DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 29 April 2019, 13:10 WIB

Kolom

Mobilitas Kelas Menengah Kota

Hamzah Fansuri - detikNews
Mobilitas Kelas Menengah Kota Ilustrasi: BBC Magazine
Jakarta -

Perhatian banyak ahli pada kelas menengah terlebih perkotaan terus meningkat dari waktu ke waktu. Perhatian dan tentunya beragam kajian dari variasi sudut pandang juga telah memperkaya literasi kita. Meski mulanya unsur ekonomi sangat kental dalam setiap telaah, namun belakangan aspek-aspek lain seperti media sosial, dengan tetap berpijak pada pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, makin menyeruak ke ruang publik untuk tidak hanya memberi perenungan baru melainkan juga meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.

Salah satu ciri melekat dari kelas menengah kota ialah tingkat mobilitasnya yang tinggi. Dalam konteks kekinian, mobilitas di sini perlu dicermati dari dua pemaknaan sekaligus: fisik dan digital. Jika dalam sosiologi klasik, mobilitas diasosiasikan pada perpindahan fisik secara vertikal (misalnya promosi jabatan) dan horizontal (misalnya pindah domisili), maka semenjak teknologi digital menjadi bagian dari masyarakat modern, seorang sarjana Inggris, John Urry telah mendeteksi lima bentuk mobilitas yang saling bergantung satu sama lain. Baginya perjalanan fisik manusia hanyalah satu bagian dari mobilitas selain perpindahan barang atau benda; imajinasi dari satu tempat ke tempat lain lewat teks, gambar, film serta televisi; perjalanan virtual di internet secara real-time sehingga dapat melampaui jarak geografis; dan pergerakan komunikatif via pesan yang saat ini tersedia dengan sedemikian banyak pilihan mediumnya.

Oleh karenanya, mengamati mobilitas kelas menengah kota yang masif itu juga membutuhkan telaah multisektor. Hal ini karena terdapat banyak media yang memungkinkan mobilitas itu berlangsung termasuk website, jadwal kereta api, smartphone, komputasi nirkabel, hingga game mobile. Selain juga yang tak kalah penting ialah infrastruktur penunjang seperti sistem jalan raya, rel kereta api, halte bus, bandara, kafe internet, taman kota, mobil dan sepeda motor, serta wireless hotspot dan lain sebagainya. Sebagai implikasinya, geografi dan penghuni kota yang terus tumbuh menggeser perilaku-perilaku masyarakat terutama bagaimana menjalani kehidupan kota, bergerak pada satu tempat ke tempat lain dengan ketergantungan yang tinggi pada aplikasi-aplikasi berbasis Global Positioning System (GPS) seperti Google Maps dan WAZE. Jika dulu orang asing di suatu tempat baru akan mudah tersesat, aplikasi berbasis lokasi ini bukan hanya menyelamatkan diri dari buta arah namun dalam skala lebih luas memicu pertumbuhan signifikan pada travelling industry misalnya.

Teknologi ini juga terbukti mewakili cara baru smartphone yang memediasi hubungan antara pengguna dan ruang fisik serta digital dan menghubungkannya ke jaringan sosial. Semua orang akan terhubung ketika check-in di suatu tempat dan menemukan orang lain di dekatnya, demikian pula saat ada keluhan mengenai layanan dan harga secangkir kopi di sebuah kafe. Wajah kota dan mobilitas kelas menengah yang demikianlah yang akan terus berubah pada tahun-tahun mendatang. Namun yang pasti, digitalisasi tidak lagi dipandang sebagai media perantara melainkan apa yang dikerjakan dalam kehidupan nyata, tak ubahnya dengan kehidupan maya.

Tidak hanya itu, berkat aplikasi-aplikasi yang pada prinsipnya terhubung satu dengan yang lain tersebut, keputusan mobilitas setiap orang pun ikut terpengaruh. Tren paguyuban lewat grup-grup Whatsapp, kekuatan tagar pada Twitter, Facebook, dan Instagram merupakan bentuk lain mobilitas kelas menengah kota. Yang bergerak di situ adalah teks, gambar, audio, maupun video.

Sampai di sini, bukankah kita dapat melakukan penyelidikan kembali pada misalnya, apakah masyarakat pada lapisan ini memiliki kesadaran sosial yang cukup terkait isu-isu krusial yang ada di sekitarnya? Dengan karakteristik melek media dan informasi, bagaimana gadget dan aplikasi yang ada sebagai representasi teknologi mobile itu mendorong kelas menengah kota untuk bertindak lebih dari sekedar rutinitas memantau linimasa atau mencatat beberapa karakter di setiap akun media sosial tanpa bermakna apa-apa? Atau, bagaimana identitas kelas menengah kota itu sebenarnya terbentuk dan dibentuk?

Dua pertanyaan awal sudah barang tentu menemukan jawaban yang bervariasi mengingat beberapa peristiwa membuktikan bagaimana gerakan sosial lebih dulu diinisiasi di ruang digital hingga membuahkan pencapaian penting. Namun, sebaliknya, juga terdapat banyak hasil penelitian yang mengungkap bagaimana kelas menengah kota yang identik dengan kaum terdidik ini rentan dan mudah menjadi korban berita bohong (fake news) dan hoaks. Sebagai contoh, berita buruk dari Kominfo 2015 silam menunjukkan bagaimana banyaknya profesor, doktor, maupun kalangan akademis yang percaya pada hoaks. Dan salah satu yang kerap ditawarkan untuk menangani ini ialah meningkatkan literasi media dan kesadaran digital.

Tapi tentu sebagian kita bisa sepakat, bahwa persoalannya tidak sesederhana itu. Ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan yakni bias kognitif. Sehingga keberlimpahan informasi belum berbanding lurus dengan keterampilan memprosesnya, fakta-fakta rasional pun ditepis hanya karena terpengaruh konteks atau kadung percaya pada keyakinan yang telah tertanam.

Sementara pertanyaan terakhir barangkali membutuhkan sebuah penelitian berdurasi panjang. Tetapi satu hipotesis dapat diajukan di sini. Ketika mobilitas kelas menengah kota berlangsung di segala bentuk, seperti yang dikatakan Urry, saat itu pula identitas masyarakat lapis kedua dari piramida kelas sosial ini akan terbentuk dan dibentuk. Maka tidak heran apabila pandangan-pandangan ekonomi, sosial, politik, dan keagamaan dari masing-masing kita dapat dilacak dari mobilitas di tiap sudut kota, di kafe-kafe dan mall, di forum-forum yang terjadwal maupun spontan, di setiap catatan Facebook dan kolom-kolom komentarnya, di setiap tweet maupun balasannya, di commuter rail, di kemacetan akut ibu kota, hingga di grup-grup Whatsapp.

Hamzah Fansuri sosiolog Universitas Krisnadwipayana, penulis buku Sosiologi Indonesia, Direktur Media dan Riset Indomedia Poll




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed