DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 17 Mei 2019, 17:30 WIB

Kolom Kalis

Matematika Pahala Orang Kota

Kalis Mardiasih - detikNews
Matematika Pahala Orang Kota Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Pada sebuah kelas kecil yang menjadi ruang bicara apa saja untuk perempuan, satu pertanyaan menarik muncul. Keresahan yang sepertinya jadi masalah banyak orang, namun celakanya kita seperti menikmati banyak kebingungan. Mengapa relasi orang beragama tidak bisa lagi seperti dulu? Dulu, kata si penanya seperti mengingat banyak kenangan, orang memeluk agama bukan untuk dirinya sendiri. Belakangan ini, orang memeluk agama untuk berkompetisi. Tiap-tiap orang mencari keselamatan bagi diri sendiri dengan tak jarang mencelakakan orang lain.

Saya pun tak yakin Tuhan peduli dengan hamba-hamba yang mencari perhatian dengan cara berteriak lantang, mengumumkan diri sendiri agar tampak paling serius dalam beragama begitu. Sepertinya definisi takwa, yang menurut Alquran menjadi satu-satunya hal yang Tuhan lihat dari seorang hamba, juga tidak semenyedihkan ini.

Masalahnya, tak ada jawaban yang benar-benar tepat untuk melihat fenomena beragama yang acapkali muncul di perkotaan tersebut. Perilaku manusia tidak pernah lahir dari ruang yang hampa nilai. Sikap keagamaan yang individualistik lahir dari struktur kehidupan yang diam-diam telanjur ruwet.

Begini. Masa dahulu,cerita-cerita bermasyarakat yang seringkali muncul sekelebatan dalam ingatan Generasi X, adalah masa banyak orang masih melihat sawah, masih merawati kebun di pekarangan, juga sungai dan parit dengan organisme air yang menghidupi. Keterikatan masyarakat kepada tanah, kepada air, dan kepada udara di sekitar mereka yang secara langsung ditangkap oleh saraf kulit di kaki, di tangan, dan di sekujur tubuh manusia adalah keterikatan yang otentik. Tubuh manusia adalah identitas paling jujur dalam merespons rasa nyaman sekaligus rasa sakit.

Manusia pra-industri mencintai alam yang memberi mereka penghidupan, sehingga pola hidup yang komunal merupakan keniscayaan belaka sebagai upaya menjaga alam bersama-sama. Upacara penghormatan kepada alam, seperti sedekah bumi dan sedekah laut adalah wujud spiritualitas yang tertuang dalam laku. Nilai universalitas kebaikan dalam agama adalah sekaligus nilai kebaikan yang diberikan oleh alam semesta. Rahmatan lil alamiin, alam yang memberi hidup dan sebaliknya laku kehidupan harus dikembalikan kepada alam.

Pertanyaan soal halal-haram ritual pascamusim panen itu tak lain adalah pikiran bodoh yang muncul dari manusia industri yang masyarakatnya telah lepas dari keterikatan-keterikatan terhadap jagad yang melingkupi keberadaannya. Masyarakat modern tidak punya ikatan di kandung badan lagi dengan tanah di sekitar mereka, dengan air di sekitar mereka, dengan udara di sekitar mereka. Manusia kota berelasi dengan unsur alami yang ia butuhkan dengan cara membeli. Lagi-lagi dengan uang. Transaksional.

Mereka menebus tanah sebagai property. Mereka minum air bersih yang dikomoditaskan industri dengan menjajah hak air bersih orang miskin. Mereka menikmati udara bersih dengan pendingin ruangan. Pola perubahan ruang hidup ini menyebabkan satu-satunya keterikatan yang dimiliki oleh orang modern dengan ruang yang melingkupinya hanyalah materi.

Orang kota bekerja dari pagi hingga malam agar menghasilkan materi agar selanjutnya dapat membeli keterikatan materi lain. Mereka tinggal di perumahan klaster yang antar tetangga tidak menyepakati sebuah ikatan yang dibangun secara alamiah. Sehingga, jenis tema ceramah yang paling masuk akal bagi manusia modern adalah soal sedekah untuk membersihkan harta atau soal kemurnian tauhid dalam rangka mengingat kematian. Baik soal sedekah maupun soal tauhid, dibicarakan dalam bingkai yang sangat individualistik.

Tenang, manusia urban tetap menciptakan kebudayaan beragama. Budaya fashion islami, budaya tontonan islami, sampai budaya festival kumpul-kumpul islami yang bertiket lumayan mahal untuk menyimak panggung ceramah para ustaz beken masa kini. Tak ada masalah. Hanya tantangannya, bagaimana agar kebudayaan agama modern ini lagi-lagi tidak berhenti dalam pola bisnis belaka. Bisnis, tetap saja adalah hitungan untung rugi. Sedangkan, tugas agama sesungguhnya adalah menjadi pengeras suara bagi mereka yang jauh dari sorot lampu panggung dan keriuhan bazar.

Kebudayaan festival beragama yang muncul hari-hari ini sudah makin mapan sebab jelas menguntungkan. Di sisi lain, para kritikus mereka mencukupkan diri dengan sindir menyindir, namun pelan-pelan tak dapat menghindar dalam sesuatu yang disebut Ariel Heryanto sebagai "identitas kenikmatan". Sebab bagaimana pun, kita tidak dapat lari dari tren kekinian.

Oh. Sepertinya saya sudah terlalu banyak bicara sampai cukup terkejut menyimak interupsi dari suara di sudut ruangan. Seorang peserta perempuan yang sepanjang obrolan tidak melepas kacamata hitam di dalam ruangan menyahut, "Apa jawaban panjenengan ini ada dalilnya?"

Aduh. Saya hampir lupa kalau manusia modern selalu perlu landasan empiris untuk isi pikirannya yang amat teknis itu.

Bu, berangkat pengajian pakai mobil juga tak ada dalilnya. Bu, belanja barang di mall sambil arisan bersama teman-teman juga tak ada dalilnya. Bu, bagaimana jika tidak semua pahala harus dikalkulasi dalam bentuk angka-angka yang dapat dijangkau oleh matematika manusia?

Apakah dalil aqli masih boleh dipakai untuk manusia beragama yang suka menghafal dari naqli sambil memberi tanda cek di tiap-tiap amaliah yang berhasil ia lakukan, lalu memamerkan isi rapor tersebut kepada banyak orang?

Dalil hanya tinggal dalil jika tidak diolah dengan kedalaman rasa.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed