DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 11 Mei 2019, 12:45 WIB

Kolom

Puasa dan Kegembiraan Belanja

Kamil Arifin - detikNews
Puasa dan Kegembiraan Belanja Foto: Istimewa
Jakarta - Salah satu tanda orang beriman adalah bergembira menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Bergembira karena apa? Bergembira karena di dalamnya, penuh dengan keutamaan pahala dan kemaafan ilahi.

Tapi, benarkah kita merindukan Ramadhan?

Kita nyatanya benar-benar bergembira menyambut dan memasuki bulan Ramadhan. Tapi, kegembiraan kita tampaknya bukan karena keutamaan Ramadhan sebagai ibadah yang memiliki banyak keistimewaan.

Kegembiraan kita justru terletak pada sesuatu yang lain, sesuatu yang berada di luar substansi Ramadhan itu sendiri. Kegembiraan kita adalah kegembiraan berbelanja. Kegembiraan berbelanja yang saya maksud di sini adalah tren dan gejala meningkatnya konsumtivisme umat dalam dan selama bulan Ramadhan.

Kegembiraan berbelanja ini seringkali didukung oleh media-media yang memang memiliki peran strategis membentuk "imajinasi" bagaimana seharusnya muslim-muslimah menyambut dan mengisi Ramadhan melalui iklan-iklan yang tiba-tiba mendadak "islami": harus pakai sarung, gamis, dan mukena ini; harus berbuka dan sahur makanan dan minuman yang ini; harus berkumur-kumur pakai produk ini, dan seterusnya.

Kita bukannya belajar menahan diri. Tapi malah justru semakin konsumtif, boros, dan gila belanja. Kita semakin impulsif dalam berbelanja. Tanggul pertahanan kita dalam berbelanja di bulan Ramadhan seperti jebol tak karuan. Banjir hasrat berbelanja menggenangi ruang-ruang pasar-baik pasar tradisional maupun modern.

Seorang pakar perencana keuangan, yang saya baca di media, bahkan memberikan gambaran bahwa di bulan puasa tahun ini masyarakat terutama di kalangan kelas menengah perlu mengeluarkan uang belanja tambahan sekitar Rp 1 sampai Rp 4 jutaan. Begitulah, kita meraih kegembiraan dari Ramadhan dengan semakin banyak berbelanja.

Lihatlah, kalau masih tak percaya. Hari-hari dan malam-malam pertama Ramadhan seperti saat ini, mesjid-mesjid penuh sesak. Tapi lama-lama, tunggu seminggu dua minggu lagi, mesjid yang tadinya sesak semakin berkurang dan terus berkurang karena kita pindah ke mall-mall, ke toko-toko butik. Melakukan ibadah yang lain, menemukan kegembiraan yang lain: ya kegembiraan berbelanja itu.

Jika Buya Hamka dalam "tafsir kebahagian"-nya dengan mengutip Ibn Khaldun kira-kira menulis: "Kebahagiaan itu bersumber dari ketaatan", maka bagi kita kebahagiaan itu bersumber dari berbelanja. Apalagi jika kebetulan banyak diskon besar-besaran yang ditawarkan seperti halnya di saat Ramadhan. Wajar jika sempat muncul guyonan khas bulan Ramadhan: banyak orang memburu "lailatul diskon" , bukan "lailatul qadar".

Puasa Kelas Tiga

Tentu saja, dari sudut pandang fiqih, berbelanja berlebihan dan konsumtivisme di bulan Ramadhan memang tidak akan membatalkan dan merusak puasa. Apalagi jika konsumtivisme itu dilihat dari sudut pandang yang khusnudzon dan positif: banyak belanja karena untuk berbagi pada orang-orang lain yang tidak mampu. Atau, ini menunjukkan tingkat kemampuan beli umat yang semakin baik.

Tapi, Al-Ghazali dalam magnum opusnya Ihya Ulumuddin mengklasifikasikan orang berpuasa itu menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa umum. Puasa umum ini menurutnya adalah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat. Ini adalah puasanya orang kebanyakan. Kedua, puasa khusus. Jenis puasa kedua ini menurut Al-Ghazali tidak hanya cukup menahan perut dan kemaluan saja. Lebih dari itu, puasa jenis kedua ini mencegah pendengaran, lisan, mata, tangan dan kaki serta anggota tubuh lainnya dari dosa.

Sedang yang terakhir, puasa khusus dari yang khusus. Jenis yang terakhir ini merupakan puasa yang tertinggi. Puasa yang terakhir ini, menurutnya, adalah menahan atau melumpuhkan hati dari kemauan-kemauan yang rendah dan pikiran duniawi.

Pengklasifikasian puasa oleh Imam Ghazali tersebut mengindikasikan bahwa dalam "kerangka menahan" yang harus dilakukan oleh orang puasa itu begitu kompleks. Bisa jadi, konsumtivisme seperti dijelaskan di atas, dapat merusak makna dan hakikat puasa dalam pengertiannya yang paling tertinggi.

Kecuali, kita berpuas diri menjadi sho'im, orang yang berpuasa, di tingkat yang pertama saja. Tapi, masak selama berkali-kali dan bertahun-tahun bertemu Ramadhan, kita masih terus-terusan berada di tingkat pertama. Kapan mau naik kelasnya?

Kamil Alfi Arifin pernah nyantri di Madura dan kuliah di Jurusan Media dan Cultural Studies di UGM, sekarang mengajar di sebuah kampus swasta dan tinggal di Yogyakarta

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed