DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 14 April 2019, 11:38 WIB

Jeda

Minggu Sebelum Pemilu

Mumu Aloha - detikNews
Minggu Sebelum Pemilu Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Orang-orang bangun tidur dengan ingatan pada dimulainya Masa Tenang. Sambil ngulet, meregangkan otot-otot, mengembalikan alam bawah sadar dari petualangan di dunia mimpi ke dunia nyata, mengucek-ngucek mata, kemudian meraih HP di sisi tempat tidur, dan mengecek akun-akun media sosial. Atau pesan baru yang muncul di aplikasi kencan.

Kemudian menit-menit berlalu dengan bermalasan-malasan, menggulingkan badan ke sana kemari di atas kasur yang empuk, sambil mata terus memelototi layar HP, dan jempol tak henti skrol-skrol "timeline". Tak ada lagi berita bohong, ujaran kebencian, ataupun kampanye-kampanye dari pasangan calon presiden dan wapres maupun calon-calon anggota legislatif.

Sungguh menyenangkan sekali bahwa Masa Tenang Pemilu dimulai bertepatan pada hari Minggu. Tak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan dengan hari Minggu, lebih-lebih setelah hari-hari panjang yang melelahkan, dan menguras energi serta emosi. Mungkin, hari ini saatnya untuk memamerkan kembali foto-foto masakan atau rekaman momen-momen piknik yang masih tersisa yang belum sempat diunggah sebelumnya.

Tidak ada lagi, tidak boleh ada, percakapan dukung-mendukung, atau pun mengiklankan serta menyiarkan rekam jejak calon atau partai politik yang mengarah pada kepentingan kampanye. Begitulah aturannya. Yang ada tinggal kemantapan kita masing-masing di dalam hati, tiga hari lagi akan nyoblos tanda gambar dari calon-calon yang sudah kita yakini akan membawa bangsa ini pada kebaikan untuk masa lima tahun ke depan.

Yang ada tinggal ketenangan kita menunggu datangnya hajatan besar itu. Hajatan lima tahunan yang menegaskan kewargaan kita, sebagai bagian dari masyarakat di sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Inilah hari raya kenegaraan, yang disambut dan akan dirayakan dengan penuh suka cita. Sebagian orang jauh-jauh hari sudah membeli tiket untuk pulang "mudik", mencoblos di kampung halaman bersama keluarga. Sekalian menikmati liburan, karena hari pencoblosan ditetapkan sebagai libur nasional, dan berdekatan pula dengan hari libur keagamaan.

Sambutan yang penuh suka cita juga tampak pada layanan-layanan publik. Sebuah jaringan tempat kebugaran di Jakarta mengumumkan perubahan jam bukanya pada hari pencoblosan. Tempat yang biasanya buka sejak pukul enam pagi itu (dan tutup pukul 10 malam), pada tanggal 17 nanti baru akan buka pukul dua belas (dan tutup pukul delapan malam). To support and encourage our staff's right to vote in the presidential and legislative elections.

Sejumlah aktivis dan tokoh cukup ternama yang saya kenal, pada hari-hari terakhir sebelum Masa Tenang ini juga mulai membuat "pernyataan politik" di media sosial. Mereka yang awalnya telah menyatakan akan golput, atau minimal masih menimbang-nimbang akan menggunakan hak pilihnya atau tidak, akhirnya berubah pikiran dan dengan terang-terangan menyatakan dukungannya pada salah satu pasangan calon, memaparkan berderet alasan dan argumentasi yang bernada mengajak para pengikutnya untuk juga mencoblos, sekaligus memberikan penegasan sikap penghormatan dan penghargaannya pada mereka yang memiliki pilihan berbeda.

Hari-hari menjelang pencoblosan, sebelum Masa Tenang, semua seolah berbenah dan bergerak cepat. Seolah segala usaha yang telah dilakukan sebelumnya selama Masa Kampanye yang hingar-bingar dan gegap-gempita masih saja terasa ada yang kurang. Sebelum Hari Tenang, semua seolah dilengkapi dan disempurnakan. Iklan makin gencar, kampanye pamungkas dari masing-masing kubu terlihat sebagai "pameran kekuatan" yang dibuat sedemikian rupa menakjubkan.

Debat terakhir juga sudah dilakukan semalam, dan semua pihak merasa menang. Sejak semula, dalam setiap debat maupun dalam survei-survei elektablitas, masing-masing pihak selalu merasa lebih unggul dibanding lawannya. Jadi, jika demikian halnya, maka siapapun yang akan menang nanti sebenarnya sudah tidak menjadi masalah. Semua pihak akan legowo menerima siapa yang menang, atau sebagai bangsa yang dihuni insan-insan relijius, iklas selalu menjadi kata yang tepat --iklas menerima apapun hasil pemilu yang telah dengan penuh daya upaya diselenggarakan dengan seadil-adilnya.

Pilih baju terbaikmu. Pergilah ke TPS bersama orang-orang yang kau cintai. Celupkan jarimu di tinta biru, pamerkan di media sosialmu, dan tunjukkan kepada petugas kasir di kedai kopi untuk mendapatkan diskon. Bergembiralah, karena sebagai rakyat, hanya itu yang perlu.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed