DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 12 April 2019, 16:00 WIB

Kolom

Mengintip Kampung Jelang "Coblosan"

Kalis Mardiasih - detikNews
Mengintip Kampung Jelang Coblosan Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Sebagai pemuka agama tingkat kampung, Pak Mustofa ketiban sibuk juga jelang hajatan pesta rakyat memilih wakil untuk mengurusi negara yang tinggal beberapa hari lagi. Bulan lalu, caleg DPRD dari RT sebelah sudah sowan (istilah untuk bertamu namun dengan keperluan khusus ke rumah tokoh tertentu) ke rumahnya. Basa-basinya sih mohon doa dan restu maju pencalegan, tapi secara teknisnya, beberapa hari kemudian terlihat Pak Mustofa sibuk mondar-mandir dari rumah ke rumah warga.

"Memangnya sudah pasti baik, Pak?" tanya anak Pak Mustofa, mahasiswa baru yang sedang kritis-kritisnya.

"Insya Allah baik. Dulu ketika masjid kampung dibangun, dia sudah jadi anggota dewan dan nyumbangnya banyak."

Ukuran-ukuran kebaikan anggota dewan tingkat daerah di mata orang kampung memang sama sekali tak muluk. Pejabat yang baik berarti mereka yang rajin menyumbang dana perbaikan masjid, donasi acara tujuh belasan, rajin datang ke kondangan atau hajatan warga dengan isi amplop yang lumayan, dan masih mau buka kaca jendela mobil kalau melintas di kampung. Urusan peran dalam mengambil kebijakan peraturan daerah atau kiprah dalam memperbarui program-program komisi di legislatif, itu terlalu muluk. Warga di kampung tidak mau tahu atau lebih tepatnya tak tahu cara mengawal kebijakan wakil rakyat itu.

Selain Pak Mustofa, Pak RT juga tak kalah sibuk. Selain persiapan lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan memastikan dokumen nyoblos seluruh warga beres, Pak RT juga bagi-bagi kalender ke rumah-rumah. Tentu saja kalender bergambar salah satu calon presiden yang dilengkapi dengan brosur salah seorang calon anggota DPD.

"Ada yang titip kalender," katanya.

Selang beberapa hari, ada mobil pengirim barang mengantar mebel ke rumah Pak Mustofa dan Pak RT. Seperti tahu sama tahu, keduanya hanya saling lempar senyum saja dari jauh. Kedua istri mereka bertanya, kok njanur gunung beli kursi baru. Uang dari mana? Kata para suami itu, ada rezeki yang bentuknya nggak boleh dimakan anak dan istri karena bisa jadi nggak berkah di perut, jadi rezeki itu dibelikan benda mati saja. Walah, ada-ada saja.

Sepanjang masa kampanye berlangsung, sepertinya cuma ada satu calon legislatif dari luar kampung yang mampir ke desa mereka. Harinya Minggu pagi. Pintu-pintu rumah diketuk pagi sekali sampai si pengetuk itu dikira tukang susu kedelai. Ia berwujud seorang pria usia 50-an, mengenakan kemeja warna putih dan celana kain, sungguh mirip dengan mahasiswa yang sedang kerja praktik. Makin mirip karena sang caleg itu datang dengan mengendarai motor bebek.

"Perkenalkan, Bu. Saya X dari Partai Anu. Sekadar mengingatkan, minggu depan jangan lupa pergi ke TPS ya, Bu. Partai saya nomor XX, saya nomor urut YY. Ini pimpinan partai kami. Terima kasih."

Unik sekali. Hanya sekira kurang dari dua menit presentasi, lalu si calon legislatif mohon undur diri dan bersegera mengegas motor kembali. Partai Anu adalah salah satu partai baru dalam pentas elektoral kali ini. Pendirinya jelas bukan orang baru. Partai kecil ini jelas sulit lolos ambang batas parlemen menurut banyak survei. Tapi, dengar-dengar, orang seperti Pak X tadi memang digaji untuk kampanye door to door. Ada target berapa jumlah rumah yang harus ia datangi per hari. Memang mirip-mirip pegawai pemasaran.

Para orang tua di kampung ini sudah bisa pakai Facebook, sudah biasa mengirim meme khas candaan napak-bapak di grup Whatsapp kampung dan rutin melakukan panggilan video dengan anak-anaknya yang kuliah atau bekerja di luar kota. Tapi, urusan pilihan politik, ya tetap gaya lama.

Ada barisan pengidola partai yang didirikan oleh tokoh nasional kawakan yang begitu kharismatik. Pejah gesang alias mati hidup ya tetap pilih warisan dari sang tokoh idola. Ada yang memilih sebuah partai karena alasan sejak ia muda, itulah partai pilihannya. Ada yang tetap memilih partai karena rekomendasi guru spiritualnya. Meskipun di televisi ramai berita korupsi hingga skandal proyek dari keseluruhan partai tersebut, warga kampung tetap tidak peduli. Dalam teori idola, seseorang kadang tak butuh kebenaran, melainkan subjektivitas pribadi yang dibalut sedikit halusinasi. Namanya juga selera.

Partai baru atau munculnya ketokohan baru bukan sesuatu yang cukup menarik untuk warga kampung. Apalagi, jika kemunculan-kemunculan itu tidak diterjemahkan dalam bahasa yang konkret, semisal, membangun sebuah bangunan, menyelenggarakan program pemberdayaan, atau menjanjikan suatu hal yang jelas perhitungannya.

Retorika kebaruan yang muncul via acara talk show di televisi nyatanya sulit jadi retorika di pos-pos ronda. Ini bukan perkara politik uang, kampanye hitam dan hantu buruk demokrasi sejenisnya, melainkan perkara tradisi. Agen komunikasi yang dipercaya tak lain tak bukan masih dipegang oleh tokoh agama lokal dan juga pimpinan lokal yang jelas pengabdiannya, selayaknya Pak Mustofa dan Pak RT. Istilah swing voters maupun undecided voters justru sangat asing.

Hajat coblosan atau pemilihan umum, bagi orang kampung Pak Mustofa lebih mirip arena bersenang-senang. Tidak ribet dan tidak repot. Warga sukarela datang ke TPS dengan mandi terlebih dahulu di pagi hari. Mereka siap memenangkan saudara yang nyaleg, calon rekomendasi dari seorang tokoh, atau pilihan mantap berbasis selera. Setelahnya, mereka punya cukup waktu untuk mengobrol di lokasi bahkan hingga sore hari ketika penghitungan suara dilaksanakan.

Media dan kaum intelektual menyebut peristiwa itu sebagai partisipasi politik warga negara. Bagi warga kampung, mereka hanya sedang menjaga nilai kemasyarakatan dengan berkumpul dan menjaga ikatan antarwarga.

Toh, siapa pun yang terpilih, panitia pemungutan suara tetap menyiapkan acara dangdutan di lapangan kampung sebagai wujud syukur. Setelah joget-joget semalaman bersama biduan, hajatan damai itu tetap akan ditutup dengan doa yang khusyuk. Warga akan menyahut "amiiin" serentak. Begitulah, sekat antara tradisi, spiritualitas, dan perilaku yang saling menyilang sekaligus solid, yang terkadang tak terbaca oleh data survei dan teknologi.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed