detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 30 Mei 2019, 14:00 WIB

Kolom

Mudik 2019 dan Efek Tol Trans Jawa

Ananto Hayuningrat - detikNews
Mudik 2019 dan Efek Tol Trans Jawa Tol Trans Jawa (Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance)
Jakarta -

Pembangunan infrastruktur, terutama konstruksi jalan tol, menjadi sebuah prestasi di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Berdasarkan data dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, terdapat 437.9 km jalan tol yang telah beroperasi di Jawa dan Sumatera sejak pemerintahannya dari 2015 sampai dengan 2018. Dan berdasarkan data itu pula, jalan tol yang menghubungkan Merak sampai dengan Probolinggo (Trans Jawa), sekitar 965 km, akan menjadi jalur primadona bagi pemudik yang akan pulang kampung untuk berlebaran awal Juni 2019 ini.

Dengan dibukanya jalan tol, maka akses antarkota akan lebih cepat dan bebas dari kemacetan, dibanding melewati jalan biasa. Mobil pribadi akan memilih melewati jalan tol, karena lebih nyaman dan efisien. Untuk mempermudah pemakai jalan tol, tentunya pihak Jasa Marga selaku pihak otoritas jalan tol harus menyiapkan rest area, musala atau minimarket, sebagai tempat berlabuh sementara bagi konsumen. Terlebih lagi, menggandeng SPBU di setiap titik tertentu.

Jasa Marga telah mengeluarkan tarif resmi untuk pengguna jalan tol. Sebut saja, tarif tol Merak - Probolinggo dibandrol Rp 775.500. Atau Jakarta – Probolinggo yang dibanderol dengan harga Rp 727.500. Semisal pengendara mobil pribadi dengan kapasitas 6 penumpang yang akan melewati rute tersebut, tentunya akan meminimalisasi biaya, dibandingkan dengan memakai moda transportasi bus. Apalagi dalam momen mudik ke kampung halaman, memakai mobil pribadi menjadi pilihan banyak warga, karena mereka akan membawa barang yang tidak sedikit. Di samping keleluasaan dan kebebasan memakai mobil pribadi dibandingkan memakai jasa transportasi bus. Tentunya ini menjadi tantangan bagi pemilik usaha bus antarkota, melihat fenomena pilihan warga masyarakat memakai mobil pribadi mereka sendiri.

Bidang transportasi lain yang terkena imbas dari pembangunan jalan tol adalah usaha penerbangan. Pembangunan bandar udara baru, seperti Bandara Ahmad Yani di Semarang, dikhawatirkan akan sepi penumpang. Rute penerbangan dari Semarang ke Surabaya, misalnya. Atau rute-rute antarkota yang terhubung jalan tol Trans Jawa. Belum lagi, biaya naik pesawat yang terbilang cukup mahal dibandingkan harga normal. Maka, pihak maskapai penerbangan perlu mencari cara untuk memikat hati konsumen, supaya pemudik tidak beralih menggunakan transportasi lain.

Banyak cara yang digunakan untuk mengakuisisi konsumen, salah satunya memberikan gimmick, fasilitas ekstra atau beriklan di media dengan tagline "Nikmati kenyamanan dan keselamatan mudik lebaran bersama kami." Meskipun, masyarakat paham dan sadar, menggunakan transportasi pesawat tidak 100% aman dari kecelakaan, mengingat kejadian jatuhnya pesawat Lion Air pada November 2018 silam. Namun, secara statistik penggunaan transportasi pesawat lebih aman dan nyaman daripada menggunakan mobil pribadi. Hal-hal seperti ini akan membuat konsumen berpikir dua kali sebelum mereka beralih menggunakan moda transportasi lain.

Instansi yang menangani transportasi kereta api dan kapal laut juga akan memutar otak terhadap perkembangan pembangunan jalan tol yang begitu pesat, karena hal ini tidak dapat dielakkan. Terdapat konsumen yang sudah merasa nyaman menggunakan kereta api dan tidak mau beralih menggunakan transportasi lain, karena dengan menggunakan kereta api, para pemudik bisa menikmati pemandangan alam. Ataupun bersama rombongan keluarga besar, bisa menyewa gerbong yang tentunya akan menerima fasilitas yang cukup eksklusif dan memanjakan konsumen, meskipun tarif dibanderol dengan harga mahal.

Begitu pula pemudik yang memilih menggunakan kapal laut, karena selain dapat menikmati keindahan laut, mereka dapat sekaligus mengangkut kendaraan pribadi ke dalam kapal. Setelah turun kapal, bagi pemudik yang membawa kendaraan pribadi, mereka akan meneruskan perjalanan darat menuju kampung halamannya masing-masing. Akhirnya, pilihan menggunakan transportasi darat, laut, dan udara terletak di tangan konsumen,dengan memperhatikan biaya, kenyamanan, keamanan dan kepentingan yang dibutuhkan.

Menurut teori perilaku konsumen, konsumen akan mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, serta bertindak menggunakan produk dan jasa maupun ide yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya. Industri transportasi harus mempertahankan mutu atau kualitas dari produk atau jasa yang diberikan. Jika tidak dapat mempertahankannya, maka dikhawatirkan terdapat kekecewaan konsumen terhadap kualitas yang diberikan atau tidak sesuai harapan. Dan lambat laun konsumen dapat beralih menggunakan produk atau jasa lain yang lebih baik. Hal ini adalah alami dan wajar, karena sifat dasar konsumen adalah memilih yang terbaik menurut persepsi masing-masing.

Proyek pembangunan jalan tol memiliki pengaruh secara langsung ataupun secara tidak langsung terhadap moda transportasi lainnya. Terdapat moda transportasi yang menurun jumlah penumpangnya dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, atau sebaliknya, terdapat moda transportasi yang membludak. Ini bisa saja terjadi. Alangkah tidak bijak kemudian beberapa pihak menyalahkan lesunya penumpang transportasi A karena pembangunan jalan tol. Semua industri transportasi harus siap menerima perubahan terhadap dinamika pembangunan di sekitarnya. Dunia ini sudah sangat berubah menjadi turbulen, sehingga manusia harus lebih adaptif dan mampu berpikir luwes.

Ananto Hayuningrat akademisi dan konsultan proyek BUMN


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed