DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 17 Mei 2019, 14:06 WIB

Kolom

Berkah Teologis Ramadhan

Farid Fad - detikNews
Berkah Teologis Ramadhan IIustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -
Politik identitas sebagai limbah Pilpres 2019 bagai gumpalan awan kelam yang menggelayuti iklim kebangsaan. Residu demokrasi ini tak boleh menjadi beban sejarah yang harus dipikul generasi selanjutnya. Penyebabnya tak lain akibat tumpukan jerami kering berbahan bakar kebencian menjadi empedu dari akumulasi berbagai persoalan. Akibatnya bisa fatal, rajutan solidaritas kebangsaan terancam lusuh bahkan robek.

Apalagi ditambah mengerasnya gugusan syaraf demokrasi akibat ancaman people power yang bermula dari candu memobilisasi massa. Gerombolan massa yang berteriak nyinyir dan provokatif seolah merupakan perwujudan haus panggung. Simbol-simbol agama dimainkan, bahkan dijadikan kedok dan kuda troya menuju panggung kekuasaan.

Rumusannya sederhana, selama gugus sosial masih bertaut erat dengan riak beragama, masa depan politik identitas bisa berjangka panjang. Akibatnya tak sederhana, guratan luka pembelahan sosial bisa menyebabkan infeksi, bahkan bengkak pada anatomi kelenjar sosial.

Memang ciri khas politik identitas tak lain ialah sekilas nampak elok, namun di baliknya penuh trik dan basa-basi busuk. Akibatnya, amat jauh dari etika Qurani. Akhlak sunah pun dikafani, terkubur digantikan etika Machiavellian.

Panggung politik semacam ini hanya akan memiskinkan wawasan spiritualitas kita. Untungnya, di tengah kebisingan imbas residu Pemilu Serentak --Pilpres dan Pileg-- 2019, kehadiran Ramadhan tahun ini bagai suluh penerang yang membawa berkah teologis-kultural hingga menginterupsi banalitas cuaca politik akibat pancaroba politik.

Tak cukup itu, wujudnya hilal Ramadhan ibarat koyo pereda nyeri akibat luka lebam deru pilpres yang mendera postur kebangsaan. Hadirnya Ramadhan ini seolah memantik ubun-ubun kesadaran bahwa keutuhan berbangsa adalah di atas segalanya.

Di sudut terjauh dalam bilik keinsafan kita, kehadiran Ramadhan menebarkan benih harapan. Ia bagai madrasah kehidupan dengan kurikulum spiritual yang ketat. Kehadirannya menginterupsi hingar-bingar kontestasi politik dan konsumerisme. Melalui puasa, laku tarekat spiritual dijalankan, nafsu konsumtivisme yang semula memuai disublimkan, kemudian dipilah secara jeli mana yang kebutuhan dan keinginan.

Puasa menyediakan momen pendedahan bagi kanker rutinitas kita. Rutinitas kehidupan hanya mencetak manusia parsial yang bertumpu pada kesejahteraan ragawi. Terkesan jauh dari sensor nurani. Padahal kolase hidup bukanlah seutas garis tepi dalam skala peta kehidupan semesta. Hidup bukanlah permainan semata, melainkan lebih dari itu, tiap detiknya harus dipertanggungjawabkan kelak.

Puasa laksana rahim spiritual yang menghadirkan waktu inkubasi moral sebulan dalam setahun. Idealnya dari rahim suci tersebut melahirkan insan-insan bertakwa yang berpekerti luhur. Imam Al-Ghazali dalam karyanya Bidayatul Hidayah menuturkan tips mencapai kesempurnaan puasa melalui empat hal. Pertama, menahan pandangan dari hal yang melalaikan zikir pada Allah. Disebabkan mata sebagai penuntun hati, menundukkan mata berarti pula menundukkan keinginan.

Kedua, menjaga ucapan dari hal-hal yang tak bermanfaat. Artinya, peliharalah lisan dan jari kita dari tuturan nir-makna, menebar narasi kebencian dan kebohongan. Ketiga, menjaga pendengaran dari hal-hal yang terlarang, seperti ghibah (gosip), fitnah, hoaks, dan sebagainya. Keempat, mengonsumsi makanan dan minuman yang halal.

Selain itu, puasa juga mendidik kita untuk senantiasa mengasah kepekaan religiusitas. Menyulam empati dalam balutan tempurung akal sehat. Masih banyak orang kekurangan di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan secara tulus. Setidaknya menginsafi bahwa kita tak hidup sendirian dalam jagat buana.

Menjalani puasa Ramadhan selama sebulan penuh tentu membutuhkan stamina spiritual yang prima. Untuk itu perlu ikhtiar terus-menerus mensingkronkan kembali antara raga dan sanubari, otak dan tubuh, ucapan dan perbuatan, serta zikir dan pikir. Urat nadi rohani wajib dirawat agar jangan sampai kendor daya lentingnya. Disebabkan titik sublim dari seluruh proses ibadah ini adalah meningkatnya kualitas ketakwaan (Q.S. 2: 183).

Mohammad Farid Fad pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muta'allimin Kendal, dosen FITK UIN Walisongo Semarang, pengurus PW Pergunu Jateng


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed