detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 04 Juni 2019, 11:10 WIB

Kolom

Meditasi untuk Penderita Kanker

M. Jojo Rahardjo - detikNews
Meditasi untuk Penderita Kanker Foto: thinkstock
Jakarta -

Menurut Riset Kesehatan Dasar jumlah penderita kanker bertambah menjadi 1,79 tiap 1.000 orang pada 2018. Sebelumnya pada 2013 hanya 1,4.

Laki-laki lebih banyak terkena kanker paru, yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk. Kemudian diikuti dengan kanker hati sebesar 12,4 per 100.000 penduduk. Sedangkan perempuan adalah kanker payudara yakni 42,1 per 100.000 penduduk dan kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk.

Dua tokoh Indonesia baru saja meninggal karena kanker dalam waktu yang berdekatan. Yang pertama Ustad Arifin Ilham yang berpulang di Penang, Malaysia pada Rabu (22/5). Ustad Arifin memiliki riwayat kanker darah dan nasofaring. Kemudian yang kedua mantan ibu negara Ani Yudhoyono yang wafat pada Minggu (1/6/) di Singapura karena kanker darah.

Mereka yang sedang menderita kanker merasakan beberapa penderitaan seperti rasa sakit, rasa lelah atau tak bertenaga, gangguan tidur, mual, dan lain-lain. Mereka juga dibebani emosi negatif seperti rasa cemas, stres, marah, dan lain-lain.

Semua yang dialami oleh penderita kanker bisa diringankan dengan meditasi, karena meditasi menghasilkan perasaan nyaman (tenang, damai, dan ringan, atau kalem). Meditasi juga menurunkan kecemasan dan stres. Bahkan meditasi mengurangi rasa sakit, dan menghasilkan rasa bertenaga (tubuh terasa ringan).

Butuh sedikit waktu dan upaya yang giat untuk merasakan manfaat meditasi. Mungkin pada saat awal ada yang merasa lebih stres saat menyadari betapa sibuk pikiran kita setiap saat. Lebih stres lagi karena kita merasa tak bisa membuat pikiran kita lebih kalem. Namun jika terus berusaha melakukan meditasi, nanti akan datang saat kita merasa lebih nyaman saat meditasi dibanding tak meditasi. Itu artinya efek meditasi sudah mulai membuahkan hasil.

Kunci keberhasilan meditasi adalah mempraktikkannya secara teratur. Semakin sering mempraktikkannya semakin baik. Bangun tidur, silakan meditasi, hendak tidur, silakan meditasi. Terbangun dari tidur, silakan meditasi. Saat tak melakukan apa-apa, silakan meditasi. Saat merasa resah atau cemas, silakan meditasi. Sedang ingin berpikir keras atau memecahkan sesuatu, silakan meditasi. Sedang senang, silakan meditasi. Dan seterusnya.

Apa Itu Meditasi?

Praktik meditasi sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu di berbagai tempat dan berbagai kebudayaan di seluruh dunia. Masih misteri siapa yang pertama kali mengajarkan meditasi di permukaan bumi ini.

Mereka yang melakukan meditasi lebih banyak karena alasan untuk membuat jiwa lebih tenang, kalem atau rileks, juga untuk menjaga kesehatan. Ada juga yang menginginkan lebih memiliki kedamaian bersama orang lain.

Berbagai riset neuroscience sepanjang dua dekade terakhir menunjukkan meditasi juga dapat membuat pikiran menjadi lebih tajam, kemampuan menyimpan dan mengambil memori menjadi lebih baik. Tak ketinggalan mereka yang melakukan meditasi lebih cenderung pada perdamaian.

Meditasi memang dipraktikkan oleh beberapa agama, namun meditasi yang didefinisikan oleh neuroscience bukan praktik keagamaan.

Neuroscience bahkan bisa menjelaskan apa yang terjadi di otak saat orang melakukan meditasi. Berkat berbagai penelitian neuroscience semua orang bisa melakukan meditasi kapan saja dan di mana saja.

Ada banyak macam meditasi. Kebanyakan adalah melakukan diam tak bergerak dan tak bersuara. Tapi ada juga yang dilakukan dengan gerakan, seperti Tai Chi dan Chi Gong.

Meditasi kadang disebut mengosongkan atau menghentikan pikiran. Namun neuroscience mendefinisikan meditasi adalah kegiatan untuk menyadari apa yang sedang dikerjakan oleh pikiran kita atau mengamati pikiran kita sedang sibuk dengan apa (memikirkan apa).

Neuroscience telah menganjurkan cara meditasi yang paling efektif, yaitu hanya dengan memperhatikan tarikan napas masuk dan keluar. Kegiatan itu membuat pikiran menjadi lebih tenang (tidak sibuk dengan hal-hal lain yang beraneka).

Meski hanya sesederhana itu, namun Anda dapat mengharap hasil yang besar. Meditasi memang belum dinyatakan secara tegas bisa menyembuhkan mereka yang menderita kanker. Namun meditasi menghasilkan perasaan nyaman (tenang, damai, dan ringan, atau kalem). Meditasi menurunkan kecemasan dan stres. Bahkan meditasi mengurangi rasa sakit, dan menghasilkan rasa bertenaga (tubuh terasa ringan). Tentu itu semua amat dibutuhkan oleh mereka yang sedang menderita kanker.




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed