DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 23 April 2019, 15:30 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kartini sebagai Pejuang Kesadaran Literasi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Kartini sebagai Pejuang Kesadaran Literasi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Di grup Whatsapp alumni pers kampus yang saya ikuti, seorang kawan yang belakangan menjadi aktivis militan antikomunis menyebarkan tulisan tentang Kartini. Gagasan tulisan tersebut lumayan klise dan sudah pernah saya baca sejak belasan tahun silam dari penulis-penulis lain. Poin utamanya adalah bahwa penokohan Kartini tak lebih dari upaya kolonial Belanda untuk meminggirkan peran tokoh-tokoh perempuan muslim dalam sejarah Nusantara.

Pembanding Kartini dalam tulisan itu adalah Dewi Sartika, Rohana Kudus, juga para perempuan muslim ternama yang lebih klasik, semisal Cut Nyak Dhien, Tengku Fakinah, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatudin Johan Berdaulat, Siti Aisyah We Tenriolle, serta beberapa nama lainnya.

Saya tidak sepenuhnya menolak tulisan itu. Pada beberapa sisi argumen, ia cukup masuk akal, misalnya bahwa tokoh-tokoh tersebut menjalankan peran yang jauh lebih konkret daripada "sekadar berkirim-kirim surat" ala Kartini. Cut Nyak Dhien adalah tokoh militer yang terjun bertempur melawan kolonial. Aisyah We Tenriolle menuliskan ikhtisar epos besar I La Galigo. Dewi Sartika mendirikan sekolah-sekolah. Rohana Kudus menyebarkan gagasannya secara langsung kepada masyarakat lewat publikasi di koran-koran.

Namun, untuk memosisikan Kartini sebagai sosok yang tidak punya peran dalam dunia Islam di Nusantara, sepertinya perlu dibincangkan ulang. Sebab, justru Si Putri Jepara itu merupakan pemantik penting yang membawa masyarakat Islam, khususnya di Jawa, menjadi lebih dekat dan nyebur lebih utuh ke dalam keislaman mereka.

***

Ceritanya, suatu hari Kartini berkunjung ke rumah pamannya, Pangeran Aria Hadiningrat, Bupati Demak. Di sana tengah berlangsung pengajian keluarga, dengan guru Kiai Soleh Darat Semarang. Sang Kiai membahas Surat Al Fatihah berikut makna-makna terdalamnya. Kartini yang bergabung menyimak pengajian itu jadi sangat terkesan dengan uraian Kiai Soleh Darat.

Usai pengajian, Kartini sowan menghadap Kiai Soleh. Ia menyatakan bahwa dalam hidupnya, baru kali itulah dirinya sempat mengerti makna surat terpenting dalam Al Quran itu. Namun, ia menyusulkan sebuah keheranan luar biasa.

"Kiai, apa hukumnya bila orang yang berilmu menyembunyikan ilmunya? Mengapa para ulama kita melarang penerjemahan dan penafsiran Al Quran dalam bahasa Jawa? Bukankah Al Quran itu pimpinan untuk hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Demikian Kartini bertanya. Atau mengkritik. Atau menggugat, dengan sebuah gugatan yang keras.

Pada masa itu, pemerintah kolonial melarang penerjemahan Al Quran. Aturan itu membawa akibat pasti, yaitu butanya masyarakat Islam di Jawa akan pemahaman atas kitab suci mereka sendiri. Terjemahan Al Quran di Nusantara bukannya belum ada, sebab dua abad sebelumnya ulama besar Abdurrauf As-Singkili sudah menulis kitab tafsir Al Quran dalam bahasa Melayu. Tetapi, Jawa bukan Melayu, dan masyarakat Jawa tidak mengakses kitab tafsir berbahasa Melayu.

Berangkat dari gugatan Kartini itulah, Kiai Soleh Darat lantas menulis kitab Faidlur Rahman, kitab tafsir Al Quran pertama dalam bahasa Jawa, dengan huruf Pegon alias Arab-Jawa. Itu menjadi tonggak awal pemahaman masyarakat awam Jawa atas kitab yang selama ini nyaris tidak mereka pahami, selain semata lewat para kiai.

Kitab Faidlur Rahman menjadi hadiah istimewa dari Kiai Soleh Darat untuk Kartini, pada saat gadis mungil yang penuh rasa ingin tahu itu dinikahkan dengan Adipati Djojoadiningrat.

***

Kartini memang cuma bertanya, bukan berjuang turun ke lapangan sebagaimana Cut Nyak Dhien atau Dewi Sartika. Namun, dalam lingkungan kaum ningrat dengan tradisi yang super-kaku, dalam himpitan tata hierarki yang begitu ketat, juga dalam cengkeraman aturan kolonial yang serba memblokade akses pengetahuan, pertanyaan Kartini itu adalah lemparan bom molotov kegelisahan. Untuk lontaran yang tampak kecil itu dibutuhkan keberanian besar, juga rasa ingin tahu yang meluap-luap tak terbendung.

Maka, ia bukan hanya sebentuk perjuangan dakwah dalam lingkup seterbatas sistem keyakinan bernama Islam. Ia jauh lebih luas dari itu, yakni tentang bagaimana selembar pintu baja yang tebal didobrak, agar cahaya dan oksigen merangsek masuk, agar kaum jelata bisa memperoleh sesuatu yang sebelumnya teramat mewah: pemahaman.

Rasanya, itulah kata kunci dari aksi kecil Kartini: pemahaman. Pemahaman atas apa yang senantiasa dibaca, didaras, diucapkan, namun tidak dimengerti. Membaca tanpa mengerti adalah tindakan absurd yang nyaris sia-sia, dan sulit diterima Kartini. Bagaimana bisa sesuatu yang seharusnya dijadikan pedoman hidup justru terus dengan sengaja diselubungi kabut?

Dengan begitu, ketika kita melihat respons Kiai Soleh Darat yang menerjemahkan dan menafsir Al Quran dalam bahasa Jawa, itulah jawaban yang sesungguhnya. Masyarakat tempat hidup Kartini adalah masyarakat Jawa. Bahasa yang paling dipahami dan menjadi instrumen komunikasi terdasar masyarakat tersebut adalah bahasa Jawa. Artinya, menerjemahkan sebuah kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa adalah langkah konkret untuk membawa suatu sistem nilai ke puncak kebermaknaannya.

Bukan klaim berlebihan ketika kita menempatkan Kartini sebagai sosok yang memperjuangkan literasi, meskipun perjuangan itu hanya ia jalankan dengan sebuah tindakan menggugat, yang untuk ukuran zaman ini terasa remeh sekali. Literasi dalam makna tingkat dua. Bukan hanya mengubah masyarakat yang tidak bisa membaca menjadi bisa membaca, melainkan mengubah masyarakat yang tidak paham menjadi berjalan berbondong-bondong ke arah paham.

***

Pada titik inilah, spirit 21 April semestinya bukan cuma diletakkan dalam konteks kesetaraan gender (dan toh memang banyak tokoh perempuan lain yang berperan lebih daripada Kartini), apalagi sekadar kegembiraan mengenakan kebaya dan pakaian adat. Ada spirit pendobrakan benteng doktrin dan eksklusivisme, pembongkaran atas hijab-hijab pengetahuan, juga semangat untuk merebut pemahaman.

Spirit semacam itulah yang agaknya mendesak untuk dibangkitkan kembali hari ini. Ya, hari ini, ketika segenap informasi digital pada Zaman Kalabendu Kebenaran membuat kita merasa tahu padahal sesungguhnya tidak cukup tahu, merasa mengerti masalah padahal sebenarnya hanya membaca cuilan dari satu sisi masalah. Mari kita tunggu bangkitnya Kartini dan Kiai Soleh Darat versi Era Pasca-Kebenaran.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed