DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 16 April 2019, 09:50 WIB

Kolom

Saatnya Pilih Caleg Melek Data

Sri Suharti - detikNews
Saatnya Pilih Caleg Melek Data Surat Suara Pemilu 2019
Jakarta -
Gaung kampanye caleg tidak seramai capres. Padahal dari 5 surat suara yang akan dicoblos nanti, ada 3 surat suara yang menjadi cara memilih caleg yaitu untuk tingkat DPRD kab/kota, DPRD propinsi dan DPRD pusat. Masing-masing caleg tiap partai telah diusung dengan formasi berbeda dari masing-masing daerah pemilihan. Namun ternyata pemilu serentak capres dan caleg ini memberikan efek "tenggelam" para caleg di masa kampanye, tertutupi gaung kampanye capres. Tak sedikit warga masyarakat yang merasa tidak mengenal caleg yang akan dipilih, bahkan hanya terbatas foto yang terpampang di setiap sudut jalan.

Keberadaan para caleg di kursi dewan memberikan peranan penting pada pemerintah, khususnya terkait pemangku kebijakan dan aturan hukum baik di tingkat pusat ataupun daerah. Caleg dipilih bukan semata yang mau turun kerja bakti di lingkungan masyarakat atau yang banyak membantu teman dan tetangga. Namun caleg dituntut untuk cerdas baik akal maupun hati. Kedudukan caleg di kursi legislatif harus bisa menjaring aspirasi rakyat dan menyuarakannya di parlemen.

Caleg juga harus tanggap dengan situasi global terutama kondisi masyarakat yang menjadi daerah pemilihannya. Dan data adalah modal awal bagi para caleg untuk bisa menyuarakan aspirasi rakyat.

Data adalah sesuatu yang mahal harganya, karena proses untuk mendapatkan mengolah dan menyusunnya dari angka demi angka membutuhkan waktu, tenaga, otak, dan biaya yang tidak sedikit. Namun secara umum pemerintah telah menyediakan berbagai data strategis yang murah dan terpercaya melalui Badan Pusat Statistik (BPS). Data BPS yang independen bisa dimanfaatkan oleh para caleg dari partai mana pun dalam memahami kondisi global dan memberikan gambaran bagaimana visi dan misi saat menjadi anggota legislatif.

Inflasi

Inflasi dapat diartikan sebagai penurunan nilai mata uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum. Penghitungan inflasi dilakukan di kota-kota besar dan kota penunjang lainnya di seluruh Indonesia. Mencakup 225-462 jenis komoditas yang diamati pergerakan harganya setiap minggu, 2 minggu sekali dan bulanan, tergantung seberapa banyak komoditas tersebut dikonsumsi masyarakat. Angka inflasi ini akan selalu dirilis oleh BPS di setiap awal bulan berikutnya. Jadi inflasi bulan April 2019 akan dapat kita lihat angkanya di 1 Mei 2019.

Tidak sedikit para caleg yang datang ke pasar untuk memantau harga, tanya jawab dengan para pedagang dan konsumen. Namun hasil yang diperoleh tidak akan selengkap angka dari inflasi, karena sudah mencakup berbagai komoditas, berbagai pedagang dan di beberapa pasar yang berbeda baik tradisional maupun modern.

Ketajaman para caleg membaca data inflasi ini banyak memberikan masukan program kerakyatan. Bagaimana menyejahterakan rakyat di daerah pemilihannya baik sebagai produsen, konsumen maupun pedagang di pasar.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan pertumbuhan barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian pada kurun waktu tertentu. Indikator ini bermanfaat sebagai dasar pembuatan proyeksi atau perkiraan penerimaan negara untuk perencanaan pembangunan nasional atau sektoral atau regional.

Angka pertumbuhan ekonomi ini dapat dimanfaatkan oleh caleg baik pusat , propinsi maupun level kabupaten/kota. Angka yang dihitung telah lengkap mencakup data triwulanan dan tahunan di 17 sektor lapangan usaha. Data ini dirilis setiap triwulan, dengan jeda waktu 1 bulan. Pertumbuhan ekonomi triwulan 1 2019 (Januari-Maret) akan dirilis pada bulan Mei 2019.

Sebagai seorang caleg, pemahaman global tentang pertumbuhan ekonomi ini mutlak diperlukan untuk melihat potensi daerah. Prioritas pembangunan di sektor lapangan usaha potensi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, serta berdampak positif pada kegiatan ekonomi lainnya.

Kemiskinan

Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan dinilai dari sisi pengeluaran. Angka kemiskinan merupakan angka yang sensitif, di satu sisi menjadi tolak ukur keberhasilan pembangunan. Di sisi lain diperebutkan demi mendapatkan bantuan dana dari pemerintah pusat. Angka kemiskinan dirilis BPS satu tahun sekali berdasarkan hasil pendataan di bulan Maret.

Hal yang disayangkan adalah ketidakpahaman para pengambil kebijakan tentang konsep dan definisi sebuah pengukuran kemiskinan. Hal ini seringkali membuat setiap angka kemiskinan yang dirilis oleh BPS dianggap mendukung pihak-pihak tertentu.

Tentu saja bagi para caleg pemahaman utuh mengenai kemiskinan dan hal-hal yang tercakup di dalamnya mutlak dimiliki. Jangan sampai seorang caleg tidak bisa memperjuangkan nasib rakyatnya hanya karena kegagalan memahami konsep kemiskinan.

Selain 3 hal tersebut masih banyak data-data yang wajib dipahami seorang caleg sebelum menduduki kursi parlemen: Nilai Tukar Petani (NTP), Angka Pengangguran, Ratio Gini, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), indikator pendidikan, indikator Kesehatan, dan lainnya.

Tidak akan maksimal seorang caleg yang duduk di kursi dewan, namun buta akan data. Setiap keputusan yang dia ambil akan menyangkut ribuan rakyat yang telah mengikhlaskan diri mencoblos namanya di pemilu. Jikalau saat ini banyak pendukung baik keluarga, kerabat maupun teman, namun tanpa ada bekal membaca data maka caleg itu tidak akan amanah mengayomi rakyat dengan memperjuangkan aspirasinya.

Belum ada terlambat untuk berpikir ulang, mari pilih caleg yang amanah dan melek data. Negeri ini terlalu luas untuk dilakukan"blusukan" di berbagai tempat. Namun ketika para caleg sudah bisa memahami angka di setiap data strategis yang ada, maka potensi negeri ini telah terbaca, masalah negeri ini telah terlihat dan saatnya memperjuangkan kesejahteraan rakyat di meja parlemen.

Sri Suharti Fungsional Statistisi Muda Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed