detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 31 Mei 2019, 15:20 WIB

Kolom Kalis

Hijrah Sahabat, Mukena Syahrini, dan Hari Raya

Kalis Mardiasih - detikNews
Hijrah Sahabat, Mukena Syahrini, dan Hari Raya Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Pada hari ke-17 bulan Ramadhan yang mulia ini, seorang sahabat yang sudah seperti saudara meng-unfriend saya dari akun Facebook-nya. Sebelum eksekusi itu, saya meninggalkan sebuah emoticon ngakak pada salah satu unggahannya. Apalagi jika bukan soal ribut-ribut pemilu. Sebetulnya sudah sejak beberapa tahun warna unggahannya sangat heroik dan partisipatif soal hajat negara, tapi akhir-akhir ini terasa kian heboh saja.

Saat itu saya terpaksa meninggalkan emoticon ngakak karena analisisnya soal ketidakbecusan KPPS sudah kepalang lucu, konspiratif, dan lumayan sinematik. Toh, itu posting-an publik, setiap orang tentu bebas berekspresi menanggapi pendapatnya.

Mungkin, teman saya sudah cukup gerah mendakwahi saya. Ia berdakwah soal jilbab, tapi kerudung saya tetap berbeda model dari yang ia pakai. Ia berdakwah soal kelompok yang menurutnya benar, tapi saya masih mengaji kepada siapa pun, termasuk kepada kelompok yang ia tidak sukai. Ia berdakwah soal sistem ekonomi yang menurutnya sesuai syariat, apa daya saya masih sangat longgar soal transaksi ekonomi sehari-hari. Ia berdakwah soal keberpihakan politik yang ia bela, namun linimasa saya tetap rajin pamer foto selfie dan pamer masakan.

Sepertinya, saya bukan lagi teman yang baik untuknya. Tidak ada gunanya untuk memperkuat dakwah. Lagi pula, Allah janji kepadanya akan mengganti orang-orang seperti saya dengan teman yang lebih banyak dan lebih baik lagi untuk menemaninya menegakkan kebenaran.

Lho, saya ini aslinya tidak masalah dia beda pendapat dengan saya. Meskipun setiap hari ia membagikan dalil-dalil soal neraka yang seram-seram itu, yang jelas salah satunya ditujukan kepada kelompok manusia sulit tercerahkan seperti saya ini, saya terima-terima saja. Ternyata, dia yang jengkel sendiri. Padahal, Nabi Muhammad dulu dilempar batu hingga dilempar tahi seorang pengemis buta yang tak menyukai dakwahnya pun tetap sabar dan telaten. Berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdialog dengan ramah.

Saya kan cuma meninggalkan emoticon ngakak pada analisis duniawi yang menurut saya lucu, mana berani saya lempar batu. Nah, apalagi hanya soal duniawi pemilu yang tak terjangkau masyarakat kota kecil di pinggiran pula. Bukan perkara mengingkari Allah sebagai Ilah. Demi Allah, saya ini juga Islam, lho!

Tidak masalah juga sih. Hanya, sebentar lagi Lebaran datang. Potensi kami untuk bertemu muka di jalan saat mudik di kampung cukup besar. Ada perbedaan yang mencolok antara bersalam-salaman dengan melebur kesalahan orang lain lewat pemaafan. Lik Kar dan Lik Jum tetangga saya senantiasa bersalam-salaman ketika berkeliling ke tetangga di hari Lebaran. Teknisnya kan cukup saling menempelkan wajah dan menggesek telapak tangan satu menit saja. Setelah itu, Lik Kar tetap ingat kalau Lik Jum pernah bikin ia malu di pengajian. Sebaliknya, Lik Jum selalu percaya kalau mulut Lik Kar selalu pahit. Paling lambat esok hari, dua orang itu sudah saling bergosip lagi.

Manusia zaman sekarang bisa lebih licik lagi. Dari kejauhan ia potret temannya, lalu dikirimlah lewat grup geng dalam aplikasi pesan instan, sambil mengetik, "Nih, gue bentar lagi ketemu si Malih." Lalu, dipasanglah senyum basa-basi dan satu dua kalimat sepantasnya. Setelahnya, silakan lanjut membahas apa-apa yang lebih menarik untuk dibahas di grup-grup dalam gawai. Begitulah kecerdasan orang dewasa, amat pintar bermuslihat.

Tak masalah. Dalam satu hadis riwayat Tirmidzi dikatakan, "Tidak ada dua orang muslim yang bertemu kemudian bersalaman kecuali dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum mereka berpisah." Syukurlah, syariatnya memang sudah cukup dengan bersalaman.

Pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, seorang teman menelpon mengabarkan adiknya yang tidak mau lagi berangkat koas setelah wisuda sarjana kedokteran. Seharian kini kerjanya hanya membaca Alquran di kamar, mendengar ceramah agamawan di Youtube, menolak teman-teman yang datang berkunjung dan tak mau keluar rumah dengan alasan tak ada mahram. Adiknya perempuan, amat takut tak bisa menjaga interaksi dengan lawan jenis jika meneruskan diri menjadi dokter.

Ia menelpon, berharap saya dapat menganalisis pengajian apa yang tiap hari didengar adiknya. Marah-marah keluar kamar saat teman saya memutar musik baby shark untuk anaknya, info tambahan pertama. Oke, ceramah yang ia dengar mengharamkan musik. Jengkel karena ibunya yang pengusaha mencetak rekening koran, info tambahan kedua. Baik, ceramah yang ia dengar mengharamkan transaksi bank konvensional. Tidak tertarik dengan obrolan keluarga, memilih baca Quran saat semua orang di ruang keluarga sedang mengobrol, info tambahan ketiga.

"Mungkin kalian semua dianggap setan!" canda saya.

Jadi, mungkin sahabat saya menarik diri dari saya karena saya ini setan. Masih bolehkah setan ikut bersalam-salaman di momen Lebaran?

Semangat Lebaran adalah halalbihalal. Saya tidak tahu apakah sahabat saya dan adik teman saya menerima tradisi ini, sebab tradisi yang terdiri atas serangkaian peristiwa mudik, makan enak bersama keluarga, lalu saling sungkem dengan saudara ini hanya ada di Indonesia saja. Apalagi, kata Umar Kayam, tradisi halalbihalal adalah terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Jawa? Aduh, bisa-bisa jadi sinkretis, abangan, atau klenik. Meskipun saya yakin, para penemu halalbihalal dulu bermaksud mengamalkan hadis Bukhori dan Muslim, berbunyi, "Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yaitu pemutus tali persaudaraan."

Saya ingin menyambung kembali, tapi kasihan sahabat saya kalau kepanasan lagi jika setan ini kembali datang dekat-dekat. Ah, sungguh merepotkan.

Syukurlah notifikasi dari aplikasi media berita di ponsel saya tiba-tiba mengabarkan informasi menyenangkan: Mukena Syahrini yang bertabur berlian seharga 3,5 juta rupiah laku 5000 buah. Bisnis tentu saja bukan hal baru untuk Syahrini. Ia pernah menjual parfum dengan tagar "InLoveWithSyahrini", lalu menjual kue bakpia dengan tagar "KacidaaaaRaosnnnaaaa" dan "MenujuManjah". Kali ini menjual mukena dan kerudung bermerk Fatimah Syahrini dengan tagar "MasyaAllah", eh maksud saya "MashaAllahTabarakallah".

Syahrini adalah pemeluk agama yang luwes. Ia dapat tampil mewah mengenakan gaun bertabur permata saat menyanyi. Keesokan harinya, ia jalan-jalan belanja keluar negeri. Lusa, ia bisa berkerudung turut pengajian bersama ustaz-ustaz kenamaan. Parfumnya laku, menjual mukena pun laris manis.

Syahrini pasti tidak menerima doktrin Al Ghuroba yang mengatakan Islam itu asing dan akan kembali asing. Doktrin tersebut membuat seseorang menarik diri dari lingkungan, bangga menjadi terasing sebab merasa paling benar. Keberislaman Syahrini adalah bersama-sama dengan semua lapisan untuk bahagia lahir dan batin. Keluwesan taktik yang menarik dan patut untuk dipelajari.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed