detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 29 Mei 2019, 11:54 WIB

Kolom

Anak Muda, Teknologi, dan Perubahan

Donny Syofyan - detikNews
Anak Muda, Teknologi, dan Perubahan Foto: APJII
Jakarta - Akhirnya netizen kembali bisa menggunakan internet secara lancar. Sebelumnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) membatasi akses media sosial untuk pengguna internet di Indonesia --mengirim dan menerima foto dan video lewat WhatsApp dan Facebook. Di samping menimbulkan kerugian ratusan miliar bagi pelaku perdagangan daring, segmen lain yang paling menentang dan terkena imbas mengingat mereka adalah kelompok pengguna terbesar di Tanah Air yakni anak muda.

Relasi antara kekuasaan, teknologi, dan perubahan telah menempatkan anak-anak muda tumbuh dan berkembang di era ketidakpastian. Meningkatnya kecenderungan untuk mengunggah tulisan, foto, dan video di media sosial juga tak terlepas dari kenyataan bahwa kuasa media makin membatasi lalu lintas perdebatan guna meredam pikiran-pikiran kritis.

Kebebasan yang dijanjikan internet adalah bahwa siapapun bisa memiliki akses langsung ke sumber informasi yang dihasilkan tanpa harus bergantung pada penjaga gerbang informasi, yakni pemilik atau editor media. Namun internet memiliki dampak yang kompleks. Di satu sisi, penggunaan internet menjadikan netizen bisa membuat berita. Tetapi di sisi lain ia juga menyisakan kelemahan serius; membuka jalan bagi "kekuatan hitam" untuk mengarang seluruh narasi berita, semisal hoaks. Ini adalah sesuatu yang tidak dipahami ketika orang meluncurkan internet dulu.

Kaum milenial sebagai pengguna internet teraktif perlu memiliki kemampuan literasi agar mengerti tentang tren kontemporer dan dampaknya. Ini memerlukan upaya pendidikan yang lebih serius daripada hanya menjelajahi web. Mereka harus dapat mengenali apa dan bagaimana informasi yang kredibel dan yang tergolong sampah dan hoaks. Kegagalan menilai keabsahan sumber dan ketidakmampuan menemukan game retoris yang dimainkan dalam teks bakal memanipulasi seseorang. Di sinilah orang acapkali dan mudah tersesat.

Kita harus memahami sumber informasi. Kita perlu melakukan upaya ekstra untuk memverifikasi fakta dan mengungkap retorika yang digunakan. Bagi yang pernah mengalami suasana pendidikan di perguruan tinggi, maka tradisi menulis akademis bisa menjadi modal untuk memperkuat watak literasi. Bagi mahasiswa boleh jadi ini terasa membosankan, tetapi apa yang dipelajari tentang catatan kaki atau kutipan yang terpercaya merupakan keterampilan yang membuat seseorang mampu membedakan antara deretan fakta dan segunung berita palsu.

Suka tidak suka, teknologi mendatangkan dampak luar biasa terhadap perilaku sosial. Telepon pintar (smartphone) telah mengubah cara orang berinteraksi. Seringkali kita menyaksikan pasangan berkencan dan tak satu pun dari mereka melihat yang lain. Mereka duduk di kafe romantis seraya menatap ponsel masing-masing. Gambaran umum tersebut menyibakkan bahwa teknologi membuat orang tidak lagi berinteraksi dengan cara tatap muka yang secara tradisional dimiliki manusia. Teknologi memaksa kita mengiyakan fakta bahwa perubahan adalah keniscayaan.

Dalam konteks politik mahasiswa atau pelajar sekolah menengah dapat mendukung politisi tertentu dan mengikuti perkembangan politik melalui media. Tapi yang lebih penting adalah mendorong anak-anak muda ini berkontribusi untuk menciptakan budaya politik yang lebih terbuka dan bertanggung jawab. Di Indonesia mahasiswa telah menjadi ujung tombak terkemuka dalam banyak gerakan reformasi dan demokratisasi. Proses politik menjadi tidak terkendali karena mahasiswa secara khusus atau anak muda secara mum tidak memiliki penilaian terbaik mengenai kekuatan politik mana yang harus didukung.

Anak-anak muda yang memiliki kesadaran politik bukan hanya mempengaruhi tumbuhnya organisasi politik yang efektif, tapi juga berdampak bagi perubahan yang lebih besar. Karenanya, kaum muda seharusnya tidak hanya mengubur kepala mereka di pasir dan secara membabi buta mengikuti tuntutan karier yang sempit. Mereka perlu menyadari pentingnya menjaga diri untuk tetap terlibat dan menjadi bagian penting dari proses politik yang lebih besar.

Sayangnya, kemelekan politik kawula muda yang ditandai oleh semangat aktivis, terutama di kalangan mahasiswa, kontradiktif di tengah adanya tekanan yang sangat besar dari orang ua, masyarakat, bahkan pemerintah agar anak-anak muda mengambil jurusan atau fakultas yang berorientasikan hal-hal praktis-pragmatis (bisnis, teknik, komunikasi, komputer, atau IT) guna mendapatkan pekerjaan lebih baik. Pilihan terhadap jurusan sosial dan humaniora dianggap tidak menjanjikan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Gerakan meninggalkan humaniora hari ini sungguh ironisnya dibandingkan, misalnya, dengan era 1960-an. Semasa itu standar kehidupan jauh lebih rendah, namun mahasiswa lebih banyak yang belajar sastra dan filsafat.

Persoalan ini sebetulnya menunjukkan pergeseran pasar tenaga kerja. Seiring kemajuan teknologi, komputer, dan otomatisasi menggantikan tenaga kerja berketerampilan rendah dan mengatur kembali pasar tenaga kerja. Namun belakangan ini otomatisasi menggantikan pekerjaan kelas menengah yang dulu cukup stabil. Bahkan pengacara dan dokter tidak lagi dari ancaman otomatisasi. Tekanan dari otomatisasi berarti bahwa seseorang dengan kecakapan STEM (science, technology, engineering, and mathematics) dianggap lebih bernilai.

Kurangnya lapangan pekerjaan secara umum dan meningkatnya permintaan terhadap keterampilan khusus di bidang-bidang tertentu telah mengguncang sistem pendidikan di Tanah Air. Anak-anak muda hanya berpikir untuk mendapatkan pekerjaan dengan cepat. Mereka memandang menikmati waktu luang untuk membaca sastra atau berdebat isu-isu sosial-politik dan hukum tidak penting lagi.

Tren dan fokus pada STEM ini memang tampak sedikit berlebihan. Bagaimanapun, tekanan itu mendorong orang menjauhi ilmu-ilmu budaya (humaniora). Fakultas humaniora memang telah berupaya untuk mengatasi situasi tersebut agar keberadaannya tetap relevan dalam wacana global dan tuntutan ekonomi. Sebagai contoh, para mahasiswa didorong untuk memahami humaniora dalam koridor ideologi kebenaran politik yang menuntut konsentrasi pada studi gender dan studi etnis. Bias politik mulai dijauhi dalam pengajaran dan penelitian sehingga interpretasi sastra dan filsafat bermanfaat bagi kebutuhan praktis mahasiswa.

Kepedulian terhadap politik bukan bermakna anak-anak muda harus berbondong-bondong masuk parpol. Satu kebenaran universal tentang politik adalah bahwa orang akan tampak tidak peduli sampai mereka terinspirasi dan memiliki komitmen yang serius pada politik. Protes dan demonstrasi mahasiswa di Korea Selatan pada 2016 yang berujung pada impeachment Presiden Park Geun-Hye membuktikan bahwa kekuatan politik anak muda merupakan kekuatan transformatif kepemimpinan nasional dan perlawanan terhadap korupsi.

Donny Syofyan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed