DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 13 Mei 2019, 10:07 WIB

Kolom Kang Hasan

Warganet yang Maha Kuasa

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Warganet yang Maha Kuasa Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Anak muda itu tampak seperti seseorang yang pemalu. Tapi dalam keramaian, entah apa yang mendorongnya, ia sedikit bersemangat. Saya bayangkan dalam keseharian ia dicekoki oleh berbagai fitnah tentang Jokowi. Ia percaya fitnah-fitnah itu. Ia pun menyampaikan sesuatu yang berbasis pada apa yang ia yakini.

HS, sang pengucap ancaman itu, mungkin tak pernah menyangka bahwa ucapannya itu membawa masalah serius baginya. Ia kini ditahan polisi. Ancaman hukumnya bisa jadi sangat serius, mulai dari ujaran kebencian, sampai tuduhan berniat makar. Semua berawal dari hal yang sangat sepele, sebuah rekaman.

Dalam kerumunan orang banyak, sangat mudah bagi seseorang untuk euforia, sehingga ia bertindak yang tidak biasa. Itulah mungkin yang dialami HS. Ia bersemangat, tapi sebenarnya tampak sedikit malu-malu, mengucapkan ancaman tadi. Dalam keadaan biasa, euforia semacam itu sebenarnya dengan mudah bisa kita temukan. Umumnya tindakan semacam itu hanya akan menguap di tengah berbagai keriuhan lain. Tapi kali ini menjadi sangat serius karena direkam, kemudian di-viral-kan.

Dunia maya, jagat media sosial kini sedang dalam situasi perang. Orang-orang seakan sedang berlomba untuk menjebloskan orang lain ke penjara, atau membuat orang itu terpuruk. Sekali seseorang diberi cap sebagai "musuh sosial", maka setiap elemen dalam jaringan sosial yang dibangun melalui media sosial akan memburunya.

Saya mengkritik penyebaran video tersebut. Bagi saya, HS hanyalah anak muda bodoh yang terlalu bersemangat di tengah kerumunan. Sulit bagi saya untuk percaya bahwa ia benar-benar berniat memenggal kepala orang, apalagi seorang Presiden. Seseorang yang keberatan dengan kritik saya itu mengatakan bahwa menyebar video itu adalah sebuah jihad. Bayangkan, jihad!

Jadi, kalau seseorang mengucap sesuatu, pastikan bahwa ia tidak direkam. Sekali seseorang merekamnya, maka ucapan itu bisa beredar luas, tanpa bisa dikontrol. Yang lebih mengerikan, ucapan atau tulisan itu bisa dipotong, disunting, sehingga maknanya keluar dari konteks. Sekali itu beredar, maka habislah si pengucapnya.

Dalam sebuah diskusi di Surabaya saya sempat berhenti bicara ketika saya tahu ada yang sedang merekam pembicaraan saya. Saya suruh ia berhenti merekam dan menghapus rekamannya. Saya tidak ingin apapun yang saya ucapkan diberi makna sesuka hati oleh pendengarnya kemudian di-viral-kan.

HS akhirnya tertangkap. Tapi itu pun belum memuaskan warganet. Pihak lain dalam video itu harus dikejar. Siapa perempuan yang ada di video itu, yang merekam adegan tadi? Lalu ada celetukan dari seorang warganet. "Oh, itu aku kenal, namanya Agnes, ia seorang guru di Sukabumi," celetuk seseorang. "Kesaksian" itu kontan dijadikan sebagai titik awal untuk memburu Agnes.

Pagi ini saya melihat data Agnes ditampilkan di laman Facebook seseorang. Data kedinasan Agnes sebagai seorang guru yang entah dicomot dari mana. Posting itu tentu saja disertai berbagai komentar menghujat.

Eh, ternyata Ibu Agnes yang asli, hari itu sedang mengajar di sekolahnya. Pulangnya ia pergi belanja ke minimarket. Bukti "alibi" itu berupa kertas cetakan mesin hitung di kasir toko tempat ia belanja. Ia bawa itu ke polisi untuk menunjukkan bahwa ia tidak berada di tempat kejadian. Bukti itu dinyatakan sahih oleh polisi. Perempuan di video itu bukan Ibu Agnes.

Tapi siapa peduli? Posting yang memuat kabar soal pelaku perekaman itu sudah dibagikan lebih dari 1500 kali. Inilah keajaiban di dunia maya. Sekali orang membaca informasi, ia akan merekamnya sebagai kebenaran. Ketika ada bantahan pun, kebenaran tadi sudah sulit dikoreksi. Apalagi bantahan biasanya kurang bergaung dibanding dengan tuduhan. Jadi apa boleh buat, bantahan Ibu Agnes boleh jadi hanya akan jadi sebuah tautan di dunia maya, tidak dianggap penting oleh warganet yang sudah percaya dan membuat kesimpulan.

Situasi ini sudah berlangsung setidaknya 5 tahun, sejak Pilpres 2014. Bahkan sudah lebih dari itu kalau kita hitung dari Pilgub DKI 2012. Usai pengumuman hasil pemilu pada 22 Mei nanti jangan berharap situasi akan berubah. Ini akan terus berlanjut, dan makin menguat. Artinya, permusuhan dan perpecahan makin membesar. Disinformasi akan terus berkembang.

Disinformasi dihasilkan oleh kubu mana pun. Konyolnya, kubu-kubu itu saling tuding, menuduh pihak lain sebagai penyebar informasi palsu. Mereka semua benar, bahwa pihak-pihak yang mereka tuding adalah penyebar informasi palsu. Mereka hanya lupa menuding diri sendiri.

Saya mengajak warganet untuk menyebar muatan positif. Kalau muatan negatif, asal kita mau saja, ada ratusan ribu yang bisa kita bagikan. Tapi untuk apa? Cobalah habiskan waktu Anda untuk mencari informasi positif, tentang kemajuan sains, orang-orang inspiratif, penyelamatan lingkungan, trik dan teknik berbisnis, pengembangan diri, dan sebagainya. Baca untuk menambah pengetahuan Anda. Bagikan, agar orang lain mendapat manfaatnya.

Kalau Anda mem-viral-kan keburukan seseorang sampai dia masuk penjara, apa manfaatnya buat Anda, selain kepuasan membalas dendam?

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed