detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 02 Juni 2019, 16:08 WIB

Jeda

Masak, Makan, Mudik

Mumu Aloha - detikNews
Masak, Makan, Mudik Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Tangis Kai (29 tahun) meledak begitu juri mengumumkan bahwa dirinya lolos menjadi tiga besar peserta Master Chef Indonesia yang akan bertahan ke babak berikutnya. Kamera kemudian menyorot wajah Fita (29) yang namanya disebutkan oleh juri bahwa dirinya yang harus pulang. Ibu dari dua orang anak itu tampak tegar, berusaha tersenyum menerima kekalahannya walaupun tetap tak mampu membendung air mata yang sebelumnya sudah menitik di pipi. Dua peserta lain, yang telah dinyatakan aman dan berdiri agak jauh dari mereka, segera menghambur dan memeluk Kai dan Fita. Chef Juna dan dua juri lainnya berdiri di seberang meja, menyaksikan adegan berurai air mata itu. Keharuan membayang di wajah mereka.

Ketegangan yang sebelumnya menyelimuti empat peserta itu berakhir sudah. Berganti kelegaan, dan air mata bahagia, juga rasa kecewa. Untuk beberapa lama, Kai masih terus sesenggukan, dan bahkan isak tangisnya makin tak tertahan. Sementara Fita berkali-kali berusaha mengusap air matanya, dan menata perasaannya untuk menerima apa yang terjadi. Lalu Chef Juna mengatakan sesuatu tentang pencapaian, kompetisi, dan harapan. Bahwa siapapun yang akhirnya harus pulang, bagaimanapun telah menempuh sebuah perjalanan yang jauh, yang patut untuk dibanggakan. Bahwa pada akhirnya harus ada yang menang dan kalah, dan itu hanyalah keniscayaan sebuah kompetisi.

"Jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri, kalian telah berusaha dan memberikan yang terbaik yang kalian bisa, yang akan membuat suami, anak-anak, keluarga bangga, dan orang-orang di luar sana melihat sebuah contoh yang bisa menjadi pelajaran bagi mereka," kira-kira semacam itu, seperti tampak pada tayangan Master Chef Indonesia di RCTI edisi Sabtu (1/6) petang kemarin, yang mungkin disaksikan dengan penuh emosional oleh berjuta pasang mata penonton televisi di tengah waktu santai mereka pada musim libur Lebaran tahun ini.

Dengan kontras pada penampilan mereka, yang satu berjilbab dan tampak lembut keibuan dan yang lainnya dengan rambut dicat dan tomboy, Fita dan Kai barangkali akan menjadi role model bagi banyak perempuan "ibu rumah tangga biasa" untuk mewujudkan keinginan-keinginan dan mimpi-mimpi yang tertunda. Lewat tayangan Master Chef Indonesia tersebut, orang seolah diingatkan bahwa harapan itu selalu ada.

Fita dan Kai adalah ibu rumah tangga yang telah meninggalkan keluarga masing-masing untuk ikut berkompetisi, dan kemudian berhasil menjadi "idola baru" bagi banyak orang, juga cermin, bahwa dengan niat dan tekad yang kuat, serta keyakinan dan usaha, tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai dan diwujudkan.

Fita misalnya, mengawali keikutsertaannya dalam kompetisi itu dengan membuat perkedel dan sayur (daun) singkong dalam sesi audisi. Ia bukan ahli memasak dalam arti yang profesional. Sementara Kai, juga ibu rumah tangga, sampai pada babak empat besar tersebut, masih meng-underestimate dirinya sendiri, merasa malu dan tidak mampu, yang belakangan membuat Chef Juna "berang".

"Kalau kamu masih bersikap seperti itu pada dirimu sendiri, saya secara pribadi yang akan mengeluarkan kamu dari kompetisi ini," ancam Chef Juna dengan nada menasihati dan membesarkan hati.

Master Chef adalah sebuah tayangan televisi yang lahir dari "budaya kuliner". Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa acara kompetisi masak-memasak bisa menjadi sebuah tontonan yang dikemas dengan penuh drama, tak kalah menegangkan dibanding sinetron yang dipenuhi tante-tante dan mertua jahat, serta bisa mengaduk-aduk emosi penonton, serta menjadi cermin bagi banyak hal lagi tentang realitas kehidupan.

Kita hidup pada zaman ketika aktivitas memasak, juga menikmati masakan, menjadi sebuah komoditas penting dalam industri budaya massa. Kita betah berjam-jam menyaksikan video-video yang berisi orang membuat makanan, meramu masakan, juga menjelajahi tempat-tempat makan dan menikmatinya, setara dengan sebuah seni yang mampu memberikan hiburan dan pencerahan jiwa. Kata kuliner menjadi nyaris overrated, kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, mewarnai berbagai aktivitas kita dalam perjalanan, wisata, hingga mudik seperti saat ini.

Para chef seperti Juna, yang mencitrakan diri sebagai sosok yang dingin, penuh wibawa, dengan gaya bicara yang elegan nyaris tanpa membuka mulutnya, menjadi sosok-sosok idola baru, kaum selebritas baru, panutan baru, juga bintang-bintang baru yang ikut mewarnai industri hiburan dan budaya. Mereka bukan lagi orang-orang dengan jaket putih di dapur, melainkan di layar televisi dalam penampilan yang tampan dan cantik, tak kalah dengan para artis dalam pengertian lama, yakni mereka yang menyanyi atau bermain film. Kita ingin tahu masa kecil mereka, kehidupan pribadinya, hingga prestasi-prestasi yang telah mereka capai.

Hal-hal yang berkaitan dengan dunia masak dan makan tiba-tiba menjadi pengetahuan penting yang kita sebagai "orang biasa" ingin menguliknya. Memasak bukan lagi sekadar dipandang sebagai hobi, atau "common sense", atau aktivitas pengisi waktu luang, melainkan berkaitan dengan presentasi dan teknologi. Film-film mengangkat tema-tema tentang makanan. Demikian juga dengan makan, tidak lagi dianggap sebagai sekadar aktivitas "jajan" atau "makan di luar rumah", melainkan sebuah peristiwa yang layak diabadikan, dipamerkan, setara dengan pengalaman-pengalaman hidup lainnya.

Masak dan makan bukan lagi dipandang sebagai semata-mata "aktivitas dapur" yang tertutup, melainkan bagian dari "pertunjukan" yang layak dipertontonkan, untuk memberi inspirasi, dan menjadi bagian dari "media" untuk menyalurkan hasrat-hasrat yang tersembunyi.

Menonton Master Chef pada musim mudik seperti ini rasanya seperti diingatkan kembali bahwa urusan masak dan makan memang tak pernah sesederhana dan sesepele yang kita kira dan pikirkan. Ini bukan hanya urusan lidah (rasa), dan perut (hidup). Di dalamnya terkandung pula urusan-urusan menyangkut obsesi, usaha, kompetisi.

Orang-orang, dari berbagai latar belakang profesi, minat, keahlian, dan pendidikan, serta usia mengikuti acara Master Chef untuk sebuah perlombaan. Mereka memasak dan mengolah makanan untuk menjadi pemenang, dan para juri mencicipi serta menikmati makanan untuk menilai dan menentukan siapa yang akan terus bertahan, siapa yang harus tersingkir, dan pada akhirnya siapa sang pemenang itu. Di dunia nyata, dalam kehidupan, orang-orang memasak, mengolah makanan, dan makan untuk hidup dan bagian dari cara bersenang-senang, mencari kebahagiaan. Untuk bisa mewujudkan itu, orang harus bekerja dan itu artinya juga harus berusaha, dalam batas tertentu kadang harus berkompetisi, dan menjadi pemenang pula. Masak dan makan adalah simbol perburuan abadi, pengejaran pencapaian, dan peraihan prestasi-prestasi.

Kita bekerja, membangun usaha, pergi dari kampung halaman, tanah kelahiran, meninggalkan keluarga dan berpisah dari sanak saudara dalam rumusan kata-kata ibarat "demi sesuap nasi", yang artinya untuk makan.

Lalu, kita makmur, kelebihan makanan, melahirkan penyakit-penyakit, dan perlu membatasi diri.

Lalu, kita mengalami tekanan-tekanan, kejenuhan, dan memerlukan ritual pelepasan, pelarian sesaat.

Setahun sekali, sebagaimana diperintahkan oleh agama yang kita yakini, kita berpuasa, lalu mudik, pulang ke kampung asal kita, untuk berkumpul dengan keluarga besar dan sanak saudara, bertemu handai tolan dan teman-teman lama, dan menghadirkan makanan-makanan istimewa untuk dinikmati bersama. Sambil menonton acara kompetisi masak-masakan di televisi, di ruang keluarga, dan terhanyut dalam berbagai emosi keharuan dari drama yang tersaji. Seperti menikmati hasil masakan yang membuat kita kenyang, bahagia, dan seperti merasa menemukan kembali apa yang selama ini mungkin hilang, mungkin sudah kita miliki, mungkin masih terus kita cari.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed