DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 12 Mei 2019, 12:03 WIB

Jeda

Puasa adalah Kesunyian Masing-Masing

Mumu Aloha - detikNews
Puasa adalah Kesunyian Masing-Masing Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Seorang pria muda berbusana kantoran membaca Alquran di dalam bus Transjakarta. Suara sangat lirih, diusahakan hanya cukup untuk didengarkan oleh telinganya sendiri. Tapi, aku yang duduk di sebelahnya tak urung tetap bisa menangkap sayup-sayup alunannya. Seolah memastikan bahwa ia benar-benar sedang melakukan apa yang hanya bisa aku duga, aku pun menoleh sekilas ke arahnya, menatap layar HP di genggamannya, dan terlihat rentetan rapi huruf-huruf Arab. Benar, ia memang sedang membaca Alquran.

Bulan Puasa selalu datang memberi sedikit perbedaan. Dan, kadang yang sedikit itu sudah cukup. Pada zaman yang sudah tidak waras ini, apa sih yang masih bisa kita harapkan? Kita tidak bisa lagi berharap terlalu banyak, pada apa yang kita inginkan, pada kondisi-kondisi ideal yang kita angankan. Perbedaan kecil menjadi begitu berarti, terasa istimewa, dan menimbulkan semacam perasaan melankolis -haru, bahagia, berlebihan.

Mendadak aku teringat Bulan-Bulan Puasa yang telah kulewati. Pada masa yang telah tertinggal jauh, ketika kehidupan masih terasa serba sederhana, di kampung halaman, dalam usia belia. Aku teringat saat-saat paling sepi ketika menjalankan ibadah puasa. Waktu itu aku masih SMP. Setiap malam bangun untuk makan sahur hanya berdua dengan ibu. Tetangga kanan-kiri nyaris tak ada yang puasa. Sehabis makan sahur, mendengarkan ceramah di radio sambil menunggu seruan imsak. Menjelang azan Subuh bangkit, mengambil wudhu, bersarung, lalu berjalan ke masjid. Menyusuri jalan kampung yang sunyi-senyap.

Bagi sebagian kita, puasa adalah kenangan. Memori yang tertanam kuat di kepala sampai usia dewasa, sebagaimana kemudian tertuang kembali dalam novel-novel, seperti Dari Hari ke Hari karya Mahbub Djunaidi hingga salah satu buku awal dari seri cerita kenangan Nh Dini yang berjudul Sebuah Lorong di Kotaku. Semua kenangan itu terasa begitu romantis, syahdu, indah, penuh rasa gembira tak terlukiskan, dan oleh karenanya menjadi tak terlupakan sepanjang hidup. Begitulah bulan puasa pada masa-masa dahulu.

Aku pernah, merasa agak frustrasi dan latah dengan mengatakan, bahwa bulan puasa tahun-tahun belakangan ini sudah berubah. Bulan Puasa rasanya tak memberikan perbedaan apa-apa. Orang-orang tetap saling caci, mengumbar kebencian pertengkaran di media sosial, menyebarkan kebohongan-kebohongan dan bertukar teriakan penuh ancaman. Berita-berita tentang razia tempat makan yang "bandel" dan tetap buka di siang hari masih selalu menghiasi media massa. Sesuatu yang dulu tidak pernah terjadi, tidak pernah menjadi isu, dan tidak pernah menjadi bagian dari Bulan Puasa.

Rupanya, kerinduan pada momen-momen puasa sebagai memori yang indah dan penuh kedamaian juga dialami oleh banyak orang. Seorang teman di status Facebook-nya menulis: Aku rindu kenangan puasa tahun 2004. Saat iklan TV meriah dengan suara melodius Ebiet G Ade. Bukan seperti sekarang, TV meriah dengan suara sumbang dari para politikus. Pernyataan itu segera mendapat banyak komentar, salah satunya menyahuti dengan nada kerinduan yang serupa: Beberapa hari lalu, tiba-tiba aku kangen Krisdayanti dengan gamis putih dan kaki pincang di sinetron yang backsound-nya kala manusia ada dalam derita...

Artinya, memang ada yang hilang hari-hari ini, tahun-tahun belakangan ini, dari Bulan Puasa yang -mestinya- penuh berkah, penuh rahmat, dan kelak bisa menjadi kenangan indah di kemudian hari. Tapi, benarkah Bulan Puasa sudah berubah? Sebagai orang beriman kita tentu saja percaya bahwa bulan ini tetaplah bulan suci yang penuh ampunan, saat ketika umat Islam menahan diri untuk meningkatkan ketakwaan, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum zaman kita.

Jangan-jangan kita sendiri yang berubah. Bahwa kini kedamaian itu telah berganti dengan keberisikan yang tak terbendung dan tiada ampun, bahwa ketika kita dewasa, berkeluarga, menjalani hidup di kota besar, suasana Bulan Puasa tak seindah dan semenggembirakan ketika kecil itu, barangkali itu sudah merupakan suatu keniscayaan. Banyak hal memang telah hilang. Lantas, apakah kita akan ikut larut, hanyut, dan menyerah pada keadaan?

Modernitas (aduh, bagaimana cara menghindari kata yang super-garing ini) telah membebani puasa dengan rupa-rupa tafsir aktual dan kekinian yang disesuaikan dengan tuntutan zaman, dari soal solidaritas sosial hingga belakangan ini "post-truth". Tafsir-tafsir seperti itu tentu saja bolah-boleh saja, dan sah adanya. Meskipun pada kenyataannya, siapa sih di antara kita yang benar-benar misalnya menjadi begitu berempati pada orang miskin berkat berpuasa? Bukankah puasa justru membuat kita kalap dan gelap mata, mengumpulkan semua makanan dari seisi dunia di atas meja sejak pukul lima?

Sebuah komik strip online, Nyne Comics, dengan nakal namun sangat baik menggambarkan situasi puasa sekarang, yang telah bergeser dari kewajiban ibadah menjadi bagian dari ritual konsumsi budaya massa yang kapitalistik: sahur makan banyak biar siang nanti kuat berpuasa. Dan tak lupa minum vitamin agar tidak lelah seharian. Nanti berbuka menunya kolak, pancake, dan malamnya pakai dendeng, rendang, ayam bakar dan sedikit cemilan. Begitulah, alih-alih menahan nafsu atau melatih empati kita kepada orang miskin dengan ikut merasakan lapar seperti mereka, yang ada puasa justru membuat kita semakin lupa bagaimana rasanya lapar.

Pada akhirnya, kita mungkin hanya bisa kembali pada klise tentang hidup, bahwa semua itu pilihan. Kita bisa memilih menjalani puasa dengan segala hiruk-pikuknya. Toh setiap zaman memang melahirkan kegaduhannya sendiri-sendiri, melahirkan generasi-generasi yang berbeda-beda, lengkap dengan lawakan-lawakannya yang lain pula. Tahun ini, lawakannya adalah tentang orang yang dihipnotis hingga di luar kemauannya sendiri memasuki warteg, dan baru sadar setelah keluar dan kenyang. Lawakan yang terus abadi adalah mem-posting foto-foto makanan dan minuman yang mengundang selera di media sosial di siang bolong, dengan caption yang lucu-lucu.

Tapi, kita juga bisa, kau tahu, menempuh jalan yang lain, dengan menjalani puasa ini dalam kesunyianmu sendiri. Apakah tadi aku sudah mengatakan bahwa kita kini hidup di zaman yang tidak waras? Siapa lagi yang bisa kita percaya? Mau mengikuti ustad A atau ustad B, mau mengidolakan kiai X atau kiai Y, nanti jika mereka ternyata berbeda pilihan politik dengan kita, mendukung calon pemimpin yang berbeda dengan yang kita dukung, atau bahkan sekadar mengkritik pimpinan yang kita idolakan, malah jadinya hanya membuat kita kecewa, membenci, dan antipati. Subhanallah....

Belum pernah rasanya, kita mengalami zaman yang membuat kita sesibuk sekarang ini. Kita hidup dalam ruang-ruang paralel, ceruk-ceruk kecil simulasi, yang tak lagi jelas apakah itu nyata atau maya, dan tak bisa dibedakan lagi mana yang palsu mana yang sejati. Informasi mendatangi kita tanpa perlu kita cari, dan sebagian besar darinya bahkan tidak pernah kita inginkan, karena memang tidak ada gunanya. Tapi yang nyata dan yang maya, yang palsu dan yang sejati itu melebur, menenggelamkan kita dalam situasi yang serba tidak jelas, membuat kita harus wara-wiri tiada henti, detik ini di sini, detik ini di sana, dari grup ke grup WA, dari timeline ke timeline, dari story ke story, sampai kita tidak tahu sampai di mana dan ada di mana kita dalam mobilitas ruang dan waktu.

Aku menoleh sekali lagi ke pria di sampingku di bus Transjakarta dalam perjalanan ke tempat kerja pagi itu, melihat kembali ke layar HP dalam genggamannya, kali ini seolah hendak memastikan bahwa deretan huruf-huruf Arab yang dibacanya itu masih berjajar rapi di sana. Ia begitu tenang, tak terusik oleh apapun di sekitarnya. Dengan gadget di tangannya, dengan dunia dalam genggamannya, ia telah mengabaikan apa yang bisa diabaikan, dan memilih apa yang dia inginkan, seolah-olah mengingatkan kembali kepada orang-orang di sekitarnya, bahwa puasa adalah ibadah yang paling sunyi, dan hanya bisa dihayati dalam kesendirian yang paling paripurna. Segala keriuhan itu nyaris tak menandakan apa-apa. Sebab, hanya kita dan Tuhan yang tahu, kita berpuasa atau tidak.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed