita melihat manusia. Dan, itulah kemanusiaan.

Ketika kita melihat Pak Joko Widodo menggendong sambil melekatkan tatapan hangat ke wajah cucunya, kita tidak sedang melihat Presiden Indonesia yang dipuja jutaan pendukungnya sekaligus dibenci setengah mati oleh jutaan orang lainnya. Kita melihat seorang kakek. Kita melihat seorang manusia. Dan, itulah kemanusiaan.

Ketika kita melihat foto Ustaz Tengku dengan setia mendorong kursi roda tempat duduk istrinya, kita tidak sedang melihat salah satu tokoh 212 yang twit-twitnya sering sekali terasa provokatif dan memanaskan hati massa. Tidak. Kita sedang melihat seorang suami yang sangat baik kepada istri. Kita melihat manusia. Dan, itulah kemanusiaan.

Ketika kita ikut gemas dan terharu melihat Pak Haikal Hassan menciumi pipi anaknya yang chubby itu, kita tidak sedang melihat seorang propagandis paling aktif tagar "2019GantiPresiden". Kita melihat seorang ayah. Kita melihat manusia. Dan, itulah kemanusiaan.

Ketika kita melihat wajah Susilo Bambang Yudhoyono yang menangis pedih, amat pedih karena ditinggal pergi istri terkasihnya, kita tidak sedang melihat seorang politisi dan mantan presiden yang entah kenapa sesekali masih suka melontarkan celetukan yang membingungkan rakyat Indonesia. Kita sedang melihat manusia. Dan, itulah kemanusiaan.

Ketika kita melihat sesosok jenazah terbujur dan ditangisi oleh orang-orang terdekatnya, juga oleh jutaan orang yang bersimpati pada semangat dan daya tahannya, tentu saja yang sedang kita lihat adalah manusia.

Dan, kematian adalah kisah pamungkasnya sebagai seorang manusia. Ya, sebagai manusia. Bukan sebagai warga negara yang punya nomor KTP, yang punya legalitas administratif di bawah Disdukcapil, apalagi yang punya hak pilih dan hak-hak politik lainnya. Persetan dengan fungsi-fungsi teknis wadag seperti itu, di saat apa yang sedang kita hayati adalah keutuhan sisi kita sebagai manusia.

Maka, saat kemarin seorang pengucap duka cita malah sibuk menekan-nekankan pilihan politik Bu Ani, itu membuat kita bertanya-tanya: "Sesempit itukah kemanusiaan di dalam diri kita?"

Bu Ani sudah melepaskan tugas-tugas keduniaannya. Ia menanggalkan segenap predikat formalnya, segenap beban administratifnya, segenap tempelan-tempelan produk kesepakatan sosial yang pernah terpajang di dadanya. Momen kematian membawa seorang manusia tiba di puncak kesuciannya sebagai manusia. Sebab hanya kematianlah yang membuat manusia tak lagi membawa pamrih apa-apa, tak lagi mengusung orientasi profan apa-apa, selain menyerah pasrah menghadap Sang Pemberi Kemanusiaan semata.

Maka, memang kurang elok membahas-bahas dan mengkapitalisasi pilihan politik seseorang, pada saat bahkan tanah makam orang itu belum kering jua.

Pilihan politik adalah coblosan di kertas surat suara. Coblosan itu menjadi penyumbang angka. Ya, pilihan politik adalah sekadar sumbangan angka. Membicarakan seorang manusia yang sudah kembali sempurna ke dalam kemanusiaannya hanya dalam batas-batas urusan angka, rasanya memang tidak sepatutnya.

Ini bukan cuma tentang Bu Ani. Ini juga tentang Ustaz Arifin Ilham, tentang ratusan anggota KPPS yang meninggal kelelahan karena pemilu serentak, bahkan tentang mereka yang tumbang tertembus peluru tajam saat kerusuhan tempo hari, entah dari senapan milik siapa.

Mereka manusia. Mereka berhak dimanusiakan dalam upaya kita untuk meneguhkan kemanusiaan kita sendiri. Mereka bukan cuma angka-angka, bukan cuma data, bukan cuma pilihan politik, bukan cuma deretan grafik dan statistik.

Esok pagi Lebaran akan tiba. Lebaran memang bukan kematian. Tapi dalam momen Lebaran pula, kita bersama-sama menanggalkan segenap predikat sosial yang tidak ada urusannya dengan kedirian kita sebagai manusia. Kita mudik, kita saling berjabat tangan, berkumpul bersama keluarga dan handai taulan, bukan sebagai orang yang menjalankan peran politik ataupun tugas publik ini dan itu.

Kita akan datang dalam kapasitas dan fungsi kita sebagai manusia. Lebaran memang seharusnya mengembalikan kemanusiaan kita, mencampakkan hal-hal yang tidak relevan di luar iktikad kita untuk mengutuhkan diri sebagai sebenar-benar manusia.

Selamat berlebaran. Mari memulihkan kemanusiaan kita.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed