DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 24 April 2019, 12:10 WIB

Kolom

Perang dan Damai di Masa Kini

Diwan Masnawi - detikNews
Perang dan Damai di Masa Kini
Jakarta -

Pada sebuah malam saya beranjak dari kasur kamar, membuka pintu dan menyaksikan dunia telah begitu sunyi, sepi, dan sedikit remang. Saya terbangun oleh lapar, dan bergegas berjalan menyusuri jalanan sepi, menyaksikan bayangan-bayangan diri sendiri yang memanjang memendek dari cahaya kuning lampu jalan, dalam tujuan mencari warung makan. Saya berjalan dengan begitu tenang dan santai, tanpa ada was-was dalam diri untuk selalu siaga bila sewaktu-waktu bom nuklir jatuh dari udara, atau siap berlari dalam tegang dan kalap saat derap dan teriak segerombolan suku, puak, begitu pekak di telinga, hendak perang antarsuku. Di rentang perjalanan hanya sekelebat motor ataupun mobil yang melewat, tak acuh. Saya hidup di era yang sepanjang sejarah begitu damai, ketimbang abad-abad sebelumnya.

Saya lahir di pengujung abad ke-20 dan bertumbuh besar di abad ke-21. Memang sewaktu kecil di beberapa bagian negara saya terjadi begitu banyak kekerasan; ada pembakaran toko-toko milik etnis Cina, ada pengrusakan terhadap masjid Ahmadiyah, ada perang antarsuku, ada militerisme --menculik, membunuh, dan sewenang-wenang-- dan ada beberapa kekerasan lainnya. Di sudut dunia yang lain malah ada perang "serius", yang tapinya bagi saya itu hanya sekadar berita dan cerita, tidak terhubung begitu dalam dengan diri saya, kehidupan saya --kalaupun itu ada lipatannya sungguh tebal, sejauh yang coba saya pahami.

Mungkin saya harus mempertanyakan kepedulian saya, keempatian saya, keberpihakan saya terhadap humanisme dan mengenyahkan segala sikap apatis, sudut apati dalam ceruk kesadaran saya. Tapi, itu hal lain. Di sini saya ingin mensyukuri bahwa saya hidup di tempat dan waktu yang sangat damai, yang belum ada presedennya dalam sejarah.

Memang, pada tahun 2000 perang-perang menyebabkan kematian 310.000 individu, dan kejahatan kekerasan membunuh 520.000 lainnya. Namun, bila dilihat dalam perspektif makro 830.000 korban ini hanya 1,5 persen dari 56 juta orang yang meninggal pada tahun 2000, sedang kematian yang lainnya pada tahun itu 1,26 juta orang meninggal dalam kecelakaan mobil atau 2,25 persen dari total kematian. Bahkan 815.000 orang melakukan bunuh diri. Bahkan data pada tahun 2002 lebih mengejutkan lagi. Dari 57 juta orang yang meninggal, hanya 172.000 orang yang meninggal dalam perang dan 569.000 individu lainnya meninggal disebabkan kejahatan dengan kekerasan, itu lebih sedikit bila dibandingkan dengan 873.000 orang yang meninggal karena bunuh diri .

Perang memang menurun. Orang-orang sudah "malas" untuk melangsungkan perang. Kita sudah mendapatkan banyak tokoh perdamaian, misalnya Mahatma Gandhi atau Marthin Luther King, dan juga para peraih Nobel untuk perdamaian lainnya. Cara pandang manusia dan keadaan yang melingkupinya sudah banyak berubah. Pada zaman pra-modern, ketika sumber kekayaan terletak di dalam tambang emas, ladang, atau perbudakan akan sangat wajar berpikir bahwa menginvansi dan menaklukkan sebuah teritori adalah keuntungan. Sedang era sekarang ketika sumber kekayaan terletak pada tiap-tiap kepala insinyur, ilmuwan, teknokrat, dan tiap-tiap kepala penting, sangat tidak wajar menaklukkan sebuah teritori untuk mendapatkan keuntungan, selain mendapati kerugian bahwa ongkos perang begitu besar.

Perdamaian fisik dalam skala global telah perlahan-perlahan menjadi. Pariwisata tumbuh pesat, orang-orang tidak akan menahan kencing sebab tegang dan panik di setiap gerbang perbatasan, kecurigaan terhadap orang asing tak seberlebihan seperti dulu. Orang-orang malah diundang untuk datang ke setiap destinasi-destinasi andalan yang dimiliki oleh suatu negara. Dunia telah benar-benar berubah dan baru.

Yuval Noah Harari menyusun setidaknya ada dua faktor utama yang berkontribusi besar mempengaruhi perubahan ini. Pertama, kenyataan bahwa harga perang naik secara dramatis. Ditemukannya bom nuklir adalah hal penting yang juga mengubah cara pandang para elite negara dan militer dalam memutuskan perang. Sebab senjata nuklir telah mengubah perang antarnegara adidaya menjadi bom bunuh diri bersama, yang dengan itu menjadi tidak mungkin untuk mengejar dominasi dunia dengan kekuatan senjata. Malah, akhir-akhir sekarang ini kita merasakan sendiri bahwa pertentangan antara negara adidaya untuk mengejar dominasi dunia, bukanlah lagi dengan senjata melainkan dengan perdagangan, lalu lahirlah istilah perang dagang dengan aktor utama Tiongkok dan Amerika.

Kedua, pertimbangan untung-rugi. Ongkos perang yang mahal tak setimpal dengan keuntungannya yang kecil. Sepanjang sejarah, negara-negara memperkaya dirinya dengan menjarah dan menganeksasi teritori musuh. Seperti telah ditulis di atas, sumber kekayaan yang utama dimiliki oleh suatu negara sekarang adalah modal sumber daya manusianya, tidak hanya sekadar sumber daya alamnya saja.

Harari mencontohkan California. Dulu kekayaannya dibangun dari pertambangan-pertambangan emas. Kini, kekayaannya disusun dari silikon dan seluloid, untuk kata lain bagi Silicon Valley dan seluloid bukit Hollywood, dua titik pentingnya. Kekayaannya tersimpan di kepala para insinyur Google dan para perancang naskah, sutradara, aktor, ahli-ahli efek dan marketing film Hollywood.

Perdamaian semakin menguntungkan ketimbang peperangan. Para elite-elite negara dan jenderal-jenderal militer memahami itu, maka adalah keputusan yang harus dipikir dua kali untuk menabuh gong perang. Aktivitas ekonomi akan terhambat, pai ekonomi akan menyusut dan susah untuk tumbuh cepat lagi.

Walau, perang belum benar-benar berakhir, dan masih ada beberapa titik di dunia ini yang bergelora dan udaranya berdebu oleh pasir dan bubuk mesiu, tetapi perdamaian dunia secara fisik yang terjadi dekade-dekade ini adalah hal baru bagi sejarah. Grafik perdamaian dunia sedang tinggi-tingginya.

Persoalan Lain

Ketika kita telah selesai dengan satu persoalan, maka akan selalu hadir persoalan lain lagi yang datang. Kalimat itu pun persis dengan keadaan sekarang, ketika kekerasan fisik yang ditandai oleh perang telah hampir redup dan padam, hadir kekerasan lain yang tak kalah mengerikan, yaitu kekerasan mental yang menyebabkan tingginya angka kematian melalui bunuh diri.

Umat manusia, setidaknya, telah berhasil lepas dari tiga persoalan mengerikan yang mengancam kehidupannya: kelaparan, wabah, dan perang. Lalu sekarang hadir persoalan baru yang tidak kalah mengerikan juga, yakni ketidaksehatan mental, yang menyebabkan --data pada tahun 2012 dari World Health Organization-- sekitar 804.000 orang meninggal di dunia karena bunuh diri . Secara global, tingkat rasio bunuh diri adalah 11,4 orang per 100.000 penduduk.

Sedang di Indonesia, angka bunuh diri mencapai 1,6 sampai 1,8 untuk 100.000 orang pada tahun 2001, dan melonjak menjadi 11,4 per 100.000 orang pada 2005. Angka pada tahun 2012 menurun menjadi 4,3 orang per 100.000 penduduk. Angka yang termasuk rendah di antara negara ASEAN, yang dipimpin oleh Filipina dengan 2,9 per 100.000 dan Malaysia dengan 3 per 100.000 orang.

Palagan Media Sosial

Di era 4.0 seperti sekarang ini, era semua serba internet, depresi semakin terpupuki. Seperti yang pernah pula saya rasakan sendiri, saya akan sedikit bercerita tentang tekanan dan rasa gelisah yang saya rasakan sebab sosial media, biar tidak hanya angka-angka saja. Ketika itu kuliah libur beberapa hari, tidak ada kegiatan penting, juga toh kepedulian saya pada hal sekitar sedang inflasi. Saya "mager" seharian di kamar, dalam dua hari itu saya cuma glundang-glundung di internet, bolak-balik dari satu aplikasi ke aplikasi lain dengan membawa perasaan yang aneh-aneh. Fluktuatif, gelisah, stres, emosi, dan tak jelas.

Saya teringat pada satu dialog Sean Parker, pendiri Napster, yang juga membantu Zuckerberg mengembangkan Facebook, dalam film The Social Network. Dia berkata kira-kira begini. "Dulu manusia hidup di hutan dan berbondong-bondong pindah ke kota, sekarang manusia berbondong-bondong pindah ke internet." Saya, atau kita, tentunya merasakan betul gejala ini. Segala bidang kehidupan sudah didigitalisasi, disimpan di awan Big Data, dari pelayanan pemerintahan, hubungan sosial, riwayat kesehatan, dan segala informasi lainnya semuanya kita simpan di internet. Bahkan sejarah sedang bergerak untuk menyempurnakan IoT (Internet of Things), di mana banyak aspek kehidupan yang terintegrasi dengan internet.

Perpindahan dari kehidupan yang nyata di sini, ke dunia maya di sana, tentunya menimbulkan rintang-rintang kesulitan adaptasi, kalau kita memang tidak bisa mengelak dari digitalisasi, dan mau tidak mau taken for granted. Kesehatan mental dan psikologis menjadi hal sentral dalam transisi perpindahan ini.

Bailey Parnell dalam awal ceramahnya di Ted dengan judul Is Social Media Hurting Your Mental Health? menampilkan beberapa foto. Foto pertama seorang cewek yang langsing dan seksi, dan ia bergumam, "Ah, aku gendut, aku begitu gendut." Lalu ada foto seseorang yang lagi berlibur di pantai, dan ia bergumam lagi, "Ooo, mengapa aku ada di sini, mengerjakan ini-itu, kenapa aku tidak ada di pantai dan menikmati liburan di sana?" Lalu ada foto seorang atlet muda berprestasi, ia bergumam lagi, "Arrggh, dia di umur segitu sudah begitu, kenapa aku?" Monolog-monolog dalam internal dirinya, solilokui, berputar terus setiap melihat foto-foto di sosial media, menyebabkannya gelisah dan stres.

Dalam konteks Indonesia hari-hari ini, explore Instagram dan trending di Twitter dipenuhi oleh perseteruan dua kubu capres-cawapres yang menjengkelkan dan bikin emosi. Banyak sekali kemuakan akan sosial media, dan tahu bahwa saya susah untuk lepas, telah terjerat begitu jauh, ingin rasanya meledakkan gumpalan entah nafsu atau rasa marah atau entah apa, yang juga bercampur dengan mesiu-mesiu perasaan dari hal-hal lain yang terakumulasi.

Saya menjadi orang yang moody, fluktuatif, dan kehilangan vitalitas. Akibat scrolls dan swipes saya menyimpan begitu banyak cerita, pikiran, gagasan, dan kesedihan orang lain dalam rentang waktu yang cepat. Keharusan multi-tasking itu pula yang mungkin menyebabkan lemahnya vitalitas saya pada satu hal misalnya, selera-selera dan hasrat tumpang tindih begitu cepat.

Ketika saya gegoleran, dan memegang hape, tepat saat itulah saya berubah menjadi seekor ikan koki di sebuah akuarium yang luas. Saya berjelajah ke sana kemari, namun tak kunjung menemukan pintu keluar, terjebak di sana dan harus menerima, memproses segala informasi-informasi yang saya serap. Tapi, saya menjadi begitu gampang lupa. Memori saya entah kelebihan muatan atau gimana, ketika menyaksikan satu video, saya telah lupa pada video yang sebelumnya saya tonton, ia masuk dan lepas begitu cepat. Saya menjadi gampang lupa pada detail-detail, yang mampu teringat hanya kerlip-kerlipnya saja. Dengan kata lain, segala racun yang saya serap dari media sosial menyebabkan saya gelisah dan tertekan, terjerat begitu erat.

Pada abad ini kekerasan yang paling menyebar dan mengerikan bukanlah kekerasan fisik seperti abad-abad yang lalu, tetapi kekerasan mental yang disebabkan oleh misal tekanan sosial, keterasingan, kesulitan ekonomi, atau pengaruh buruk media sosial. Toh, bila di atas telah disematkan dialog Sean Parker yang mengatakan bahwa kita ingin berbondong-bondong memindahkan segalanya ke internet, maka peperangan, kekerasan fisik pun sekarang diubah menjadi virtual, digusur ke dalam internet. Pistol dan pedangnya adalah jemari dan kata-kata yang tidak enak, selain dari retas-meretas.

Sejarah telah berubah, dan ini adalah kenyataan bagi generasi saya. Bahwa palagan yang akan sering saya hadapi bukanlah palagan perang yang berdebu dan panas, tetapi kotak-kotak foto yang digulirkan oleh diri sendiri dalam layar handphone.

Diwan Masnawi mahasiswa Fakultas Filsafat UGM


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed