detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 03 Juni 2019, 14:50 WIB

Kolom

Ibu Ani di Labuan Bajo

Ingat Marun - detikNews
Ibu Ani di Labuan Bajo Foto: AFP
Jakarta -

Bulan September tahun 2013, sekitar tiga puluhan pegiat seni muda dari Ruteng, Flores - NTT tampil di Pantai Pede, Labuan Bajo. Tempat itu telah disulap menjadi panggung pertunjukan yang menyenangkan dan akrab. Penonton duduk menghadap laut dan para penampil bermain di pinggir pantai.

Kelak, para pegiat seni muda dari Ruteng itu bergabung di bawah satu payung bernama Komunitas Saeh Go Lino. Hingga kini, kami tetap berkumpul, sesekali merancang dan melaksanakan agenda kesenian, dan tetap mengenang penampilan di pantai itu sebagai salah satu bagian yang penting dari (sebut saja) perjalanan berkesenian masing-masing anggotanya.

Agenda internasional bernama Sail Komodo 2013 dibuka secara resmi pada 14 September 2013. Presiden SBY hadir. Bersama Ibu Ani Yudhoyono. Saat itulah kami tampil. Di hadapan mereka berdua dan tamu-tamu kehormatan lainnya. Di pantai. Memainkan opera berjudul Ora, The Living Legend yang naskahnya ditulis oleh musisi Ivan Nestorman. Ivan dan timnya, NTT Tropical Choir plus Gilang Ramadhan menjadi penampil puncak, dan kami adalah bagian dari mereka.

Ada banyak seniman yang terlibat pada pekan puncak event besar itu. Di beberapa panggung lain, pentas seni budaya digelar, para seniman dari berbagai daerah di NTT hadir di Labuan Bajo. Yang main di acara puncak tidak banyak. Demikianlah, peristiwa itu menjadi seperti penting untuk selalu dikenang.

Tampil di hadapan presiden, dalam jarak yang sangat dekat, sekitar tujuh meter saja, pada panggung datar--penonton dan penampil sama tingginya--seperti pembangkit semangat. Alhasil, pementasan opera itu berlangsung sangat baik.

Ibu Ani sedang sangat menggemari fotografi kala itu. Duduk di samping suaminya tercinta, sesekali mengarahkan kameranya ke panggung, merekam aksi Adeng, Celly, Mozakk, Celestin, Febry, Eltin, Rinny, Ujack, Nandes, Mundoza, Pendok, dan yang lainnya.

Usai penampilan, setelah selesai berpelukan dan beberapa orang meneteskan air mata haru atas suksesnya penampilan itu, kami berbagi cerita. Kamera Ibu Ani menjadi salah satu topik menarik. Bukan tentang jenisnya, tetapi tentang 'kita punya muka ada di Ibu Ani punya kartu memori'. Entah bagaimana itu menjadi menyenangkan, tetapi itu memang menyenangkan.

Pada 2013, di Ruteng dan sekitarnya Instagram belum sepopuler sekarang. Belum ada anggota komunitas kami yang memilikinya, tetapi Ibu Ani sudah punya follower yang sangat banyak. Lebih dari 90 ribu akun sudah mengikuti IG @aniyudhoyono saat itu. Maka (meski tak punya akun tetapi kami tahu belaka tentang Instagram itu) kami membayangkan bahwa foto-foto kami akan bisa dilihat oleh puluhan ribu orang. Mungkin itu adalah alasan mengapa kami senang. Bisa juga alasan lainnya; tak banyak orang yang fotonya ada di istana negara--meski bukan untuk dipajang tetapi ada di sana.

Saya sendiri sempat berpikir bahwa foto-foto penampilan kami di Pantai Pede itu akan jadi perbincangan. Seperti foto karya Ibu Ani yang diunggah kurang lebih dua pekan sebelumnya. Di foto itu, cucu Ibu Ani, Alimara Tunggadewi, yang akrab dipanggil Aira berpose di teras Istana Merdeka dengan latar belakang Monumen Nasional dan ondel-ondel saat pelaksanaan Kirab Budaya HUT ke-68 RI.

Kala itu, warganet mempertanyakan keaslian foto. Aira, di foto itu, dinilai para netizen, terlihat seperti diambil dari foto lain dan digabungkan dengan gambar latar. Ibu Ani menjawab tudingan bahwa dirinya telah melakukan olah digital atas foto itu. Ada tujuh jawaban yang disampaikan di akun Instagram-nya. Antara lain, Saya bukan fotografer profesional, teknik saya memotret biasa-biasa saja. Saya tidak pernah merasa sekelas Natgeo. Dan, Saya aktif di IG sekedar untuk sharing foto karena mungkin banyak moment baik yang belum tentu dipunyai orang lain.

Rasanya, bukan hanya sekali-dua Ibu Ani harus berhadapan dengan warganet. Sebagai Ibu Negara, bahkan setelah Susilo Bambang Yudhoyono tak lagi jadi presiden, Ibu Ani kerap dirisak. Ketika AHY memutuskan melepas baju tentara dan terjun ke kancah politik, Ibu Ani juga mengalami situasi serupa. Itu di Twitter. Bulan Juni tahun 2018. Kala itu, beberapa warganet menyayangkan keputusan AHY (atau keluarga yang mendorong?) maju ke pentas Pilkada DKI. Mereka berharap AHY tetap jadi tentara.

Ibu Ani menjawab: "Lho koq sampeyan yg ngatur?" seraya me-mention akun yang mengkritik AHY. Meski demikian, Ibu Ani juga membalas dengan nada positif: "Ya terima kasih sarannya, tapi keputusan sudah diambil. Mari kita hormati keputusan AHY."

Ibu Ani, saya pikir, bagi SBY, anak-anaknya, dan cucu-cucunya, adalah perempuan yang lengkap. Bagi kita juga, saya pikir. Dia hadir di hadapan publik dengan segala keterusterangan, berani berhadapan dengan "amuk warga", mendukung pilihan anak-anaknya, menyayangi cucu-cucunya, bertahan di sisi suaminya--setia sampai mati.

Ketika menulis catatan ini, saya ingat lagi kekesalan saya beberapa waktu lalu. Pada seorang warga Twitter yang menuduh bahwa Ibu Ani berpura-pura sakit. Saya terpaksa mengingatnya kembali, dengan kesal dan sedih, bahwa seorang ibu yang telah banyak mengalami masa-masa sulit (kalau kita sepakat bahwa tidak pernah mudah menjadi istri seorang presiden), tetap harus mengalaminya sampai menjelang kematian.

Ketika mengetahui kabar kematian Ibu Ani, saya justru mengenangnya untuk tiga hal: Pertama, foto-foto kami dalam kameranya. Kedua, Ibu Ani mengenakan pakaian bermotif songke Manggarai ketika, untuk pertama kalinya saya melihatnya secara langsung, dia hadir pada perayaan Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai di Ruteng. Ibu Ani cantik sekali pada hari itu, 19 Oktober 2012. Ketiga, salah seorang yang turut berperan dalam perjalanan bangsa ini telah kembali ke keabadian. Bagian kecil mana dari sekian besar peran Ibu Ani untuk bangsa ini yang dapat kita teruskan?

Selamat jalan, Ibu Ani Yudhoyono! Beristirahatlah dengan tenang. Terima kasih telah membuat kami merasa begitu berharga, boleh tampil dan melihat senyummu yang ramah itu di Pantai Pede, Labuan Bajo. Dan, biarkan kami mengenangmu sebagai perempuan yang telah lengkap; menyelesaikan tugasmu di bumi dengan segala keterusterangan.




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed