DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 15 Mei 2019, 12:30 WIB

Kolom

Ramadhan dan Spirit Perdamaian

Jamal Ma'mur Asmani - detikNews
Ramadhan dan Spirit Perdamaian Foto: Antara Foto
Jakarta - Pasca Pilpres dan Pileg April 2019 kemarin, polarisasi dan konflik sosial masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Masing-masing kubu masih saling menuduh curang kepada kubu yang lain. Ancaman people power semakin menambah runyam kondisi politik mutakhir. Di tengah ketegangan ini, Ramadhan datang menyapa umat dan bangsa. Ramadhan menjadi oase yang menebarkan nilai-nilai persaudaraan dan perdamaian hakiki.

Dalam konteks ini, maka menggali nilai-nilai Ramadhan yang menyiratkan pesan persaudaraan dan perdamaian menjadi sangat mendesak dilakukan supaya ketegangan bangsa bisa reda. Ramadhan adalah bulan suci umat Islam yang penuh kemuliaan. Sesuai sabda Nabi, bulan Ramadhan dibagi tiga. Sepuluh hari pertama, Allah menurunkan kasih sayang (rahmat). Sepuluh hari kedua, Allah menurunkan ampunan (maghfirah). Sepuluh hari terakhir, Allah membebaskan dari api neraka (itqun minan nar).

Yang mendapatkan tiga anugerah tersebut tentu bukan semua orang, tapi yang bersungguh-sungguh mengisi bulan Ramadhan dengan amal saleh, seperti puasa, salat wajib dan tarawih berjamaah, tadarus Alquran, sedekah, menuntut ilmu, dan menghindari hal-hal yang dilarang, seperti menyebar kebohongan, kebencian, permusuhan, dan agitasi destruktif. Nabi menegaskan bahwa orang yang mengisi bulan Ramadhan dengan amal saleh karena keimanan dan hanya mencari rida Allah, maka dosa-dosa masa lalu diampuni Allah.

Tiga anugerah Allah di atas menjadi motivasi umat Islam untuk menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum menebarkan spirit perdamaian kepada sesama. Damai adalah ajaran Islam esensial. Kata Islam adalah satu akar dengan salam yang artinya damai. Para ulama menamakan Indonesia dengan darus salam (negara damai), bukan darul harbi (negara perang), sehingga seluruh anak negeri lintas agama, suku, ras, dan golongan bisa hidup berdampingan secara damai. Kerukunan, persaudaraan, dan kebersamaan menjadi kunci membangun perdamaian di negeri yang pluralistik dan heterogenistik seperti Indonesia ini.

Spirit puasa untuk mengokohkan semangat perdamaian sangat besar karena dalam puasa terdapat beberapa nilai intrinsik yang sangat relevan dalam menumbuhkan pesan perdamaian. Pertama, dalam puasa ada lima hal yang menggugurkan pahala orang yang berpuasa, yaitu: berkata bohong, mencela, mengadu domba, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan sumpah palsu. Lima hal ini harus dihindari dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati supaya syiar Islam menampakkan wajah teduh dan damai.

Media sosial yang sulit dikontrol harus diisi dengan content yang positif konstruktif, yaitu media sharing gagasan, ilmu, hikmah, pengalaman orang-orang saleh, dan tanya jawab persoalan hukum yang dibutuhkan umat. Media sosial jangan dikotori dengan content negatif destruktif, seperti saling menyalahkan, menghakimi, dan menyebar fitnah yang menyebabkan kebencian dan permusuhan.

Kedua, dalam puasa budaya gotong royong sangat dianjurkan. Hal ini tampak dalam pelaksanaan kerja bakti kebersihan di masjid, musala, dan majlis taklim lainnya. Gotong royong juga terlihat dalam pelaksanaan salat tarawih dan witir berjamaah, tadarus Alquran, mengaji ilmu, dan memberikan makanan untuk berbuka puasa di masjid. Di akhir Ramadhan, budaya gotong royong ini semakin kuat, khususnya dalam pembagian zakat fitrah dan mal, santunan anak yatim, fakir miskin, dan kegiatan buka bersama yang diadakan berbagai organisasi dan birokrasi.

Kebersamaan dan kekompakan yang ditunjukkan umat Islam dalam budaya gotong royong di bulan Ramadhan ini menjadi sinyal positif bagi solidaritas dan kohesivitas sosial dan secara otomatis meminimalisasi potensi konflik sosial yang kontraproduktif bagi pembangunan nasional yang meliputi seluruh aspek kehidupan.

Ketiga, tujuan utama orang berpuasa adalah mencapai derajat orang yang bertakwa. Salah satu indikator orang yang bertakwa adalah menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya, baik yang berkaitan dengan Allah maupun kepada sesama dan lingkungan. Dalam konteks kepada sesama dan lingkungan, seseorang diharuskan menjadi orang yang mampu menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang melukai perasaan orang lain. Mengolok-ngolok, merendahkan, memanggil dengan sebutan yang jelek, berburuk sangka, dan mencari kesalahan orang lain adalah perbuatan yang dilarang dalam agama yang harus dijauhi.

Keempat, spirit menuntut ilmu di bulan puasa sangat tinggi. Masjid, musala, pesantren, lembaga pendidikan, dan majlis taklim lainnya berbondong-bondong mengadakan forum pengajian ilmu yang dihadiri umat Islam dengan penuh antusias. Spirit menuntut ilmu ini juga terlihat di media, cetak dan elektronik, yang intens mengadakan program siraman rohani selama bulan Ramadan dengan menampilkan tokoh-tokoh nasional, seperti Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Din Syamsuddin, dan lain-lain.

Dalam forum kajian ilmu tersebut, sosialisasi ajaran Islam yang menebarkan kasih sayang dan kedamaian sangat kuat. Sosialisasi ini secara tidak langsung masuk ke alam bawah sadar umat dan bangsa yang termanifestasi dalam ucapan dan perbuatan sehari-hari.

Kelima, puasa mendorong spirit berbagi kepada orang lain, khususnya mereka yang membutuhkan. Spirit berbagi adalah spirit yang lahir dari rasa empati dan rasa cinta kepada sesama. Cinta kepada kemanusiaan adalah strata keimanan yang agung sehingga Nabi memerintahkan umat Islam untuk mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri. Apa yang membuat susah orang lain dihindari dan apa yang menjadikan bahagia orang lain dilakukan dengan penuh ketulusan. Kebahagiaan orang lain adalah kepuasan yang tidak ternilai.

Lima nilai puasa ini akan membentuk karakter individu dan sosial yang menebarkan pesan persaudaraan dan perdamaian, sehingga persatuan nasional bangsa ini tetap terjaga. Berkah Ramadhan untuk bangsa seperti inilah yang diharapkan semua elemen bangsa.

Jamal Ma'mur Asmani Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning (LESKA) Pati, peneliti sosial keagamaan


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed