detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 12 Mei 2019, 10:46 WIB

Kolom

Komedi di Tengah Ketersinggungan Religius

Irfan L. Sarhindi - detikNews
Komedi di Tengah Ketersinggungan Religius Andre Taulany bertemu Ustaz Adi Hidayat (Foto: Dok. Instagram/ustazadihidayat)
Jakarta - Pertanyaan yang dapat kita ajukan bersama kepada diri kolektif kita sebagai umat Islam Indonesia kaitannya dengan kasus yang dihadapi Andre Taulany adalah: apakah komedi Indonesia telah sekali lagi meloncati pagar pembatas sehingga tidak sensitif, ataukah batasan yang dikonstruksi religiusitas kita terlampau "rapuh" sehingga mudah sekali bagi kita merasa tersinggung? Andre Taulany dipolisikan oleh PA 212 karena dianggap telah menghina Nabi Muhammad setelah sebelumnya dianggap menghina ulama.

Menyikapi hal tersebut, Andre berinisiatif sowan ke Ustaz Adi Hidayat untuk meminta maaf. Andre dihujat netizen karena lawakannya soal "Adimad" plesetan dari "Adidas" dianggap menghina dua ulama-Ustaz Adi Hidayat dan Ustaz Abdul Somad. Ustaz Adi Hidayat sendiri bereaksi tak kalah "keras". Ia menyebut tindakan Andre berlebihan dan akan menjadi awal kehancuran karier co-host Ini Talkshow tersebut. Namun kemudian Ustaz Adi Hidayat menerima kunjungan Andre dan mengajak masyarakat memaafkan kekhilafan mantan vokalis Stinky tersebut.

Tetapi sepertinya itu belum cukup. Andre bahkan juga sowan ke MUI dan NU untuk meminta maaf dan meminta dukungan moral di tengah kecaman dan "hukuman sosial" yang diberikan oleh netizen melalui tagar "AndreTaulanyKufurNikmat". Kiai Said merespons bahwa Andre tidak mesti meminta maaf kepada NU, cukup bertaubat, beristigfar. Namun begitu ia tetap menerima iktikad baik dari sang komedian dan mengajak umat Islam untuk sama-sama memaafkan, karena --ibarat kata pepatah-- lidah tak bertulang. Respons yang sama lebih-kurang ditegaskan oleh MUI.

Ihwal sejauh mana Andre akan dimaafkan dan/atau perkara hukumnya akan diselesaikan secara "damai", kita masih harus menunggu. PA 212 sejauh ini mengklaim proses hukum jalan terus sedang hukuman sosial kepada Andre juga seperti belum akan selesai. Hanya, Andre tidak sendiri. Sepanjang 2018 kita menyaksikan bagaimana kasus serupa menimpa Sukmawati, Joshua Suherman, Ge Pamungkas, Meiliana, serta Tretan Muslim, dan Coki Pardede. Kasus serupa juga menimpa ustaz Evie Effendi saat menyebut Nabi Muhammad pernah sesat. Dalam banyak situasi, kasus hukum yang menimpa mereka berakhir "menggantung" dan masyarakat lambat-laun melupakan.

Terlepas dari itu semua, kalau kita lihat, sebagian besar nama-nama di atas adalah komedian, lebih spesifik, stand-up comedian atau comic. Stand up comedy sendiri dikonstruksi sebagai medium "komedi cerdas" atau dark comedy. Walaupun karena industrialisasi, tidak selalu materi yang dimunculkan bersifat satir, kritis, dan dalam. Beberapa memilih lelucon yang bisa ditertawakan banyak orang, yang cenderung lebih light sehingga lebih marketable. Atau, lebih aman.

Kenapa? Mungkin karena sebagian persoalan dan kenaifan kita berhubungan dengan semangat beragama. Apalagi Indonesia sedang menyaksikan penguatan religious wave, yang diperkuat oleh industri komersial sebagai bagian tidak terpisahkan dari meningkatnya jumlah kelas menengah Muslim (terutama) di perkotaan. Sayangnya, sebagian dari kita masih menganggap kritik atas perilaku beragama kita yang tidak sempurna sama dengan kritik atas Islam itu sendiri. Alhasil, kita jadi mudah tersinggung.

Kita mungkin harus belajar lebih banyak pada bagaimana Nabi Muhammad merespons tiga orang Arab Baduy yang mengencingi Masjid Nabawi. Alih-alih merasa dinistakan dan tersinggung, Nabi Muhammad membiarkan Arab Baduy itu menyelesaikan kencingnya, baru menjelaskan kepada mereka bagaimana tindakan mereka sebetulnya tidak tepat. Apakah kemudian Arab Baduy itu dimejahijaukan atau "dihukum sosial" oleh "netizen" Madinah? Tidak. Bahkan Nabi menyuruh para sahabat untuk membersihkan bekas kencing para "penista" Masjid Nabawi tersebut.

Dalam perspektif Nabi, tiga orang Arab Baduy ini belum mengetahui role of conduct Madinah, lebih khusus masyarakat Islam, jadi mereka melakukan sesuatu yang tanpa mereka sadari dan maksudkan, menyinggung perasaan dan semangat keberagamaan masyarakat Muslim Madinah. Dalam kasus Andre, kita bisa ber-husnu dzan bahwa dia tidak punya intensi untuk merendahkan/menghina Nabi. Kita bisa membayangkan bagaimana tuntutan sebagai pekerja industri hiburan yang harus tampil setiap hari, harus melawak secara live secara profesional, memang kadang membuat potensi keceletot lidah amat besar.

Itu sebabnya, saya kira, dalam diskusi ihwal stand comedy di kanal Youtube-nya Raditya Dika, para "founder" stand up comedy menjadi amat concern ihwal pemisahan ruang privat dan ruang publik. Mereka sadar bahwa tidak semua materi komedi dapat diterima oleh semua kalangan sehingga beberapa performance stand up comedy didesain untuk "tidak direkam" apalagi "disebarkan" --ia bersifat "privat" bagi penonton yang satu frekuensi. Dan kalau kita lihat, beberapa perdebatan ihwal "penistaan agama" berawal dari viral-nya sesuatu yang mulanya bersifat "privat". Ia bocor ke ruang publik dan dianggap oleh sebagian pihak sebagai tidak etis, tendensius, dan/atau tidak pada tempatnya.

Jadi, situasinya mungkin tidak sehitam-putih komedi yang kelewatan versus religiusitas yang gampang tersinggung. Sebagian malah mengaitkannya dengan pasal karet penistaan agama yang "problematis" --di satu sisi beriktikad melindungi hak beragama setiap orang, di sisi lain berkecenderungan dijadikan landasan untuk kasus-kasus penistaan agama yang bagi sebagian orang, katakanlah, "tidak pada tempatnya". Hanya, intensitas perdebatan terkait persoalan-persoalan ini pada akhirnya, bagi saya, membangun suatu kesadaran "diawasi", persis seperti prinsip panopticism yang dikemukakan Michael Foucault.

Filsuf Prancis tersebut menjelaskan bagaimana manusia tidak berperilaku secara "bebas" alih-alih mengikuti harapan yang diembankan oleh pihak-pihak yang mengawasi. Contohnya, ketika anak sekolah berada di bawah pengawasan CCTV, mereka akan bertingkah sebagaimana ekspektasi pihak sekolah. Dalam satu dan lain hal mungkin itu baik, tapi di sisi lain, menurut Foucault, hal tersebut dapat membuat seseorang tidak dapat menemukan dirinya yang otentik, kritik menjadi kering, kemampuan menertawakan diri sendiri terkerangkeng.

Jika itu yang terjadi, maka "CCTV" terhadap religiusitas kita ini, yang membuat sebagian dari kita sedikit-sedikit merasa tersinggung, apakah akan mendorong tercapainya semangat dan pemahaman keislaman yang utuh atau justru memperkuat intensi corak keislaman versi salah satu pihak saja --yaitu pihak yang paling lantang berteriak dan paling reaktif "menyerang-balik" di internet? Persis seperti napi yang mau patuh pada sipir karena tidak mau "nyari" masalah dan bukan karena ingin menjadi pribadi yang lebih baik?

Irfan L. Sarhindi cendekiawan Muslim


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com