DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 09 April 2019, 13:00 WIB

Kolom

Bermain Dadu ala Pesohor Politik

Nurudin - detikNews
Bermain Dadu ala Pesohor Politik Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Apakah Anda percaya begitu saja pernyataan Hendropriyono dan Amien Rais? Hendropriyono mengatakan bahwa Pemilu 2019 itu pertarungan antara Pancasila vs Khilafah. Sementara itu, Amien Rais dengan sangat menggebu-gebu akan mendorong people power. Sekali lagi apakah Anda percaya begitu saja? Pernyataan ini pun bak gayung bersambut. Kata people power telah membakar netizen semakin panas, sementara itu pernyataan Hendro ditanggapi Dien Syamsuddin, Burhanuddin Muhtadi, dan Nadirsyah Hosen. Juga tak kalah panasnya dengan people power dari versi masing-masing.

Kata khilafah, people power, dan teman-temannya terus menjadi liar. Ibarat air bah yang membutuhkan saluran; menabrak tebing, padas, tanah, mencari tempat yang lebih rendah. Diksi para pesohor politik di atas terus berputar-putar di udara, belum menyentuh tanah.

Sekali lagi saya bertanya; apakah Anda percaya dengan istilah-istilah dan pernyataan-penyataan di atas? Saya sarankan jangan tergesa-gesa. Kita patut pertanyakan, Hendropriyono dan Amien Rais mengatakan hal itu dalam kapasitasnya sebagai apa? Apakah mantan tentara atau seorang akademisi? Sebab jika kita tidak menemukan dasar pijakannya, maka "air bah" itu akan terus mengalir tanpa bisa dibendung. Yang menjadi korban justru para netizen dan masyarakat awam.

Apa yang harus kita lakukan? Pemahaman awalnya, kita sepakati bahwa dua orang itu telah menjadi seorang politikus. Karenanya, pernyataan-pernyataannya harus dipahami kedudukan dirinya sebagai seorang politikus pula. Jika politikus itu orientasinya untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, maka pernyataan itu juga mengarah ke sana. Cukup gampang, bukan? Jadi kita tidak perlu ikut ribut-ribut.

Seorang politisi itu memang perlu pandai memainkan kata-kata, memainkan emosi khalayak dengan satu tujuannya adalah menyerang lawan dan memenangkan pertarungan. Jadi, dua orang politisi di atas sedang "bermain politik" untuk memenangkan kompetisi. Itu saja.

Main Dadu

Sebagai sebuah pertarungan, ada banyak "pemain dadu" politik. Seseorang yang pintar bermain dadu tidak sekadar hanya bermain tanpa pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni. Ia tidak cukup hanya mencocokkan jumlah gambar yang sama, warna yang sama, tetapi penuh dengan strategi. Ketika seorang pemain dadu menjatuhkan sebuah kartu dengan perhitungan tertentu, ia berharap dan menduga apa dadu yang akan dijatuhkan lawan. Kemudian dia sudah menyiapkan dadu selanjutnya. Inilah strategi para pemain dadu.

Bermain dadu tak jauh berbeda dengan bermain politik. Penuh strategi, taktik, perhitungan, mengalahkan satu sama lain. Maka, dalam politik pun sebenarnya isinya hanya dua pilihan; menang atau kalah. Menang berarti untung, kalah berarti buntung. Ibaratnya seperti bermain dadu, bukan?

Jika mereka yang disebut di atas itu politisi, maka pernyataannya harus dilihat dari kacamata politis juga. Seorang politisi melontarkan pernyataan itu belum tentu kenyataannya sebagaimana dikatakan. Dia bisa sedang mengetes "riak gelombang". Ia sengaja melontarkan pernyataan kontroversial agar mendapat tanggapan di masyarakat. Jika di masyarakat kemudian riuh menanggapinya, berarti tujuannya tercapai.

Mengapa itu perlu dilakukan para politisi? Pertama, untuk menyerang lawan. Dengan pernyataan yang kontroversial ia berharap mendapat dukungan masyarakat luas. Tentu saja tetap ada yang tidak menyukainya. Tapi itulah tugas politisi, memperkuat basis dukungan dan menyerang atau melemahkan pihak lawan. Maka kata-kata korupsi dan mencuatnya kembali kasus-kasus lama politisi bisa jadi alat untuk menyerang lawan.

Kedua, memancing musuh keluar atau membuka tabir. Pernyataan kontroversial bisa untuk memancing pihak lain. Gus Dur pernah mengeluarkan pernyataan akan adanya "naga hijau" yang ikut terlibat dalam konflik di masyarakat sampai terbunuhnya beberapa tokoh agama. Naga hijau untuk memancing bahwa tentara yang biasanya berbaju warna hijau ikut terlibat dalam konflik tersebut. Ini bisa dimaknai membongkar kebekuan pemikiran di masyarakat agar tetap hati-hati dan kritis. Bisa juga memancing pihak tentara untuk mengeluarkan pernyataan. Ini usaha memancing atau membuka tabir yang selama ini tersembunyi.

Propaganda Politik

Lalu bagaimana dengan perilaku politisi kita akhir-akhir ini? Tentu, kita harus dudukkan mereka sebagai seorang politisi. Politisi tidak lepas dari propaganda politik. Ini juga pernah terjadi di Amerika, negara yang mengklaim sebagai kampiun demokrasi.

Lester Maddox (Gubernur Georgia) pernah melakukan kampanye menentang rekannya yang dicalonkan sebagai presiden. Carter dituduh sebagai pembohong, pencuri, atheis, komunis, sosialis ,dan diktator. Saat wartawan mengklarifikasinya, Maddox justru menjawab, "Anda ini benar-benar bodoh. Anda orang pandir." Perilaku Maddox itu khas politisi.

Jika kita memakai sudut pandang bahwa pernyataan beberapa elite politik sebagai seorang politisi, maka kita tidak akan terheran-heran. Anggap saja politisi memang tugasnya seperti itu. Atau anggap saja apa yang dikatakan politisi tersebut hanya ada dalam mulutnya, sementara aslinya tidak begitu.

Dalam kajian komunikasi politik dikatakan, "Inti pesan komunikasi sering berada pada pernyataan yang tidak diungkapkan." Jika demikian, hidup kita tidak akan ribet dengan masalah tingkah laku politisi. Jika ditanggapi, tentu mereka akan senang karena memang tujuannya seperti itu.

Nurudin dosen Fisip Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), penulis buku Komunikasi Propaganda


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed