detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 10 Mei 2019, 11:24 WIB

Kolom

Melawan Bala dengan Atma Bala: Renungan Sebelum 22 Mei

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Melawan Bala dengan Atma Bala: Renungan Sebelum 22 Mei Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Kita semua menanti 22 Mei dengan reaksi bermacam-macam. Ada yang tenang karena pilihannya sudah dipastikan menang. Ada yang move on dari kekalahannya dan mulai berpikir jernih. Ada yang tidak menerima kekalahan meskipun sudah mengklaim kemenangan. Namun, ada sebagian (besar) yang khawatir kalau terjadi bala saat KPU mengumumkan siapa pemenang sejati.

Sindiran di medsos maupun perbincangan santai di warung kopi bisa menjadi benturan yang besar. Dalam skala kecil, perbenturan itu sudah ada antara yang punya sikap mental siap menang dan siap kalah dengan yang berpikir pokoknya harus menang bagaimanapun caranya.

Dalam skala akar rumput paling tidak ada tiga reaksi. Pertama, ada yang bersikap, "Sudah selesai, mengapa harus ribut?" Artinya, mereka kembali ke aktivitas masing-masing sesuai kapasitasnya. Dua Kubu Paslon Presiden di Bangkalan Sepakat Hasil Rekapitulasi, judul berita di detikcom ini merupakan contoh konkret indahnya persatuan atau penyatuan kembali bangsa yang sempat 'terkoyak' oleh dua pilihan. Madani Ali Sera dari PKS pun kali ini memberikan suara yang menyejukkan seperti dalam berita berjudul Mardani: Ganti Presiden Tutup Buku, Siapa Pun yang Terpilih Itu Suara Rakyat.

Kedua, ada yang bersikap dewasa. Ini ada di dua kubu. Kubu pemenang bereaksi, "Sudah saatnya yang menang merangkul yang kalah. Toh kita bersaudara." Kubu yang kalah dan bisa berpikir jernih berkata, "Ya sudah. Kalah-menang dalam alam demokrasi itu biasa. Mari kita dukung pemerintahan yang sah."

Ketiga, ada yang masih sulit untuk menerima kenyataan dan memilih untuk hidup dalam mimpi di siang hari bolong. Kelompok inilah yang bisa terus-menerus menjadi duri di tenggorokan dan pasir kecil di dalam sepatu yang membuat kita nggak enak makan dan beraktivitas. Ada yang selalu mengganjal. Jika dibiarkan, benturan-dalam skala kecil maupun besar-bisa terjadi.

KPU memang belum mengumumkan siapa pemenang pilpres kali ini, namun benturan justru terjadi antara yang mempercayai hasil quick count lembaga-lembaga survei yang kredibel yang tergabung dalam Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepsi) dan Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (Aropi) dengan yang mempercayai survei internal mereka.

Namun, jika kita melihat lebih dalam lagi dari sekadar yang muncul di permukaan, kita akan terjebak dalam perang saudara. Seruan people power jika dibiarkan berkembang menjadi bola salju liar, akan menggulung akal sehat. Bukankah dua kubu sama-sama rakyat Indonesia? Jika sepasang saudara bertengkar, maka orangtualah yang paling berhak untuk menyelesaikan pertengkaran itu.

Karena kita tinggal di Indonesia maka undang-undang Indonesialah yang berlaku. Jika kita sudah tidak percaya kepada penegak hukum kita sendiri, apakah tidak salah jurusan jika kita membawanya ke mahkamah internasional? Ini bukan Indonesia melawan negara tetangga, misalnya, tetapi antara sesama anak bangsa.

Inilah yang bisa kita sebut bala yang mempunyai arti ganda. Pertama, bisa berarti pasukan atau prajurit. Kedua, bisa berarti malapetaka, kemalangan, cobaan.

Nah, apakah yang bisa kita lakukan untuk melawan bala dalam arti yang kedua? Pertama dan terutama adalah tetap tenang. Kita percaya bahwa TNI dan Polri mau dan mampu menjaga keamanan NKRI. Jika garda depan saja tidak bisa diharapkan, bagaimana kita bisa hidup tenang di negara sendiri?

Rohaniwan punya peran amat besar di dalam menyejukkan hati umat. Ulama, habaib, dan cendekiawan Muslim menghasilkan delapan rekomendasi untuk kemaslahatan bangsa. Salah satunya mengajak umat Islam tidak terprovokasi aksi inkonstitusional. Rekomendasi tersebut disampaikan Rais Syuriah PBNU KH Manarul Hidayat dalam acara Multaqo Ulama, Habaib, dan Cendekiawan Muslim di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Bukankan berita-berita ini di samping meredakan suhu yang memanas pasca pilpres juga memberi ketenangan sekaligus kekuatan batin yang luar biasa?

Pikiran yang tenang membuat kita tidak merancang hal-hal yang bertentangan dengan nalar atau akal sehat itu sendiri, sedangkan hati yang tenang membuat kita tidak bertindak grusa-grusu yang akhirnya justru merugikan kita sendiri. Dengan tinggal tenang dan berdoa terletak kekuatan kita.

Ketimbang saling sindir dan saling klaim kemenangan padahal belum diumumkan secara resmi oleh KPU, bukankah tidak lebih baik jika secara bersama-sama kita menghadapi bala berupa bencana alam yang terus-menerus terjadi. Saat bencana alam terjadi-misalnya banjir dan tanah longsor-bukankah kita secara bersama-sama bahu membahu berusaha mengatasinya? Kita tidak lagi disekat-sekat oleh 01 maupun 02. Semua unsur masyarakat berbaur untuk bertempur bersama mengatasi bencana.

Saat ini Avengers: Endgame mendominasi gedung bioskop di Tanah Air dan dunia. Apa maknanya? Saat mengalami musuh bersama, kita dipaksa untuk bersatu. Otomatis kita mencari bala bantuan dari mana pun asal bisa mengalahkan musuh bersama itu. Roh Thanos sedang merajalela di Indonesia untuk membuat negara ini pecah dan bubar. Sudah saatnyalah semua 'Avengers' berkumpul dan bersatu untuk melawannya. Roh Thanos yang berbahaya berupa narasi kebencian dan hoaks penuh tipu muslihat untuk mengadu domba akar rumput yang sejak dulu dikenal rukun.

Apa yang yang seharusnya 'avengers' Indonesia lakukan? Memperkuat batin sendiri. Salah satu cara untuk memperkuat batin kita adalah dengan berpuasa. Bukankah kita mulai memasuki bulan puasa? Inilah kekuatan yang paling dahsyat. Di sini kita perlu membangun atma bala kita. Apa itu atma bala? Inner strength, inner vitality, spiritual strength, soul force atau apa pun sebutannya. Saya setuju dengan Geshe Kelsang Gyatso: "Without inner peace, outer peace is impossible." Jika Anda penggemar Star Wars, bisa juga berkata, "May the Force be with you!"

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com