detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 29 April 2019, 12:00 WIB

Kolom

MRT Jakarta dan Ketahanan Energi Nasional

Eko Yulianto - detikNews
MRT Jakarta dan Ketahanan Energi Nasional Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Pertarungan moda transportasi umum melawan moda transportasi pribadi di sekitar DKI Jakarta mencapai babak baru dengan diluncurkannya MRT Jakarta pada April 2019. MRT (Moda Raya Terpadu) Jakarta sudah beroperasi secara komersial dengan rute dari Lebak Bulus – Blok M – Bundaran HI. Selama masa percobaan, pada Maret 2019, antusiasme warga sekitar Jakarta (terutama sekitar Jakarta Selatan) dalam mencoba transportasi umum ini cukup tinggi mengingat MRT Jakarta merupakan moda transportasi umum yang berbeda dalam menawarkan solusi kemacetan di wilayah DKI Jakarta.

Masyarakat sangat antusias dalam melihat bagaimana MRT dapat menembus waktu perjalanan 30 menit dari Lebak Bulus ke Bundaran HI dengan suasana nyaman. Berbagai fasilitas transportasi umum maupun pribadi selama ini tidak mampu menawarkan ketepatan waktu dan suasana nyaman untuk rute Lebak Bulus – Blok M – Bundaran HI mengingat rute tersebut merupakan rute dengan tingkat kemacetan cukup tinggi di wilayah DKI Jakarta.

Selama ini moda transportasi umum yang memberikan kenyamanan bagi para penumpang adalah Trans Jakarta. Hanya saja Trans Jakarta tidak bisa memberikan jaminan ketepatan waktu, terutama pada jam sibuk, mengingat jalur yang digunakan berdampingan dengan jalur kendaraan pada umumnya. Pada lokasi tertentu antara jalur Trans Jakarta dan jalur umum tidak terpisah, sehingga Trans Jakarta tidak berbeda dengan transportasi lainnya yang merasakan kemacetan.

Kondisi tersebut mengakibatkan Trans Jakarta tidak bisa memberikan kepastian ketepatan waktu kepada penumpangnya meskipun moda transportasi ini memberikan kenyamanan, rute yang tersebar, dan tarif yang sangat terjangkau. Secara umum untuk rute yang sama, MRT Jakarta memiliki keunggulan dibandingkan dengan Trans Jakarta sebagai moda transportasi umum karena memiliki jaminan ketepatan waktu.

Selain membandingkan kedua jenis moda transportasi umum tersebut, masyarakat Jabodetabek juga mencoba membandingkan MRT dengan transportasi umum-pribadi, seperti taksi maupun ojek, terutama dalam hal efektivitas waktu. Dalam salah satu kanal Youtube, koresponden mencoba membandingkan MRT dengan taksi dan ojek roda dua untuk rute Lebak Bulus – Bundaran HI, hasilnya ojek roda dua menjadi moda transportasi dengan efektivitas waktu terbaik disusul MRT dan taksi.

Percobaan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan jenis moda transportasi sangat dipengaruhi berbagai faktor, sehingga masyarakat juga memiliki berbagai pertimbangan dalam memilih moda transportasi yang digunakan. Selama ini masyarakat Indonesia secara umum dan masyarakat Jakarta secara khusus masih menggunakan alasan ketidaknyamanan dan ketepatan waktu dalam menolak menggunakan moda transportasi umum. Budaya penggunaan moda transportasi pribadi inilah yang menjadi akar permasalahan kemacetan kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta.

Kondisi tersebut diperparah dengan budaya penggunaan moda transportasi pribadi dianggap sebagai gambaran kemapanan ekonomi seseorang, sehingga setiap orang berlomba-lomba dalam membeli moda transportasi pribadi. Pola berpikir tersebutlah yang menjadikan jumlah peredaran moda transportasi pribadi sangat banyak dan menjadi penyebab kemacetan.

Permasalahan kemacetan sebetulnya terjadi pada beberapa kota besar di dunia, karena memang hal ini sangat dipengaruhi oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat dunia pada umumnya dan kemajuan efisiensi industri otomotif dalam menyediakan moda transportasi pribadi dengan harga sangat rendah. Hanya saja negara-negara maju segera mengetahui bahwa kemacetan tidak hanya menyebabkan banyaknya waktu yang terbuang saat melakukan perjalanan, tetapi dampak terbesarnya adalah adanya pemborosan cadangan bahan bakar suatu negara dan apabila tidak diselesaikan dapat melemahkan ketahanan suatu negara.

Melihat kondisi tersebut beberapa negara melakukan beberapa metode untuk memecahkan masalah kemacetan di kota-kota besar untuk memastikan kondisi ketahanan negara pada masa yang akan datang. Moda transportasi umum merupakan jawaban yang tepat dalam efisiensi penggunaan bahan bakar suatu negara, mengingat secara umum cadangan energi tidak terbarukan semakin menipis, sehingga diperlukan berbagai metode dalam menghemat kebutuhan bahan bakar masing-masing negara untuk menjamin suatu negara dapat tetap berkembang meskipun cadangan bahan bakar semakin menipis. Hal ini sudah dilakukan negara-negara maju dengan membangun sistem transportasi umum yang memenuhi keinginan masyarakat dalam faktor kenyamanan, efektivitas waktu, biaya, dan lain sebagainya.

Selain fasilitas moda transportasi umum yang dikembangkan, beberapa negara juga menerapkan peraturan-peraturan yang memberatkan kepemilikan penggunaan moda transportasi pribadi. Keberhasilan menyediakan transportasi umum menghasilkan penghematan yang luar biasa dalam hal penggunaan bahan bakar dan meningkatkan efektivitas waktu pekerjaan yang akan menghasilkan suatu negara yang semakin berkembang.

Perubahan budaya penggunaan moda transportasi pribadi menjadi budaya penggunaan transportasi umum memerlukan waktu yang cukup lama karena budaya yang ada sudah berjalan selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah ada kata terlambat untuk mengubah suatu budaya transportasi ke arah yang lebih baik. Indonesia sedang melakukan beberapa langkah dalam menggeser budaya penggunaan moda transportasi pribadi menjadi moda transportasi umum dengan tantangan yang tidak mudah karena diperlukan nilai investasi yang cukup besar, meruntuhkan budaya penggunaan moda transportasi pribadi, dan diperlukannya peraturan yang memberatkan penggunaan kendaraan pribadi.

MRT Jakarta menjadi contoh yang sangat tepat dalam menunjukkan sulitnya mengubah budaya penggunaan moda transportasi pribadi menjadi moda transportasi umum, dari mulai proses pembangunan sampai dengan proses operasional. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana MRT Jakarta dapat beroperasi dengan nilai keuntungan untuk membayar utang investasi yang telah digunakan dan menambah investasi untuk rute-rute yang telah direncanakan.

Keuntungan operasional ini sangat penting, tidak hanya untuk pengelola MRT Jakarta, tetapi juga untuk contoh kota-kota besar di Indonesia dalam merencanakan moda transportasi umum yang dapat mengurangi kemacetan dan menghemat penggunaan bahan bakar nasional.

Merupakan tanggung jawab bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya untuk menggunakan moda transportasi umum yang sudah disediakan oleh pemerintah maupun pemerintah provinsi. Dengan berbagai kekurangan yang masih perlu diperbaiki, moda transportasi umum seharusnya digunakan sebagai pilihan utama dibandingkan moda transportasi pribadi maupun taksi dan ojek, karena moda transportasi umum inilah yang berkontribusi secara langsung terhadap kemajuan negara Indonesia dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Eko Yulianto mahasiswa S2 ITB


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed