detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 28 Mei 2019, 16:00 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Pemblokiran Gambar dan Merosotnya Kemampuan Manusia

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Pemblokiran Gambar dan Merosotnya Kemampuan Manusia Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Diblokirnya fitur gambar dan video di media sosial pada sekitaran kerusuhan 22 Mei lalu semestinya membuat kita sadar: ada banyak sekali yang hilang dari kemampuan kita sebagai manusia.

Rentang waktu pemblokiran kemarin itu hanya tiga hari, lebih kurang. Tapi, apa yang kita derita? Sebagai praktisi Facebook penuh waktu, saya merasakan ada krowak yang besar dari eksistensi saya. Apalah artinya main Facebook kalau tidak bisa pamer foto menu sahur dan buka, tidak bisa memajang citra palsu intelektual dengan foto buku terbaru yang sedang saya baca, tidak bisa menghadirkan senyum anak saya dalam rangka peneguhan identitas sebagai papah idaman sedunia.

Demikian pula, di mana afdolnya ketika saya berbincang dengan teman-teman tapi tidak bisa memandang profpic mereka, tidak bisa pula melihat aktivitas pamer mereka dari jenis yang lebih rupa-rupa?

Itu baru di Facebook. Instagram lebih mampus lagi, tentu saja.

Menginstal VPN memang bisa jadi solusi instan. Tapi, itu bisa kita jalankan kalau kita cuma ingin bermedsos dengan diri kita sendiri. Padahal, sesungguhnya hajat paling dasar yang ingin dituntaskan oleh umat manusia dengan media sosial bukanlah "melihat", melainkan "dilihat". Anda sadar itu bukan? Lalu buat apa saya dan sebagian kecil teman menginstal VPN, sementara ribuan follower tidak?

Pendek kata, ada kesakitan psikologis kolektif yang luar biasa hanya dengan pemblokiran gambar dan video. Ini situasi yang amat lucu.

Dulu, ketika saya masih memakai Siemens C35, yang tidak mengenal sama sekali fitur foto dan video itu, saya merasa hidup ini baik-baik saja. Saya bahkan menemukan keajaiban dengan kesempatan berkirim kabar kepada pacar, sementara posisi kami berjauhan. Saya merasa betapa mudahnya kehidupan, karena bisa dengan gampang membikin janji dengan kawan untuk bertemu di mana jam berapa.

Tentu bukan cuma saya yang begitu. Semua orang juga begitu. Tidak ada ketergantungan kepada gambar-gambar dan video pada saat itu. Kita bisa menjalani hidup yang sempurna hanya dengan teks dan kata-kata, juga sedikit suara.

Namun, lambat laun, saat memegang C35 itu pula, saya heran melihat masa yang lebih lalu. Sebelum mengakses ponsel hitam kecil itu, saya bisa membikin janji dengan siapa pun untuk ketemu di mana dan jam berapa, tanpa alat apa pun juga, sekaligus tanpa kecemasan akan kegagalan berjumpa. Tanpa ponsel, waktu itu toh semua juga baik-baik saja.

Sebelumnya lagi, saya dan beberapa kawan menempuh perjalanan bermotor bersama dari Jogja ke Bali, tanpa secuil pun kekhawatiran, "Waduh, nanti kalau terpisah di jalan gimana kita ketemunya?" Kekhawatiran semacam itu tiba-tiba muncul besar sekali saat orang-orang sudah memegang HP. Bahkan hari ini saya benar-benar tidak bisa menalar, bagaimana bisa saat perjalanan itu kadang kami terpisah jauh di atas motor masing-masing, tapi kok tetap bisa bertemu lagi?

Semuanya lebih absurd lagi pada hari ini. Dan saya pernah merasa hidup ini begitu tak berguna, ketika pada suatu tengah malam saya menghabiskan waktu hampir dua jam putar-putar bolak-balik di satu area untuk mencari rumah kawan saya, padahal sebelumnya sudah beberapa kali saya ke sana.

Alasannya manis sekali. Selama ini, saya menggantungkan takdir perjalanan saya kepada Google Maps untuk tiba di sana. Saya pasrah total kepada suara mbak-mbak yang, "Turn left, and your destination will be on the right." Dan, karena malam itu HP saya drop, charger pun lupa terbawa, saya benar-benar terjerumus pada kesesatan yang nyata.

***

Mari kita hitung, ada berapa kemampuan alami kita yang lenyap seiring perkembangan teknologi. Dari potongan-potongan cerita kecil yang saya tuliskan itu saja, sudah tampak beberapa kehilangan yang mungkin baru detik ini kita sadari.

Kemampuan pandangan mata kita yang jeli telah hilang. Kita sulit menemukan penampakan satu sosok kawan kita di tengah kerumunan. Dulu kita sangat ahli dalam bidang itu, sehingga janjian di tempat riuh pun tak jadi soal, membidik tampilan visual seorang kawan dari jarak yang jauh pun bukan hambatan.

Kemampuan otak kita mengingat rute jalanan yang berkelok-kelok lenyap sudah. Kepasrahan kita kepada kendali GPS dan Google Maps membuat kita melemparkan jauh-jauh kemampuan purba tersebut, seiring dengan tergerusnya keterampilan untuk berkomunikasi dengan warga lokal. Tak ada lagi, "Maaf, Bu numpang tanya. Arah ke Magelang mana ya?"

Tak terkecuali dengan video dan gambar-gambar yang sempat diblokir itu. Seberapa jauh kita kehilangan skill komunikasi efektif tanpa gambar-gambar? Apakah sekarang otak kita mulai tumpul dan tidak peka dalam memahami deretan kata-kata? Selama tiga hari pemblokiran itu, ingatkah Anda rasanya kesan ketidaksempurnaan informasi jika citra visual tidak menyertai kata-kata?

Ini bukan cuma tentang informasi yang benar. Pada masa kejayaan foto dan video, bahkan hoaks pun ternyata jadi sulit disebar. Ledakan emosi massal ternyata sangat tergantung kepada foto-foto. Seolah kita tiba-tiba lupa bahwa dulu kala kabar burung bisa menyebar sangat luas dan cepat hanya dengan ucapan dari mulut ke mulut, atau dari kertas fotokopian berisi kisah mimpi Imam Masjidil Haram yang harus kita perbanyak hingga 40 lembar itu.

***

Betulkah perkembangan teknologi membuat hidup kita lebih mudah? Atau sebenarnya derajat kemudahan hidup kita tetap sama saja sepanjang masa, karena setiap kali hadir satu kemudahan sudah pasti lahir pula satu kesulitan?

Steven Pinker dalam bukunya Enlightenment Now yang kondang itu tetap ngotot bahwa peradaban terus bersifat progresif. Ia melihat, bagaimana pun juga kondisi sekarang jauh lebih baik daripada masa lalu. Kemiskinan ekstrem berkurang 90%, buta huruf diberantas habis-habisan, harapan hidup jauh lebih panjang, dan sebagainya.

Semua itu disempurnakan dengan segala fasilitas modern, mulai listrik, jaringan transportasi, televisi, antibiotik, dan tentu saja internet. Tingkat hidup rakyat kelas menengah bawah sekalipun akan membuat cemburu Ratu Inggris dan Kaisar Prusia abad ke-18, kata Pinker.

Namun, apakah Pinker juga ikhlas melepas segenap kemampuan survival dasar manusia seiring dengan segala kelengkapan dunia modern yang dia banggakan itu?

Saya ambil contoh. Jika situasi ketergantungan kepada Google Maps berjalan 100 ribu tahun lagi, bukankah hukum evolusi bisa jadi akan menggilas habis gumpalan pengolah kecerdasan spasial di otak kita? Lalu, apa yang akan terjadi jika pada hari itu tiba-tiba teknologi penunjuk jalan hancur berkeping-keping?

Kita akan terus disuguhi bukti-bukti bahwa pada awalnya manusia memang menciptakan teknologi, tapi kemudian teknologilah yang "menciptakan" manusia. Pada saatnya nanti, akan lahir manusia-manusia dengan spesifikasi tertentu: yang tidak kuat berjalan lebih dari 10 meter, yang tidak bisa membaca peta, yang tidak mampu membuka mulut untuk berkomunikasi secara lisan dengan makhluk satu spesies di kiri-kanannya. Dan itu bukan cuma isu kemampuan sosial. Bahkan kemampuan biologis!

Ah, tapi itu terlalu jauh. Kita bayangkan hal buruk yang dekat saja. Andai malam nanti beberapa bongkah benda luar angkasa menghantam instalasi-instalasi listrik kita, membuat kita tidak bisa menerangi kamar-kamar kita, tidak bisa mengisi bak-bak mandi kita, tidak bisa menonton televisi bersama keluarga, tidak bisa mengakses kabar-kabur dari telepon genggam di tangan kita, dan itu berlangsung satu bulan saja, akan ada berapa orang yang jatuh depresi bahkan bunuh diri?

Saat saya berumur lima tahun, sebelum bapak-bapak PLN datang ke kampung kami untuk mulai membangun jaringan listrik, kami jelas tidak perlu membayangkan ada orang depresi hanya karena rumahnya gelap atau tidak bisa mengakses berita.

Lalu, yakinkah Anda bahwa manusia berkembang semakin hebat, dan bukan malah semakin rapuh?

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed