DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 21 April 2019, 12:00 WIB

Jeda

Badai (Pemilu) Belum Berlalu

Mumu Aloha - detikNews
Badai (Pemilu) Belum Berlalu Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Pada hari yang telah ditunggu-tunggu, hari pencoblosan, puncak hajatan yang telah menguras energi dan emosi kita dalam bulan-bulan belakangan, aku berada di kota kelahiranku, yang kebetulan juga kota asal salah satu kontestan pemilu presiden, sang petahana, yang kita ketahui bersama. TPS tempatku mencoblos, di kampungku di Nayu, wilayah utara kota, terlihat cukup sepi ketika aku datang bersama kakak, ibu, dan pasangan suami-istri tetangga sebelah rumah, sekitar pukul 10.

Suasana guyup langsung terasa. Tidak ada kesan formal, kaku, maupun ketegangan sekecil apapun. Para petugas yang pada dasarnya adalah tetangga-tetangga kami yang saling mengenal dengan baik, menyambut dengan ramah, penuh canda; pendek kata segala urusan berjalan dengan cepat, mudah, dan lancar. Kami bahkan tak perlu menunjukkan KTP, hanya menyerahkan surat undangan, dan tak ada nomor antrean. Duduk menunggu dalam hitungan menit, nama-nama kami pun dipanggil satu per satu.

Pulang kembali ke rumah, waktu baru menunjuk pukul setengah 11. Kami langsung makan, nonton TV, dan merasakan suasana di gang dan sekitar rumah sepi-lenggang. "Kok berasa kayak Lebaran ya," celetukku, yang diamini oleh kakakku. Kami duduk-duduk, menikmati waktu senggang libur nasional pesta demokrasi, yang terasa seperti "bonus" di tengah rutinitas kerja di awal tahun. Lalu, menonton televisi lagi, menyaksikan laporan suasana pencoblosan dari berbagai daerah, menyimak analisis para pengamat politik, sambil menunggu publikasi quick count.

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Ada perasaan deg-degan menunggu hasil quick count yang baru boleh disiarkan setelah pukul tiga sore, tapi pada saat yang sama ada semacam perasaan lega juga. Terpikir, bahwa setelah ini, segala keberisikan, dukung-dukungan, kubu-kubuan akan segera berakhir. Setelah quick count diumumkan, demikian yang terbayang, kontestan "pemenang" akan membuat pernyataan, dan kontestan yang kalah akan memberi selamat. Dan, badai pemilu yang sebelumnya membelah masyarakat pun berlalu. Kita kembali ke dunia keseharian masing-masing, bekerja, menjalani "kehidupan nyata" seperti sebelum-sebelumnya, dalam kesatuan persaudaraan sebagai warga bangsa dan warga negara yang rukun, toleran, dan damai.

Namun, yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Apa yang pernah terjadi pada Pemilu 2014 terulang kembali, dan cerita selanjutnya kita sama-sama tahu. Rasanya ingin membentur-benturkan kepala ke tembok. Suasana damai yang telah terbayang tinggal menjadi impian. Dalam hitungan jam, eskalasi keberisikan dan "situasi kacau" di media sosial, juga dalam siaran televisi, justru meninggi. Apa yang kemudian terjadi dalam dua puluh empat jam berikutnya, dan jam-jam berikutnya lagi, sekali lagi, kita telah sama-sama tahu dan tak perlu diulang di sini. Rasanya, hari yang telah ditunggu itu, yang diharapkan menjadi titik balik ke situasi yang adem dan melegakan, seolah berubah menjadi anti-klimaks yang membuka babak baru suhu politik yang panas dan menegangkan.

Dalam perkembangan seperti itu, pada malam sehari setelah pencoblosan, aku berusaha melenyapkan diriku, menghilang untuk lari dan menghindar dari segala hiruk pikuk, memasuki dunia paralel yang sunyi-senyap. Aku duduk dalam gelap di deretan bangku VIP Gedung Wayang Orang Sriwedari, menonton pementasan lakon Sena Mimis. Kebetulan malam itu malam Jumat, dan bagi sebagian orang Jawa-Solo, menonton wayang lebih-lebih pada malam Jumat itu bukan sekadar "mencari hiburan", melainkan sebuah laku spiritual untuk mendapatkan pencerahan yang menenangkan jiwa.

Dan, memang berhasil. Untuk sesaat aku seperti memasuki lorong waktu, terlempar kembali ke masa lalu, masa ketika aku masih kecil dan sering diajak oleh salah seorang budhe-ku nonton wayang orang Sriwedari --yang sejak dulu sampai sekarang selalu berpentas setiap malam, kecuali pada hari-hari libur tertentu, seperti pada hari pencoblosan kemarin. Kala itu era awal tahun 1980-an, dan nyaris tak ada yang berubah sampai sekarang. Dinding-dinding yang kusam, "teknologi" panggung yang apa adanya, dialog di atas panggung yang nyaris tak terdengar....

Berkali-kali aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dalam ruangan yang gelap itu. Selain, jujur saja, untuk mengatasi kebosanan, aku ingin tahu, siapa orang-orang ini, para penonton ini. Terlihat, sebagian adalah anak-anak muda yang datang bersama orangtuanya, dan sepanjang pertunjukan sibuk main HP tanpa sedetik pun tertarik untuk menatap ke arah panggung. Sebagian lagi terlihat cukup antusias, berkali-kali membidikkan kamera HP-nya, atau merekam adegan demi adegan.

Kemudian aku seperti disadarkan oleh kehadiranku sendiri di situ, berada di antara para penonton yang terbosan-bosan, dan agak tersentak: kenapa aku bisa berada di sini, saat ini? Di ruangan gelap sebuah gedung yang luas, dengan panggung gemerlap, suara gamelan bertalu-talu yang membangkitkan jiwa, namun semua itu seperti melemparkanku dalam dunia lain yang asing. Untuk sesaat aku merasa seperti benar-benar lenyap. Sampai akhirnya, tirai bergambar gunungan turun perlahan, menutup panggung, mengakhiri pementasan malam itu, dan orang-orang bangkit, bergegas mengikuti cahaya yang menuntun ke arah pintu.

Di luar gedung, aku menemukan diriku kembali dan dalam kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, langsung teringat bahwa baru satu hari berlalu setelah pemilu. Aku berusaha mengumpulkan kembali kesadaranku seutuhnya sambil berjalan ke sana ke mari di depan gedung, di antara bubaran orang-orang yang berjalan lambat-lambat, seperti baru saja kembali dari alam gaib ke dunia nyata. Aku melihat daftar lakon yang akan dipentaskan pada malam-malam berikutnya sampai akhir bulan ini.

Aku melihat loket yang tutup, dan tulisan VIP Rp 10.000 - Kelas 1 Rp 7500 - Kelas 2 Rp 5000 yang tadi tak sempat benar-benar kuperhatikan karena aku datang ketika pertunjukan sudah dimulai dan oleh karenanya serba terburu-buru. Aku berdiri di tepi teras gedung, menatap ke kejauhan. Taman Sriwedari yang gelap, dan sedang dalam pemugaran untuk sebuah proyek pembangunan yang akan mengubah fungsinya dari tempat hiburan rakyat menjadi masjid yang konon akan sangat megah.

Aku melangkah ke tempat parkir dengan ingatan yang kembali, ya, baru satu hari berlalu setelah pemilu. Aku melangkah lambat-lambat seperti melintasi badai yang melibas dan menggulung diriku, dan tak kuketahui di mana ujungnya, menyeretku ke mana, dan akan menghempaskanku dalam situasi seperti apa.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed