DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 07 Mei 2019, 11:20 WIB

Kolom

Investasi di Kertajati

Khairiyah Rizkiyah - detikNews
Investasi di Kertajati Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -
Sebelas bulan sebelum pemilihan umum, Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Kertajati, tepatnya pada 24 Mei 2018 lalu. Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) ini merupakan bandara terbesar kedua setelah Bandara Soekarno-Hatta.

Sayangnya, saat ini kondisi BIJB makin sepi dan memprihatinkan. Dari 11 rute yang sebelumnya ada, kini hanya satu rute yang beroperasi. Tingkat okupansinya pun di bawah 30%. Pengamat menilai, pembangunan bandara ini tidak melalui perencanaan yang matang dan mengabaikan aspek ekonomi.

Tertunda

Ide pembangunan BIJB konon sudah cukup lama digagas, yakni sejak 2003. Saat itu, pengusaha dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat (Jabar) berharap agar ada bandara di Jabar bagian utara. Hal ini dinilai perlu untuk mengurangi beban dan padatnya penerbangan di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Apalagi, jumlah penduduk Provinsi Jabar masih terus menjadi yang tertinggi secara nasional.

Sementara itu, kegiatan angkutan udara di Jabar sebagian besar berlangsung di Bandara Husein Sastranegara, yakni sekitar 80,79 persen. Kemudian sebanyak 4,35 persen berlangsung di Bandara Cakrabhuwana, Cirebon dan 14,85% di Bandara Nusawiru, Ciamis. (BPS, 2018).

Dalam perjalanannya, proses pembangunan BIJB Kertajati sempat tertunda beberapa kali. Studi kelayakan untuk bandara ini sebenarnya sudah ada sejak 2003. Izin penetapan lokasi pun sudah dilakukan sejak 2005. Saat itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar menyatakan sanggup mendanai sendiri pembangunan bandara dengan APBD.

Namun, Pemprov Jabar tak kunjung merealisasikan pembangunan tersebut hingga 2011. Setelah dilakukan peninjauan ulang, pembangunan bandara ternyata membutuhkan alokasi APBN. Dampaknya, selama tujuh tahun tidak ada kegiatan fisik apapun dan izin penetapan lokasi pun hangus.

BIJB Kertajati kemudian dimasukkan dalam Program Strategis Nasional (PSN). Pembangunan bandara ini baru dimulai pada 2014 untuk pengerjaan pembersihan lahan dan fondasi. Selanjutnya pembangunan berlangsung pada 2015 hingga 2017 dengan menggunakan anggaran Kementerian Perhubungan.

Awalnya terdapat lima rute yang dilayani oleh BIJB, yakni Kertajati-Denpasar, Kertajati-Surabaya, Kertajati-Ujung Pandang, Kertajati-Balikpapan, dan Kertajati-Medan. Namun, kini hanya tersisa satu rute yang masih berjalan, yakni Kertajati-Surabaya.

Dilihat dari tingkat okupansi, BIJB Kertajati juga terus mengalami penurunan. Menurut Corporate Secretary PT BIJB Arief Budiman, meski pada Juni-Agustus 2018, tingkat okupansi rata-rata sebesar 75 persen, kini dalam keadaan low season, tingkat okupansi berada di bawah angka 30 persen atau sebanyak 180 kursi (detikcom, 2019).

Penurunan jumlah dan tingkat okupansi signifikan dirasakan sejak Januari 2019 saat kebijakan bagasi berbayar muncul, dan disusul kenaikan tarif maskapai. Rute Kertajati-Surabaya yang masih berjalan pun dilayani oleh hanya satu maskapai komersial. Sementara layanan rute lainnya dibatalkan karena load factor yang tidak memenuhi.

Sementara itu, pengamat penerbangan Alvin Lie menilai pembangunan BIJB Kertajati mengabaikan aspek ekonomi dan memiliki perencanaan yang tidak matang sedari awal. Menurutnya, pemerintah tidak mempertimbangkan daya tarik masyarakat dan maskapai penerbangan terhadap BIJB yang akan dibangun.

Aerotropolis

Pemilihan lokasi BIJB yang terletak di Kecamatan Kertajati, Majalengka nyatanya bukan tanpa alasan. Menurut Kabid Umum dan Humas Unit Manajemen Proyek PT BIJB Rizkita Tjahjono Widodo, Majalengka dinilai strategis dengan rencana pemerintah pusat mengembangkan potensi ekonomi di tiga kawasan di Jabar. Yakni, Ciayumajakuning (Cirebon, Majalengka, Kuningan, dan Indramayu), Bandung Raya (Bandung, Bandung Barat, Cimahi, Sumedang), dan Bodebekkarpur (Bogor, Depok, Bekasi, Karawang Purwakarta.)

Selain itu, Majalengka dianggap menjadi titik temu banyak daerah pusat ekonomi seperti Jakarta, Bandung, Karawang. Lokasi ini juga diyakini menjadi pilihan tepat sebagai penghubung logistik Pelabuhan Muara Jati di Cirebon dan Pelabuhan Patimban di Subang.

Secara geografis, lahan yang digunakan untuk pembangunan BIJB sebelumnya adalah lahan tadah hujan yang tidak produktif jika digunakan untuk pertanian dalam jangka panjang. Selain jauh dari gunung sehingga aman dari asap letusan, lahan ini juga cukup resisten terhadap gempa bumi dan banjir.

Faktor lain pemilihan Majalengka adalah alasan pendapatan ekonomi daerah. Secara demografis, Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Majalengka tergolong rendah dibanding daerah sekitarnya. Hingga 2019, Majalengka masih menempati posisi empat terendah dengan UMK sebesar Rp 1,7 juta. Angka ini cukup timpang dengan UMK tertinggi di provinsi yang sama, yakni Kabupaten Karawang dengan UMK sebesar Rp 4,2 juta.

Pertimbangan-pertimbangan di atas juga menjadi alasan BIJB dibangun dengan mengusung aeropolis business concept, di mana bandara menjadi pusat aktivitas dan perkembangan ekonomi. Menurut konsep ini, bandara diharapkan mampu menghubungkan konsumen, supplier, dan perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra di seluruh belahan dunia, sehingga berpeluang mendongkrak perekonomian wilayah sekitarnya.

Beberapa bandara internasional yang dianggap sudah memenuhi konsep ini antara lain Bandara Internasional Schiphol Amsterdam di Belanda, Bandara Internasional Dallas Forth Worth di Amerika Serikat, dan Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan.

Bandara Internasional Incheon di Kota Songdo merupakan salah satu contoh unik aerotropolis, karena pembangunan bandaranya berbarengan dengan pembangunan Kota Songdo sendiri. Pembangunan terintegrasi ini berhasil menciptakan sebuah kawasan bisnis skala besar dan bernuansa internasional yang terhubung langsung dengan bandara. Ini pun tak lepas dari dukungan modal asing dan teknik investasi dan pembiayaan yang canggih (Ayuningtyas, 2014:118)

Implementasi aerotropolis di berbagai belahan dunia secara umum menunjukkan bahwa konsep ini memang mampu mendongkrak perekonomian suatu wilayah. Lebih jauh, implementasi konsep ini dapat memperkuat rantai pasokan industri di tingkat regional, nasional, maupun global. Pemerataan infrastruktur dan kesempatan ekonomi yang tercipta pun bisa mengurangi urbanisasi. Di sisi lain, untuk dapat mewujudkan konsep ini dibutuhkan biaya yang sangat besar.

Investasi

BIJB Kertajati dibangun dengan total biaya sebesar Rp 2,6 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 936 miliar berasal dari pihak swasta yang dikumpulkan melalui reksa dana penyertaan terbatas (RDPT). Maka tidak berlebihan rasanya jika menganggap bandara ini adalah sebuah investasi.

BIJB Kertajati sejatinya dibangun dengan harapan mampu menjadi pendongkrak ekonomi wilayah di sekitarnya. Karenanya, tidak tepat rasanya menganggap bandara ini dibangun tanpa mempertimbangkan aspek ekonomi. Justru alasan ketimpangan ekonomilah yang awalnya melatarbelakangi pembangunan bandara ini.

Aksesibilitas dinilai menjadi kunci utama untuk meningkatkan aktivitas di BIJB Kertajati. Belum rampungnya proyek Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) dianggap menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan sepinya pengguna BIJB. Pasalnya, tol ini nantinya akan mempersingkat jarak tempuh menuju BIJB bagi masyarakat Jabar, terutama Bandung. Percepatan pembangunan ruas jalan tol ini kini menjadi salah satu tugas utama pemerintah dalam rangka pengembangan BIJB.

Dengan adanya Tol Cisumdawu nantinya, konektivitas antara BIJB Kertajati dan Bandara Husein Sastranegara pun menjadi lebih terintegrasi. Setelahnya, pemerintah diharapkan dapat lebih tegas dalam hal kebijakan pengalihan rute pesawat dari Bandara Husein Sastranegara ke BIJB Kertajati.

Terkait daya tarik, wisata di wilayah Majalengka sesungguhnya mampu dijadikan sebagai poin tambahan. Sebut saja Kebun Teh Cipasung, Jembar Waterpark, Curug Cipeteuy, dan Telaga Herang. Namun, tentu daya tarik ini juga harus didukung dengan aksesibilitas dan fasilitas yang baik.

Memang, BIJB Kertajati terkesan memiliki banyak sekali kekurangan dan masih jauh dari konsep aerotropolis yang diidamkan. Namun, hal ini bukan berarti mustahil untuk diwujudkan. Yang jelas, BIJB Kertajati masih butuh waktu untuk tumbuh dan berkembang. Dan mungkin, selain percepatan pembangunan dari sisi aksesibilitas, BIJB juga kini butuh lebih banyak kepercayaan.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed