Kolom

Generasi yang Tak Boleh Miskin Imajinasi

Muhammad Nur Alam Tejo - detikNews
Kamis, 02 Mei 2019 16:08 WIB
Foto: BBC World
Foto: BBC World
Jakarta -

Agaknya tulisan Diwan Masnawi perihal Perang dan Damai di Masa Kini terlalu berlebihan, jika bukan sebuah paranoia. Di balik kalimat prosaik nan bersayap yang dituliskannya, ada beberapa asumsi yang disimpulkan akibat kemiskinan imajinasi yang terbentuk secara laten dari angka statistik yang dingin. Walhasil muncul tendensi mengkambinghitamkan sosial media sebagai sumber kekerasan mental yang tak kalah mengerikan ketimbang kekerasan fisik.

Tulisan ini merupakan tanggapan atas kegegabahan itu dan memperlihatkan bahwasanya ada banyak alternatif yang dapat ditawarkan untuk membingkai sosial media daripada sekadar mengkambinghitamkannya seolah ia adalah "makhluk yang mengerikan".

Miskinnya Imajinasi

Saya sepakat bahwa pada era ini perdamaian sedang dalam performa terbaiknya. Para elite politik dan jenderal-jenderal kita lebih getol mengurusi "kue ekonomi" alih-alih repot-repot kokang senjata dengan persentase keuntungan yang tak seberapa. Pun saya juga sepakat bahwa pada zaman yang serba cepat ini kekerasan mental adalah hal yang patut untuk ditangani secara serius. Namun, saya mencoba berjarak dari tulisan tersebut.

Ada banyak keluh-kesah dari tulisan yang dibangun oleh Diwan. Seolah ia ingin mengkontekstualisasikan pandangan Jean Paul Sartre saat ia berkata, "Hell is other people." Saat itu mungkin Sartre tak membayangkan situasi yang terjadi puluhan tahun mendatang seperti pengalaman personal Diwan gegoleran sembari memegang hape dan mengalami krisis eksistensial akibat terlalu sering ber-solilokui.

Media sosial belum ada saat Sartre hidup. Sekarang, hampir semua orang tahu betapa toxic-nya perkataan orang lain, tidak peduli betapa indahnya tampilan Instagram mereka. Sialnya kebanyakan orang, termasuk Diwan, tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap maraknya ekspansi media sosial selain menjadikannya kambing hitam. Media sosial seolah telah menjadi "vampir pengisap" kebermaknaan eksistensi mereka dan terus dibicarakan dengan cara yang sedemikian pesimistis dan kolot macam itu. Sebagai sesuatu yang baru, media sosial seolah selalu berada di luar kendali sehingga terkesan "mengerikan".

Paranoia tersebut adalah bukti dari miskinnya imajinasi. Bukankah narasi yang dipaparkan oleh Diwan merupakan narasi lama ketika kita belum punya pegangan kokoh tentang cara memandang dunia online di luar narasi rasa takut, kecanduan, dan sesuatu yang berlebihan? Di kolom-kolom berita nasional dan televisi pun banyak memberitakan bahwa medsoslah yang bertanggung jawab atas gangguan kesehatan mental seseorang. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan kecanduan bermedsos sebagai salah satu gangguan kesehatan mental.

Sebagai generasi yang lahir di pengujung milenium kedua, saya menolak anggapan bahwa sosial media adalah salah satu palagan yang mengerikan bagi generasi ini. Anggapan media sosial sebagai salah satu sumber lahirnya kekerasan mental merupakan tuduhan serius atas ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu belum sepenuhnya dipahami dengan baik.

Secara ilmiah memang banyak riset yang menunjukkan bahwa media sosial ikut bertanggung jawab atas maraknya kasus bunuh diri dan segala bentuk penyakit mental lainnya. Namun, bukan berarti media sosial secara esensial bersalah atas segala kegilaan zaman pada masa transisi itu. Seolah-olah kita tutup mata bahwa ada banyak hal yang telah diberikan oleh sosial media sebagai katalis-sosial perubahan zaman.

Dalam tulisannya Diwan sendiri mengakui bahwa "perpindahan dari kehidupan yang nyata di sini, ke dunia maya...menimbulkan rintang-rintang kesulitan adaptasi, kalau kita memang tidak bisa mengelak dari digitalisasi, dan mau tidak mau taken for granted." Apa yang menjadi keresahan Diwan telah dilampaui dengan baik oleh Franco Bifo Berardi. Filsuf asal Italia itu dalam bukunya yang berjudul Futurability: The Age of Impotence and the Horizon of Possibility (2017) telah memperkenalkan konsep futurabilty. Konsep yang berupaya membentuk kesadaran aktif yang radikal guna melampaui keputusasaan, dan kemampuan membayangkan segala yang mungkin di luar parameter yang ada/terberi begitu saja pada saat ini.

Misalnya saja kita membayangkan keruwetan Pilpres 2019, hajatan besar, yang menyedot perhatian dan emosi warganet. Kekesalan itu timbul dari parameter zaman yang telah berubah. Politik, bagi Berardi, telah memasuki zaman impotensi karena alasan struktural dan sistemik. Bukan karena politisi terlalu lemah atau bodoh. Temporalitas politik, yang mengisyaratkan kemampuan mengambil keputusan secara berdasarkan pemikiran kritis, telah dikalahkan oleh temporalitas ruang informasi.

Arus informasi yang sedemikian cepat, terlalu rumit untuk pemahaman politik, kritik politik, dan keputusan politik. Semacam ada keterpatahan yang menimbulkan ketidaksesuaian proses pengambilan keputusan politik. Lalu apa yang terjadi? Kita menjadi sedemikian muak dengan apa yang ada dan pada akhirnya menjadikan media sosial kambing hitam atas kekesalan kita, seperti yang dilakukan oleh Diwan.

Di persimpangan jalan, yang seolah telah jadi palagan, penting bagi generasi muda kita saat ini untuk tidak kehilangan kemampuan imajinatifnya. Saya percaya bahwa selalu ada alternatif bagi setiap permasalahan yang muncul. Selalu ada alternatif lain bagaimana mengaplikasikan pengetahuan, akan selalu ada potensi baru berbeda di tiap harinya. Media sosial pun selalu demikian.

Saya berpikir bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi kiamat yang kita ciptakan sendiri saat ini adalah transformasi mendalam segala bentuk teknologi. Bagaimana menempatkan teknologi untuk membebaskan manusia dari jeratan kerja yang membosankan, memberikan orang kemungkinan untuk bertahan hidup lebih lama, memberikan penghasilan dasar, dan memberikan masing-masing individu hak untuk mewujudkan segala potensi yang dimilikinya.

Lebih Realistis

Diwan membayangkan kekerasan yang paling menyebar dan mengerikan adalah kekerasan mental yang disebabkan oleh misal tekanan sosial, keterasingan, kesulitan ekonomi, atau pengaruh buruk media sosial. Namun, bagi saya kekerasan fisik itu juga belum sepenuhnya hilang, bahkan keduanya malah semakin intens berkolaborasi.

Kegilaan yang menyebar dalam masyarakat kontemporer disebabkan oleh pemisahan otak manusia dari tubuh. Otak digital saling bertukar, penafsiran gagasan semakin banyak, tetapi pola komunikasi yang melingkupi tubuh semakin sedikit. Walhasil, kita berusaha mencari jalan pintas tercepat bagi semua permasalahan ini, yaitu bergabung dengan gerakan ekstremis atau bunuh diri. Jika sudah demikian kita tidak lagi bisa memandang internet dan segala bentuk turunannya secara esensialis.

Media sosial sudah didesain sedemikian rupa untuk memungkinkan seseorang tersugesti untuk terus berbelanja, berjudi, atau menonton video lucu. Hal ini menimbulkan perdebatan di kalangan para psikolog mutakhir untuk mengklasifikasikan perihal klasifikasi kecanduan. Menariknya, langkah bijak pertama untuk mengatasi efek negatif media sosial adalah mengakui ketidakberdayaan manusia mengatasi masalah secara individual, sebab individu seringkali membuat membuat pilihan yang buruk, bahkan tak masuk akal, untuk hidupnya sendiri.

Memang terkesan ganjil, namun nyatanya perubahan yang telah terjadi secara besar-besaran inilah yang mempengaruhi cara hidup bermasyarakat kita hari ini. Permainan sentimen identitas dalam politik kontemporer telah membangkitkan populisme kanan, neo-nazi, dan kebangkitan kembali rasisme akibat persoalan imigran. Distraksi sudah tidak lagi dianggap masalah personal, melainkan juga masalah politis. Begitu juga polarisasi yang muncul akibat minimnya nuansa, kemarahan masyarakat, dan berkurangnya dialog menjadi sekadar ocehan monolog di sosial media.

Pendekatan yang lebih realistis terhadap internet dan media sosial diperlukan di sini. Pendekatan yang lebih menonjolkan kewaspadaan terhadap dunia digital dibandingkan ketakutan tidak berdasar atas apa yang baru dan belum bisa dikontrol. Kita juga harus mengakui ketidakpahaman kita atas situasi yang berkembang sedemikian cepat. Sebab, hanya dengan cara itulah kita dapat berpikir sejenak dan mencari jalan baru sebagai alternatif atas apa yang telah ada begitu saja.

Muhammad Nur Alam Tejo mahasiswa Filsafat UGM, editor Lingkar Studi Filsafat Cogito

(mmu/mmu)