detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 04 Juni 2019, 13:07 WIB

Kolom

"Mudik" ke Penganan Tradisional

Yohanes Bara` - detikNews
Mudik ke Penganan Tradisional Clorot, makanan khas Purworejo Jawa Tengah (Foto: Rinto Heksantoro)
Jakarta -

Penghuni Atlantis mengalami pencemaran dan wabah hebat akibat penambangan minyak, sampah plastik, dan sisa-sisa kapal-kapal yang tenggelam. Habis sudah kesabaran Ocean Master. Semua sampah dan bangkai kapal dikembalikan ke darat. Mengerikan! Seperti menyimpan semua sampah di dalam kamar, setelah 50 tahun sampah itu tak berkurang. Karena tak melihat sampah, seolah-olah sampah itu tak ada, padahal ia abadi entah di mana. Sehingga, adegan film Aquaman (2018) tampaknya perlu sungguh-sungguh dialami. Supaya, tak remeh pada sampah.

Kebanyakan sampah itu mulanya dari kemasan pangan yang berbahan kertas, plastik, aluminium foil, styrofoam, kaleng, atau kaca. Alasan utama penggunaan kemasan pangan tak ramah lingkungan itu karena kepraktisan, ketersediaan bahan kemasan alami yang semakin sulit, juga desain kemasan yang berkembang (Listia Natadjaja dan Elisabeth Christine Yuwono, Kearifan Lokal Kemasan Penganan Tradisional, 2017).

Kemasan tak lagi urusan melindungi barang dagangan seperti artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988). Kemasan telah menjadi industri terpisah dari produk dagangannya, isi dalam kemasan. Kemasan diproduksi melalui proses panjang desain komunikasi visual yang kadang dikaitkan dengan ketokohan action figure terkini, film, fesyen, bahkan tren. Sehingga melalui kemasan snack saja, anak-anak bisa mengetahui mainan, film, atau action figure apa yang lagi tren.

Di Yogyakarta, ada dua contoh berbeda kutub soal kemasan. Bakpia, penganan asal China yang aslinya disebut Tau Lok Pia, diproduksi di kampung Pathuk tahun 1948 hanya berkemasan besek tanpa label. Ketika penganan khas itu semakin diminati sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta sekitar tahun 1990 baru dikemas dengan label yang hanya bertuliskan nomor rumah produksinya (bakpia25.com).

Kini bakpia tak cuma berisi kacang hijau. Misal, Bakpia Kenes Kunokini menawarkan isian coklat, keju, susu, green tea, biskuit, tiramisu, red velvet, teh tarik, taro, dan oreo. Tapi tentu tak dalam kemasan besek atau kertas seperti umumnya. Bakpia Kenes menawarkan sepaket rasa campur, dijajarkannya pada kemasan kertas karton keras dan bertulis rasanya di bagian luar kemasan, lalu dikemas lagi ke dalam karton lebih besar, bentuknya jadi seperti laci mungil atau wadah perkakas kecil. Keren bukan?

Tak jauh dari pusat bakpia itu, ada pedagang gudeg legendaris bernama Mbah Lindhu (97) yang telah puluhan tahun berdagang. Sejak diberitakan di harian Kompas dan media-media daring, gudeg Mbah Lindhu semakin laris saja. Wisatawan perlu antre untuk menikmati sepincuk gudeg Mbah Lindhu. Penyajiannya tak neko-neko atau melalui kerja kreatif desain komunikasi visual. Semua disajikan dengan daun atau selembar kertas nasi. Dengan tangan keriputnya itu, Mbah Lindhu mencomoti lauk, menyuiri ayam, tetapi tetap saja laris menjadi penjual gudeg paling laris di kawasan wisata Malioboro.

Keduanya sebagai bukti perkembangan desain kemasan yang kian maju demi pasar, namun sekaligus membuktikan kemasan tak penting-penting amat. Penggunaan bahan alam untuk kemasan juga masih dipakai untuk pudak Gresik, penganan berbahan sagu itu dikemas dengan pelepah daun pinang. Di Gresik juga ada jenang jubung, sesuai namanya penganan berbahan ketan, gula, dan santan ini dibungkus jubung alias kulit pohon pinang. Pelepah daun pinang dipilih karena teksturnya yang berpori, tak bisa diganti daun pisang atau plastik. Karena, pudak yang baru matang butuh pori untuk uap panasnya yang akan menjadi basah dan cepat basi jika diganti plastik.

Di daerah Gresik, Tuban, dan Lamongan juga ada minuman khas bernama legen dan tuak. Di sana, minuman ini menjadi konsumsi sehari-hari. Legen asli rasanya manis tidak ada kecutnya, sedangkan tuak asli berasa manis agak asam, segar, dan seperti bersoda (Listia Natadjaja dan Elisabeth Christine Yuwono, 2017). Dari asal katanya, legen berarti kelegen (terlalu manis) dan tuak diartikan sebagai noto awak (mengatur tubuh).

Dulu, tuak dan legen disajikan pedagang keliling dengan memikul ongklek, alat pikul yang di kedua sisinya digantungi bambu sepanjang setengah meteran yang sudah lubang ruasnya sebagai wadah utama tuak dan legen, minumnya pakai bambu yang dipotong seukuran gelas. Legen dan tuak sekarang dikemas dengan botol plastik bekas air minum dalam kemasan. Menurut penikmat tuak dan legen, kemasan plastik ini membuat minuman itu terpapar matahari langsung yang membuat rasanya tidak senikmat dengan wadah bambu.

Daun pisang, pelepah pinang, daun-daunan, atau bambu digunakan bukan karena keterbatasan kemasan kala lalu. Pilihan itu melalui proses pembelajaran leluhur yang mengamati tekstur, aroma, warna, dan efek terhadap keawetan penganan tanpa bahan pengawet. Namun karena keterbatasan bahan-bahan alami itu, industri penganan mulai mengemas dengan plastik dan karton. Isi penganan dan kemasan pun tak imbang, kemasan dibuat besar sedangkan isinya hanya sedikit.

Kemasan yang semakin heboh akhirnya membuat pembeli, khususnya anak-anak tak lagi mempertimbangkan isi. Jika Anda pernah mengajak anak-anak ke toko modern, biasanya ia akan merengek minta dibelikan coklat seukuran kelereng dikemas wadah unik berbentuk telur yang dipajang dekat kasir, dengan hadiah-hadiah terbarunya. Ia tak beli isi, ia beli wadah dan hadiahnya. Demikian juga snack bergambar kartun-kartun terbaru, dibeli karena gambarnya bagus, bukan karena isinya sehat atau perlu dikonsumsi.

Snack, makanan cepat saji, minum-minuman, dikemas dengan sangat apik, bahkan warna dan bentuknya dibuat semenarik mungkin untuk membuat kemecer hanya dengan melihat gambarnya di banner pinggir jalan, sehalaman koran, iklan pop up, hingga Go Food dan Grab Food dalam genggaman. Semua itu dengan satu tujuan --beli dan makanlah. Mengapa orang menjadi rakus melahap makanan tinggi kalori dan minuman bergula, padahal jelas tak menyehatkan? Masyarakat makmur mengalami obesitas, sedang di pinggiran negerinya ada yang mengalami stunting, dua masalah yang disebabkan kelebihan pangan dan kekurangan pangan.

Dalam buku Sapiens: Riwayat Singkat Manusia (2019) yang ditulis Yuval Noah Harari, DNA manusia modern masih sama dengan leluhur pemburu-pengumpul dari 30.000 tahun silam. Ketika menemukan pohon buah, manusia zaman itu harus makan sebanyak mungkin yang ia bisa sebelum segerombolan monyet datang melahap tanpa sisa. Itulah mengapa meski berada pada dunia berlimpah pangan, insting manusia zaman ini adalah makan sebanyak mungkin.

Kegilaan pangan akhirnya tak hanya menimbulkan masalah lingkungan, budaya, tetapi juga kesehatan. Kegentingan gangguan kesehatan karena banyak, kekurangan, dan/atau salah makan ditunjukkan oleh penelitian Pusat Studi Regional Pangan dan Gizi Asia Tenggara ( SEAMEO RECFON) bahwa jumlah penderita tengkes (stunting) di Indonesia terbanyak kedua setelah Timor Leste di Asia Tenggara (Kompas, 27/5/2019).

Tengkes tak melulu karena minimnya pangan di lingkungannya, tetapi ketidaktahuan orangtua akan kebutuhan gizi anak, sampai-sampai pemerintah mesti membuat program literasi pangan. Pemerintah melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Sosial, serta Kementerian Kesehatan. Salah satu literasi pangan yang dibuat adalah menu bekal siswa PAUD (pendidikan anak usia dini) yang sudah ditentukan oleh sekolah. Misalnya di PAUD Wangi Melati di Batang, Jawa Tengah warga desa itu kebanyakan petani, tetapi anak-anak mereka tak mengonsumsi sayuran, buah, dan makanan berkarbohidrat.

Anak-anak lebih suka makan makanan dalam kemasan, soda, dan sirup. Bahkan, anak-anak itu menangis dan mogok makan saat isi bekalnya tak ada mie instan dan keripik. Ironisnya, orangtua tak menganggap ini sebagai masalah karena postur tubuh anak mereka gemuk.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah, promo-promo produk makanan semakin gila-gilaan. Berhalaman-halaman koran lokal dan nasional penuh dengan promosi produk makanan, juga di media online sampai papan iklan berukuran raksasa di pusat-pusat keramaian.

Dulu, sekaleng Khong Guan bagaikan "surga makanan" bagi anak-anak. Ia belum beranjak jika belum menikmati semua jenisnya. Karena harganya yang belum terjangkau, sekaleng Khong Guan menjadi sebuah tanda status sosial pemilik rumah. Hal ini juga yang membuat tetamu memicingkan mata memastikan isinya biskuit atau rengginan.

Anak-anak juga senang sekali menggenggam penuh kacang telur lalu berlarian di halaman bersama saudara seusia. Seorang nenek atau ibu tak jemu-jemu mengulang-ulang cerita pada setiap tamu tentang cara ia membuat lemper, madumongso, lempeng, tape ketan dan singkong, dan camilan buatan sendiri lainnya.

Mudik Lebaran menjadi momentum bersilahturahmi dengan keluarga dan kerabat. Mudik juga berarti melepas rindu pada penganan tradisional yang tak berkemasan menarik dan berisi sedikit. Rindu membuka tape ketan buatan ibu yang hanya dikemas daun pisang tetangga, bukan snack berkemas warna-warni yang sedikit isi. Lebaran, semua orang rindu pada isi dan kembali menikmati isi, tak lagi pada kemasan dan penampilan belaka.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed