DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 07 Mei 2019, 15:48 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Menahan Diri dari Tahu

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Menahan Diri dari Tahu Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Selama puasa ini, saya bertekad mengurangi secara drastis intensitas saya dalam Facebook-an. Hari pertama lumayan berhasil. Setidaknya, ada waktu hampir 24 jam ketika di dinding Facebook saya tidak mengunggah sesuatu pun, tidak melemparkan satu komentar pun, bahkan tidak memencet satu klik jempol pun. Itu prestasi besar untuk ukuran saya yang memang sudah mengidap ketergantungan parah kepada Facebook.

Ini bukan karena saya sedang menghindari perkelahian digital yang berpotensi merusak puasa saya. Tidak sesederhana itu. Menahan emosi memang merupakan salah satu tugas berat orang yang berpuasa, setelah tugas dasar menahan keinginan perut, kerongkongan, dan selangkangan. Namun, agaknya di zaman ini ada satu tugas tambahan yang bisa kita jalankan untuk lebih menyempurnakan kemanusiaan kita: menahan rasa ingin tahu.

Mengendalikan nafsu makan, minum, dan seks adalah garis batas pembeda antara manusia dan hewan. Menahan amarah, perdebatan tak perlu, kata-kata buruk, obrolan sampah adalah garis batas pembeda antara manusia level biasa dengan manusia tingkat lanjut. Adapun menahan rasa ingin tahu adalah garis batas pemisah antara manusia tingkat lanjut dengan manusia zuhud yang penuh kehati-hatian di era pasca-kebenaran.

Ini teori hasil tafsir saya sendiri, dan untuk diri saya sendiri. Jangan buru-buru menuduhnya bidah dan tidak syar'i. Yang jelas, saya meyakini bahwa ada tantangan spesifik pada setiap lingkup ruang dan waktu.

Begini maksud saya. Kalau Anda hidup di zaman penjajahan Jepang dan sangat sulit makan di setiap harinya, apakah menahan lapar di bulan puasa itu berat? Tentu saja tidak, karena puasa ataupun tidak puasa toh untuk makan sama-sama sulitnya. Kalau Anda tinggal di sebuah masyarakat yang menetapkan hukum Islam superketat sehingga tidak ada kulit lawan jenis yang tampak di ruang publik, apakah menahan pandangan dari aurat orang lain itu merupakan tantangan? Jelas tidak, karena mau mata kita jelalatan ke mana-mana toh juga tidak akan nemu apa-apa.

Ini berbeda dengan di zaman ketika Anda sangat berkelimpahan makanan, juga berkubang duit, mau wisata kuliner menu apa saja sangat mudah dan terjangkau. Pada situasi demikian, menahan keinginan makan dan minum itu terasa berat. Berat, karena menahan sesuatu yang sangat mudah didapat. Sama juga, untuk kawan saya Ryo Handi anak Madiun yang bekerja sebagai penjaga pantai di Dubai tempat cewek berbikini muncul setiap detik di depan hidungnya, menjaga pandangan dari aurat lawan jenis itu begitu susah.

Berat dan mudah itu ukuran-ukuran yang sangat tergantung ketersediaan. Maka, jangan bilang Anda hari ini berjuang keras sekali dalam berpuasa, jika setiap warung makan yang menguarkan aroma sedap itu Anda paksa tutup semua di kota Anda. Begitu, bukan?

***

Lalu, aktivitas apa yang sangat mudah dilakukan di zaman ini, sehingga untuk memenuhinya kita nyaris tidak mengeluarkan usaha yang berarti?

Saya menunjuk satu hal saja, yakni akses atas segala jenis informasi. Aktivitas mengakses informasi adalah salah satu hal tergampang di zaman ini. Cukup dengan satu-dua klik, tercapailah apa yang kita inginkan. Kita ingin tahu kabar real count KPU terbaru, cukup gerakkan jempol dan langsung ketemu. Kita mau membaca berita tentang nasib Andre Taulany yang baru saja minta maaf ke MUI, tanpa mengangkat kepala dari bantal pun kita bisa. Kita kepingin tahu barang sedikit tentang konflik bersenjata di Gaza, tanpa menggeser pantat sesenti pun kita mampu.

Bandingkan dengan di zaman dulu. Untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan, orang harus berjalan kaki ratusan kilo, menerobos hutan belantara, melawan badai dan bertarung dengan raksasa. Sampai di tujuan kita masih harus menemukan guru yang tepat, lalu belajar kepadanya bertahun-tahun lamanya.

Zaman terus bergerak, manusia mulai mengenal peradaban cetak, akses informasi pun lebih mudah. Kita tak perlu lagi berlayar ke benua sebelah. Cukup mengayuh sepeda ke kantor kelurahan, lalu ikut beramai-ramai membaca koran, atau berkunjung ke perpustakaan. Jauh lebih mudah, tapi masih lumayan payah.

Sekarang, lenyaplah kadar kepayahan dalam mengejar informasi. Upaya mengakses informasi tak bisa lagi kita sebut upaya. Saking mudahnya, kita jadi terjebak, dan semakin terjebak dalam pusaran pasir hisap kebiasaan. Kita nyaris tidak bisa membayangkan hidup tanpa mengakses informasi. Aktivitas mengakses informasi jadi sama primernya dengan makan-minum dan kawin-mawin.

Dulu, ketika saya bertanya kepada bapak saya tentang mekanisme mesin kereta api, misalnya, beliau menjawab dengan geragapan. "Ya, kelak kalau kau sudah besar kau pelajari itu ya." Bapak saya tidak bisa menjawab, bahkan tidak bisa memberikan tawaran solusi. Satu-satunya solusi atas banyak pertanyaan saya adalah membelikan Buku Pintar karya Iwan Gayo, itu pun setelah pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk sekian lama.

Beberapa puluh tahun kemudian, anak saya bahkan tidak merasa perlu bertanya kepada bapaknya. Ketika kelinci piaraannya melahirkan, dia langsung klak-klik-klak-klik tanpa minta izin siapa pun, dan seketika paham apa yang terjadi pada bayi-bayi kelinci merah di lubang tanah, berapa menit induknya menyusui setiap hari, berapa minggu kemudian bayi-bayi itu akan keluar ke permukaan, apa saja potensi bahaya yang mengancam mereka, dan sebagainya.

Saking gampangnya, dan saking terbiasanya, kita tidak pernah lagi merasakan sensasi rasa penasaran. Nyaris tidak ada lagi rasa ingin tahu, karena bahkan untuk "ingin" pun kita sudah tidak punya waktu. Semua langsung terjawab, kita tak perlu menunggu untuk tahu.

Tahu, mengetahui sesuatu, bukan lagi semacam barang mewah yang sulit diraih. Namun, di saat yang sama, "tahu" mustahil kita tinggalkan. Nafsu kita sebenarnya sangat meledak-ledak atasnya, namun begitu mudah kita memuaskannya.

Di saat seperti ini, menahan rasa ingin tahu menjadi lelaku spiritual yang berat. Apakah iman dan batin kita bakalan kuat?

***

"Adakah sama antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu?" Dalam Alquran Surah Az-Zumar, Tuhan bertanya seperti itu. Ada jawaban yang lesap di sana yaitu, "Tentu saja beda! Sangat beda antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu!"

Dengan menyimak ayat itu, rasanya menahan rasa ingin tahu menjadi sesuatu yang tercela. Sebab orang yang tahu lebih baik daripada orang yang tidak tahu. Orang berilmu lebih tinggi derajatnya ketimbang orang tidak berilmu.

Masalahnya, "tahu" di zaman ini tidak selalu sama dan sebangun dengan "berilmu". Apa yang kita hisap setiap saat dari genggaman tangan bukanlah jaminan atas "tahu", apalagi jaminan atas ilmu. Semakin kita tersedot ke dalam belitan informasi produk pencetan jempol, ketika kita merasa lebih tahu, sangat mungkin justru kita semakin berlari dari pengetahuan, semakin menjauh dari kebenaran.

Padahal, dalam Surah Az-Zumar, Tuhan sedang membicarakan ilmu. Tuhan sedang bicara tentang kebenaran. Kebenaran yang dimaksudkan Tuhan itu rasa-rasanya beda dengan konsep "tahu" pada zaman digital pasca-kebenaran.

***

Jika Anda terhenyak menyadari bahwa apa yang Anda kira "tahu" itu sesungguhnya bukan tahu, bukan kebenaran, bahkan bisa jadi sesuatu yang menghancurkan, pasti Anda akan tersindir telak oleh Bird Box. Film besutan Susanne Bier yang diadaptasi dari novel karya Josh Malerman itu menggambarkan tentang situasi dunia pada masa pasca-apokaliptik.

Alkisah, sesosok entitas misterius menihilkan seluruh populasi dunia. Siapa pun yang melihatnya akan sekejap merasa sangat terpukau, terpesona hingga ke titik terpuncaknya, untuk kemudian saking bahagianya dia bunuh diri. Terjun dari gedung tinggi, membenturkan kepala ke tembok keras di sebelah, atau menusukkan pisau persis ke jantungnya sendiri.

Tokoh Malorie dan kedua anaknya tak mau menyerah kepada makhluk indah-tapi-menghancurkan itu. Mereka mempelajari satu-satunya cara untuk bertahan hidup: jangan melihat. Ya, jangan melihat, maka siapa pun akan selamat.

Sampai di sini, makhluk misterius itu tak ada bedanya dengan banjir informasi di zaman ini. Kita sangat ingin melihatnya. Kita pasti sangat terpesona jika melihatnya. Tapi, sekali saja kita melihatnya, sangat mungkin kita akan membunuh diri kita.

Jadi, sesekali, cobalah menutup mata. Berpuasalah dari "tahu". Jangan melihat, maka mungkin Anda malah akan selamat.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed