DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 14 Mei 2019, 14:10 WIB

Kolom

Saatnya Ekonomi Indonesia Berlari Kencang

Jusup Silitonga - detikNews
Saatnya Ekonomi Indonesia Berlari Kencang Ilustrasi: Andhika Akbarayansyah/detikcom
Jakarta -
Penghitungan suara Pilpres 2019 pada portal KPU sudah mencapai kisaran 70%, di mana secara historical maupun statistik, jika tidak ada hal luar biasa yang terjadi, sudah dapat dipastikan siapa pemenang pemilu tahun ini. Dengan demikian, sudah seharusnya pasangan yang diperkirakan menang menyiapkan langkah-langkah besar dan strategis untuk menumbuhkan ekonomi lebih tinggi lagi agar bisa segera dieksekusi pada waktu dilantik. Again, it's the economy!

Pertumbuhan yang Datar

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2019 di angka 5.07%, yang tentu saja berada di bawah prediksi pemerintah, bank sentral, maupun pasar. Hal ini tentu saja kontras dengan ekonomi Amerika Serikat yang tumbuh lebih tinggi daripada konsensus pasar. Hingar-bingar (kampanye) pemilu di dalam negeri tampaknya tidak berdampak cukup banyak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan pertama 2019. Ekspor dan impor yang justru anjlok menunjukkan bahwa fundamental ekonomi kita belum tertata dengan cukup baik.

Jika tren pertumbuhan ekonomi dalam negeri di kisaran hanya 5% yang merupakan the new normal terus berlanjut, mimpi untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia tampaknya hanya menjadi kenangan. Kita menyadari bersama bahwa pertumbuhan yang biasa-biasa saja tidak dapat membawa Indonesia melangkah lebih cepat. Diperlukan strategi dan eksekusi yang jauh lebih baik di masa yang akan datang.

Lompatan Besar

Pemerintah, pelaku bisnis, maupun akademisi perlu duduk bersama untuk merumuskan strategi ekonomi di masa depan. Reformasi menyeluruh pada ekonomi Indonesia sangat diperlukan. Sangat penting untuk melakukan big leap forward untuk mengubah pola ekonomi Indonesia yang berjalan belakangan ini, sehingga pertumbuhan ekonomi yang optimal dapat dicapai.

Wacana ibu kota baru yang dihembuskan akhir-akhir ini tentu saja tidak cukup untuk melakukan lompatan ekonomi. Pemerintah perlu melakukan big push terhadap pasar. Hal yang mendesak untuk dilakukan adalah penguatan fundamental ekonomi kita. Sumber pertumbuhan yang konstan dan membosankan mengindikasikan bahwa kita berjalan lambat. Ekspor yang juga tidak bertumbuh dengan pesat membuktikan bahwa kita kurang memanfaatkan potensi dalam negeri.

Berikutnya, pertumbuhan konsumsi yang landai jika dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk membawa pesan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat berkembang dengan biasa-biasa saja. Dengan demikian, hal yang mendesak dilakukan adalah mengubah skema pertumbuhan dalam negeri. Pemerintah perlu menguatkan keunggulan komparatif Indonesia. Selain itu, perlu dilakukan transformasi besar-besaran di sektor barang dan jasa.

Pemanfaatan nilai tambah terhadap barang dan jasa terhadap ekonomi perlu lebih dioptimalkan lagi. Kemudian, infrastruktur yang dibangun dengan cukup masif belakangan ini juga wajib dibarengi dengan menumbuhkan industri-industri baru, sehingga dapat menimbulkan multiplier effect.

Bukan Stabilitas

Jika menilik pertumbuhan negara-negara yang ekonominya bertumbuh cukup tinggi di emerging market, salah satu kuncinya adalah investasi. Foreign Direct Investment (FDI) adalah hal yang penting dalam investasi. Saat ini FDI Indonesia masih sangat kecil, di kisaran 2% dari PDB. Di masa yang akan datang, pemerintah perlu membuka FDI dengan besar-besaran. Ease of doing business perlu diperbaiki dan ditingkatkan agar lebih baik dibandingkan dengan negara emerging market lainnya, dan insentif fiskal wajib diberikan kepada investasi baru, sehingga Indonesia dapat menjadi tujuan utama investasi.

Selanjutnya, kebijakan suku bunga rendah adalah sangat penting untuk menumbuhkan investasi. Suku bunga yang cukup tinggi belakangan ini perlu diturunkan berbarengan dengan penguatan ekonomi domestik. Perlu disadari bersama bahwa suku bunga belakangan ini menimbulkan kekurangyakinan di pasar. Oleh karena itu, kebijakan yang akhir-akhir ini lebih berfokus kepada stabilitas ekonomi, wajib diubah dengan berfokus kepada pertumbuhan.

Kebijakan impor akhir-akhir ini yang cukup tinggi yang sedikit banyak berdampak terhadap inflasi yang rendah juga perlu diubah. Dengan adanya defisit current account tentu saja mengurangi potensi pertumbuhan ekonomi kita. Pemerintah perlu mengurangi main aman dengan menghilangkan hal-hal yang menghambat potensi bangsa kita.

Pemerintah juga perlu mendorong dan memfasilitasi iklim usaha yang lebih kondusif. Diperlukan sinergi yang lebih baik dan lebih nyata antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, dan koperasi. Kemudian, BUMN yang seharusnya menjadi salah satu motor ekonomi perlu direstrukturisasi. Skandal Garuda Indonesia yang diduga memanipulasi laporan keuangan menunjukkan buruknya pengelolaan BUMN. Bisa jadi, hal tersebut juga terjadi di korporasi negara lainnya jika dilakukan audit secara menyeluruh.

Selain itu, ditetapkannya Direktur Utama PLN sebagai tersangka oleh KPK juga menjadi bukti kurang berintegritasnya pengelolaan BUMN kita. Restrukturisasi BUMN dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dalam memberikan manfaat langsung kepada negara berupa pajak, dividen, dan PNBP yang lebih optimal di masa depan, serta terbukanya lapangan kerja yang lebih besar di berbagai sektor.

Bergerak Dinamis

Menilik hasil penghitungan sementara KPU, sudah semestinya petahana akan melanjutkan ke periode berikutnya. Kita menyadari bersama bahwa pasangan ini adalah win-win solution terhadap isu agama yang belakangan berkembang. Pasangan ini boleh jadi tidak cukup maksimal untuk menjadi kekuatan besar bagi bangsa kita untuk lima tahun ke depan.

Perlu dipikirkan adanya shadow leader ataupun Menteri Pertama yang dapat menguatkan pasangan terpilih untuk membawa Indonesia bergerak cepat. Sosok ini kiranya bebas dari kontroversi dan sangat lincah bergerak sehingga dapat menyelaraskan segala proses pemerintahan agar dapat berjalan lebih baik dan lebih cepat. Dalam kondisi perlambatan ekonomi dunia, diperlukan kematangan berpikir dan kecepatan serta ketepatan eksekusi agar Indonesia tidak terjebak dalam middle income trap, dan supaya dapat membawa Indonesia ke next level.

Maju Bersama

Hal yang harus segera dilakukan berbarengan dengan penguatan ekonomi adalah rekonsiliasi. Dari kedua belah pihak perlu menyudahi segala kegaduhan politik. Dari sisi penantang perlu meyakinkan pendukungnya untuk menyudahi segala kontroversi. Dari sisi petahana pun perlu menyudahi ketidakadilan hukum yang selama ini dikeluhkan oleh pihak yang lain.

Pihak lawan perlu dirangkul dalam pemerintahan yang akan datang. Ide dan pemikiran yang baik dari pihak yang kalah perlu diakomodasi dalam bentuk kebijakan yang nyata. Diperlukan dukungan dari semua komponen bangsa untuk memajukan Indonesia. Stabilitas politik tentu saja sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Proses politik yang panjang selama ini sudah sepantasnya membawa dampak nyata bagi masyarakat.

Jusup Silitonga, MBA pemerhati ekonomi


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed