DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 09 April 2019, 15:20 WIB

Kolom

Pilpres 2019 sebagai Katalis Ekonomi

Jusup Silitonga - detikNews
Pilpres 2019 sebagai Katalis Ekonomi
Jakarta -

Pemilihan Umum Presiden 2019 mendekati tahapan akhir. Debat demi debat capres dan cawapres yang sangat menarik telah kita ikuti bersama. Yang lebih penting untuk dinantikan adalah sejauh mana dampak pilpres terhadap ekonomi Indonesia. It's the economy!

The Next Big Thing


Pertumbuhan ekonomi 2018 yang dirilis BPS berada di angka 5.17%, yang lebih baik daripada 2017 (5.07%). Pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir berada di sekitar 5% yang bisa dikatakan the new normal. Pesatnya pembangunan belakangan ini, khususnya di bidang infrastruktur, tidak cukup signifikan dalam menaikkan angka pertumbuhan ekonomi atau bisa dikatakan diminishing return ataupun kurang produktif. Utang yang bertambah, walaupun secara angka rasio terhadap GDP masih aman, tidak menyebabkan multiplier effect yang signifikan terhadap ekonomi. Kebijakan reformasi fiskal yang ditandai dengan tax amnesty juga tidak berpengaruh banyak dalam menaikkan rasio pajak terhadap PDB.

Terakhir kali pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6% disebabkan oleh commodity boom yang sayangnya kurang dimanfaatkan dalam membangun fundamental ekonomi di masa lampau. Oleh karena itu diperlukan strategi baru yang efektif untuk menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia, atau bisa jadi diperlukan perubahan yang cukup radikal terhadap ekonomi Indonesia supaya tumbuh lebih tinggi di masa depan. Kita sangat perlu melakukan penguatan komponen-komponen ekonomi dalam negeri supaya Indonesia dapat menjadi the next big thing.

Keunggulan Kompetitif

Jika ditelisik dari komponen PDB, shifting ke sektor industri dan jasa dari sektor pertanian masih belum cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan komponen PDB dari sektor pertanian yang masih cukup tinggi (di atas 10%). Perpindahan dari sektor pertanian harus berjalan lebih cepat agar dapat meningkatkan produktivitas masyarakat, tanpa mengurangi kesejahteraan para petani. Di kebanyakan negara maju, ekonomi sangat menitikberatkan kepada sektor industri dan jasa.

Adapun di komponen PDB dari end use, konsumsi rumah tangga masih menjadi andalan, diikuti oleh investasi. Ke depannya perlu dipikirkan kebijakan untuk menumbuhkan investasi supaya dapat menstimulasi konsumsi yang pada akhirnya menumbuhkan ekonomi.

Diperlukan investasi yang cukup besar, khususnya Foreign Direct Investment (yang saat ini masih di kisaran 2% dari PDB) yang berdampak langsung terhadap ekonomi, agar dapat menumbuhkan ekonomi di atas 6% atau lebih tinggi lagi, siapapun presidennya. Kebijakan suku bunga yang tidak terlalu tinggi, keringanan pajak kepada investasi baru, kemudahan izin (ease of doing business, yang saat ini masih di peringkat 70-an), kepastian hukum, pembangunan infrastruktur yang lebih terarah dan efektif, maupun pembukaan pusat-pusat industri baru sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan ekonomi lebih tinggi lagi.

Kita perlu menemukan dan memfokuskan keunggulan kompetitif kita dibandingkan negara lain demi kemajuan Indonesia.

Nilai Tambah

Pertumbuhan di masa depan wajib memfokuskan kepada nilai tambah (value added) yang dapat diberikan kepada barang dan jasa. Kita tidak bisa lagi hanya bersandar kepada sumber daya alam mentah yang dijual murah di pasar. Era commodity boom sudah berakhir. Harga komoditas yang fluktuatif dan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China sangat rentan mempengaruhi Indonesia yang secara ekonomi termasuk dalam weak open economy.

Infrastruktur yang dibangun cukup masif sebaiknya tidak hanya berhenti di "ganti untung". Perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana nilai tambah dari infrastruktur tersebut yang memberi manfaat bagi rakyat banyak. Pusat-pusat industri baru, misalnya, perlu dibuka lebih banyak di sekitar lokasi infrastruktur.

Selain itu, kebijakan suku bunga di Amerika Serikat sangat mempengaruhi aliran investasi dan nilai tukar. Kita tidak bisa hanya mengandalkan menaikkan suku bunga kita terus-menerus untuk mengimbangi kebijakan negara kuat di bidang ekonomi, yang akan berdampak kurang baik terhadap ketahanan ekonomi. Pemerintah harus segera membenahi current account yang saat ini negatif dengan tidak hanya mengandalkan impor.

Betul bahwa inflasi terjaga dengan baik di kisaran 3% belakangan ini. Tapi jika hanya memperbanyak supply barang dengan melakukan impor sangatlah kurang elok di jangka pendek bagi current account Indonesia yang sekarang defisit ataupun bagi petani kita, maupun di jangka panjang terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan dan Stabilitas

Beberapa firma dunia meramalkan Indonesia termasuk negara dengan ekonomi kuat di masa depan. Tetapi hal tersebut hanya dapat terjadi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pertumbuhan PDB di kisaran 5% tentulah tidak cukup untuk mewujudkan mimpi firma-firma tersebut.

Tantangannya adalah sejauh mana pemerintah memilih antara pertumbuhan dan stabilitas. Belakangan ini sepertinya kebijakan lebih berfokus kepada stabilitas. Pertumbuhan utang pemerintah nampaknya belum cukup radikal berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang dijaga di angka 3%, cadangan devisa yang terjaga cukup baik, dan suku bunga yang dinaikkan cukup tinggi belakangan ini, memang cukup menjaga stabilitas ekonomi.

Trade-off-nya adalah pertumbuhan ekonomi tidak cukup tinggi jika dibandingkan dengan era commodity boom. Pertumbuhan ekonomi yang ada sekarang tidak cukup baik untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Betul angka kemiskinan berkurang. Tetapi penurunan itu berlangsung lebih lambat di masa lalu (kurang dari 1% per tahun dibandingkan lebih dari 1% per tahun di masa commodity boom). Hal tersebut disebabkan pembukaan lapangan kerja dengan kualitas rendah di mana sebagian masyarakat Indonesia bekerja di sektor informal yang tidak cukup aman bagi kehidupannya.

Di masa depan kita harus lebih memfokuskan pada pertumbuhan, yang memerlukan investasi besar-besaran, khususnya di sektor industri yang lebih produktif dalam menumbuhkan ekonomi, tidak hanya di infrastruktur. Hal ini sangat diperlukan untuk menyerap tenaga kerja, di mana Indonesia mendapat bonus demografi. Industri 4.0 justru menjadi tantangan dengan adanya otomatisasi. Digitalisasi yang memperpendek rantai distribusi juga sangat erat kaitannya dengan tenaga kerja yang berada di dalamnya. Jangan sampai bonus demografi malah menjadi kutukan bagi kita dengan adanya kemajuan teknologi.

Fokus pada Rakyat

Perjalanan panjang dalam proses pilpres yang berlangsung hampir setahun terakhir cukup membelah masyarakat. Kita berharap bahwa yang terpilih nantinya dapat berfokus kepada ekonomi rakyat. Daripada hanya berkutat pada isu remeh-temeh mengenai harga telur dan tempe, ataupun seremonial peresmian infrastruktur, adalah lebih baik memikirkan bagaimana menumbuhkan produktivitas ekonomi dan menaikkan pendapatan masyarakat. Kebijakan di bidang energi juga perlu menjadi perhatian, di mana harga komoditas yang naik turunnya sangat cepat dan fluktuatif yang sangat mempengaruhi pemasukan negara.

Jika pasangan petahana yang terpilih, diharapkan dapat memperbaiki banyak hal yang masih kurang baik (kekurangefektivan pembangunan infrastruktur sebagai contoh) dan melanjutkan hal-hal yang sudah baik dengan kecepatan yang lebih baik daripada penantang, dengan melakukan continuous improvement. Jika pasangan penantang yang terpilih, dibutuhkan perencanaan yang sangat matang, dan kebijakan yang terukur dan efektif, serta eksekusi dengan kecepatan tinggi.

Tantangan perang dagang dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat maupun tantangan dalam negeri dan global lainnya akan selalu mengiringi perjalanan di masa yang akan datang. Siapapun yang terpilih, baik dengan jargon Indonesia Maju ataupun dengan tagline Indonesia Menang, semoga dapat menjadi katalis ekonomi untuk mewujudkan Indonesia Jaya.

Jusup Silitonga, MBA pemerhati ekonomi, calon Komisioner OJK 2017


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed