DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 17 Mei 2019, 14:30 WIB

Kolom

Merajut Kembali Persaudaraan yang Terkoyak

Sholahuddin - detikNews
Merajut Kembali Persaudaraan yang Terkoyak Sebuah acara buka puasa bersama di Bandung (Foto: Tri Ispranoto)
Jakarta -

Perintah doktrinal puasa Ramadhan sehingga berujung kepada visi la'allakum tattaqun perlu untuk dicamkan kembali oleh umat Islam. Puasa sebagai laku spiritual sebetulnya merupakan ritual yang berlaku pada semua umat beragama sebelum Islam. Puasa merupakan starting point untuk menuju kepada derajat ketakwaan kepada Tuhan.

Pertanyaannya, dapatkah puasa Ramadhan tahun ini mengubah perilaku kita? Atau hanya sekadar serangkaian ritual yang kita lakukan karena sebuah keterpaksaan atau untuk menggugurkan perintah Tuhan? Apakah puasa Ramadhan memiliki implikasi untuk menjadikan kita lebih toleran kepada sesama?

Maraknya berbagai kasus intoleransi di sejumlah kota menjadi penanda semakin menipisnya sikap toleran dan altruistik di masyarakat akar rumput. Kasus intoleransi diperparah dengan masuknya simbol-simbol agama dalam ranah politik. Beberapa kalangan menggunakan idiom agama untuk mendapatkan dukungan massa dalam kontestasi Pemilu 2019. Ada yang menyamakan pemilu dengan Perang Badar sebagaimana yang terjadi pada masa Rasul Muhammad. Dan berdoa jika Allah tidak memenangkan paslonya dia khawatir tidak akan ada yang menyembah-Nya di bumi Indonesia ini.

Idiom-idiom agama yang masuk ke ranah politik ini mengakibatkan terpolarisasinya masyarakat ke dalam dua kubu yang saling berhadapan dan bisa mengakibatkan chaos di aras masyarakat akar rumput. Politik yang merupakan proses demokrasi seharusnya dimaknai dengan tepat sebagai sarana untuk memilih pemimpin yang terbaik. Dalam konteks ini agama semakin dijauhkan dari sifatnya yang sejati yaitu membawah risalah perdamaian antarumat manusia.

Pada konteks ini, dalam Hate Spin: The Manufacture of Religious Its Threat to Democracy (2016), Cherian George memberikan analisis yang cukup baik bahwa gejala intoleransi yang terjadi di negara-negara penganut demokrasi merupakan suatu pertunjukan yang sengaja dibuat oleh wirausahawan politik untuk meraih kekuasaan dengan memanfaatkan sentimen agama.

Sebagian elite politik berusaha menggunakan perbedaan identitas dan agama untuk tabrakan dengan nasionalisme, Pancasila, dan NKRI. Sebagian elite politik mencoba mempersinggungkan agama dengan politik yang kemudian membawa kepada cara keberagaman yang eksklusif, hitam-putih, dan menafikan keragaman. Implikasi lebih dalam dari hal di atas adalah terlepasnya agama dari pesan-pesan damai yang dibawanya dan nilai-nilai agama mengalami penurunan (involusi) ke titik yang nadir.

Momentum

Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk merajut kembali persaudaraan yang terkoyak karena berbagai macam kepentingan politik. Ramadhan menjadi waktu yang tepat bagi elite politik untuk kembali merenungkan substansi dari puasa.

Puasa di samping memiliki visi untuk menjadi manusia yang muttaqin (bertakwa), juga secara horizontal mempertebal persaudaraan dan empati kepada yang lain. Dengan puasa kita menahan lapar, dahaga, dan syahwat duniawi. Dengan menahan lapar kita diajarkan untuk lebih sabar dan memiliki sikap welas kepada sesama.

Momentum Ramadhan sejatinya adalah jeda kemanusiaan universal untuk merajut persaudaraan yang sempat terkoyak dan terobek gara-gara kepentingan politik sesaat. Kepentingan politik yang eksklusif yang mengoyak persaudaraan sesungguhnya tidak kompatibel dengan nilai-nilai yang terkandung dalam puasa bulan Ramadhan.

Sholahuddin, MA alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Kepala Madrasah Aliyah NU Al-mustaqim, Jepara

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed