detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 09 April 2019, 12:18 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Mengintip Rahasia di Balik Aksi-Aksi Intoleran

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Mengintip Rahasia di Balik Aksi-Aksi Intoleran Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Kalau ada peristiwa pembunuhan, publik otomatis mafhum bahwa ada seribu satu kemungkinan motif. Bisa karena dendam, bisa karena duel spontan, bisa karena cemburu, bisa pula karena perampokan. Tapi, jika yang muncul adalah peristiwa perusakan simbol-simbol agama, mahkamah netizen selalu kompak satu suara: "Intoleran! Ini tindakan intoleran!"

Kenapa begitu? Kenapa massa digital tidak membuka kemungkinan motif-motif lain, sebagaimana yang terjadi pada kasus pembunuhan?

Pertanyaan itu saya rumuskan setelah kemarin sempat sekejap kita disuguhi kabar rusaknya simbol-simbol salib di Makam RS Bethesda, Yogyakarta. Respons belasan kawan medsos saya rata-rata seragam saja. "Kenapa Jogja lagi Jogja lagi? Ke mana Jogja yang katanya Kota Toleransi?"; "Lemah sekali iman mereka! Sama simbol saja takut!"; "Dulu Jogja tidak begini. Sejak negara api menyerang, kebencian merajalela!"

Hanya dalam hitungan jam, muncul rilis dari pihak kepolisian bahwa terduga pelaku perusakan adalah gelandangan yang agak kurang waras, yang memang sering bermalam di makam. Foto-foto yang menyusul kemudian pun cenderung menampakkan kesan bahwa kerusakan yang terjadi memang bukan akibat amukan ormas atau sebangsanya.

Tapi, lupakan sebentar soal Makam Bethesda. Saya ingin membagi sedikit cerita, hasil nongkrong saya dengan para pemain politik belakang layar. Ini serius, dan agak sensitif. Kencangkan tali keledar.

***

Begini. Kita tahu, yang namanya aksi-aksi intoleransi itu ada, dan banyak. Negeri ini masih sumpek dipenuhi orang-orang yang enggan hidup bersama. Klaim-klaim kebenaran di satu sisi sering berakibat tergencetnya hak-hak sipil kelompok keyakinan di sisi yang lain. Tak terhitung lagi banyaknya kasus kekerasan dengan motif menolak hidup bersama secara setara dengan golongan lain, terutama dengan keyakinan lain.

Kata kunci untuk pelaku-pelaku intoleransi adalah "dominasi". Itulah rumus umumnya. Mereka ingin mendominasi ruang-ruang publik. Mereka ingin berkuasa, menunjukkan taji kekuasaan dan kekuatan, sembari ingin menampilkan betapa golongan lain lebih lemah dan lebih minim haknya dibandingkan mereka.

Karena itu, dalam aksi-aksi intoleransi, ada satu ciri yang jelas sekali, yaitu show off. Jelas harus show off, sebab kaum intoleran memang ingin menunjukkan kekuatan. Maka, aksi-aksi mereka tentu saja dilakukan dengan terang-terangan, dengan dada membusung, dengan berteriak-teriak gegap gempita.

Kita bisa mengambil banyak sekali contoh kasusnya. Penggerebekan tempat-tempat (tertuduh) maksiat, misalnya. Atau pembubaran diskusi-diskusi. Atau penyerangan kelompok minoritas Syiah dan Ahmadiyah. Atau pelarangan aktivitas ibadah, juga penolakan pembangunan tempat ibadah, dari agama mana pun. Atau pembubaran hajatan tradisi lokal, misalnya sedekah laut di Bantul beberapa bulan lalu.

Cermati, apakah para pelaku menjalankannya dengan diam-diam? Ya tidak. Rugi bandar kalau diam-diam. Bahkan bila perlu mereka membawa bendera, memasang spanduk penolakan ini-itu, dan memulai aksi mereka dengan orasi publik terlebih dahulu. Wong tujuannya memang meneguhkan dominasi, lha kok diam-diam?

Bahkan, pola serupa bisa ditarik ke kasus-kasus terorisme. Meski teror dilakukan mendadak, tanpa membawa bendera atau kaos bertuliskan "Aku Cah ISIS Lho", tetap saja belakangan ada penegasan siapa pelakunya. Bisa dengan pernyataan "Kami, jaringan Anu, bertanggung jawab atas serangan kemarin!"

Atau, bisa juga dengan identitas pelaku. Banyak yang tertawa dengan penemuan paspor teroris, lalu menuduhnya bukti rekayasa. Padahal, cara melihatnya bukan seperti itu. Identitas itu memang seringkali sengaja dibawa, untuk menunjukkan siapa jati diri si pelaku. Dengan begitu, segeralah terendus jalur ke kubu teroris mana, dan dari situlah eksistensi kelompok teroris diteguhkan.

Peristiwa terorisme di Selandia Baru tempo hari pun persis seperti itu. Si teroris tidak tampil anonim dan misterius. Ia dengan sangat jelas merekam setiap detik aksi biadabnya, lalu menyebarkannya di internet. Itu lagi-lagi karena aksi intoleransi merupakan upaya peneguhan dominasi, dan yang namanya dominasi tentu wajib hadir sepaket dengan tampilan eksistensi.

Dengan pola tampilan ngeksis semacam itu, jangan heran bila aksi-aksi intoleransi juga dekat dengan ikhtiar-ikhtiar bisnis politik. Bukan cuma sekali dua kali tampak bahwa kelompok-kelompok intoleran melakukan aksi mereka berdekatan dengan hajatan-hajatan politik. Tujuan awalnya adalah konsolidasi kekuatan. Setelah terkonsolidasi, lagi-lagi, muncul peneguhan eksistensi dan dominasi publik. Dengan eksistensi dan peneguhan dominasi, mereka menaikkan posisi tawar di hadapan kekuatan-kekuatan politik.

Berangkat dari situlah, tawar-menawar dan transaksi-transaksi dibuka. Para cukong politik tentu tidak akan menyia-nyiakan potensi kelompok-kelompok yang eksis tersebut. Mereka kuat di akar rumput, punya pengaruh luas, dan memiliki kemampuan pengorganisasian massa. Kurang apa, coba? Bukankah itu semua sangat menggiurkan sebagai mesin pendulang suara?

Jelas, pola aksi intoleransi untuk daya tawar politik itu hanya berjalan jika pelakunya adalah kelompok yang terorganisasi, misalnya ormas. Adapun kasus intoleransi dengan pelaku organik dari warga masyarakat, ya kebanyakan memang intoleransi.

Meski demikian, satu contoh itu saja sudah membuktikan bahwa untuk memahami aksi-aksi intoleransi tidak bisa dilakukan semata-mata dengan melihat kulit luarnya saja. Memang wujud tindakan intoleran terjadi, tapi motifnya acapkali tidak semata-mata intoleransi. Seruan moral normatif berupa ajakan untuk hidup rukun bersama-sama di bawah naungan bayang-bayang Pancasila tetap penting, tapi kadangkala sangat tidak cukup sebagai solusi.

***

Sekarang, kita kembali ke Makam RS Bethesda. Terus terang, saya pribadi tidak sepenuhnya yakin dengan dugaan polisi bahwa pelaku perusakan salib-salib itu hanyalah gelandangan kurang waras (maaf ya, Pak Polisi). Namun, untuk serta merta menudingnya sebagai aksi intoleransi juga sikap yang belum punya pijakan dasar apa pun. Kenapa? Sebab tindakan perusakan di Makam Bethesda itu dilakukan diam-diam, misterius, tak ubahnya gerakan siluman.

Ingat, tidak masuk akal peneguhan dominasi publik dijalankan secara diam-diam. Tidak ada unsur show off dalam sebuah aksi siluman. Bahwa kemudian tudingan "Intoleran! Intoleran!" itu seketika naik ke permukaan, agaknya memang itulah tujuannya. Kena, deh!

Lalu, aksi seperti apakah sebenarnya perusakan Makam Bethesda itu?

Tentu saya tidak berani dengan jelas menyebutkan dugaan saya. Saya ogah dicokok gara-gara offside. Namun, agar lebih paham, kita bisa membandingkannya dengan kejadian-kejadian lain yang berpola sama. Ingat, pola yang sama, bukan objek yang sama. Artinya, pembandingnya tidak serta-merta harus kasus yang sekilas tampak sebagai intoleransi juga.

Kita ambil yang paling gampang, yaitu kasus munculnya simbol-simbol palu-arit. Ada beberapa kali kasus demikian terjadi. Di Balikpapan, Pamekasan, dan entah di mana lagi. Semuanya kasus misterius, dilakukan sembunyi-sembunyi, tidak jelas siapa pelakunya. Meski konon ada yang tertangkap, tapi ujung-ujungnya cuma disebut "orang yang diduga mengalami gangguan mental".

Melihat kemunculan simbol PKI secara misterius itu, logika linier-gampangan akan membaca: "Oh, sudah pasti PKI Baru pelakunya! Terbongkar sudah! Siagakan kekuatan umat!"

Tapi, itu memunculkan pertanyaan: Apa keuntungan PKI Baru (jika mereka memang ada) dengan melakukan itu? Pamer kekuatan? Meneror? Idih, itu kurang masuk akal. Kecuali si PKI itu sudah kuat dan nongol secara riil di mana-mana (baik orangnya maupun organisasinya, bukan cuma simbolnya), maka mereka pantas show off. Kalau belum kuat di atas tanah kok belum-belum sudah caper, ya mereka bakal digilas habis sebelum sempat tumbuh.

Bila logika yang lebih canggih lagi dipakai, maka pelaku penyebaran simbol itu sudah kentara: siapa pun yang akan menangguk keuntungan, jika masyarakat reaktif lantas mengambil sikap dan tindakan-tindakan lanjutan secara emosional atas tersebarnya gambar-gambar itu. Toh cuma memasang gambar palu-arit pakai cat semprot gituan secara teknis juga sangat gampang, dalam semalam bisa puluhan tempat digambari, esok paginya honor langsung cair. Maka, pertanyaan pamungkasnya adalah: siapakah mereka yang paling diuntungkan itu?

Dari situ, kita bisa menduga kuat bahwa ikan yang dipancing oleh kasus-kasus misterius itu adalah masyarakat yang impulsif, malas berpikir, logikanya selalu linier-simplistis-common sense saja, dan bermental spontanitas. Nah, masyarakat digital di media sosial sangat lekat dengan karakter-karakter seperti itu, bukan?

Pola, pertanyaan, dan dugaan yang sama bisa pula diterapkan dalam kasus-kasus misterius lainnya. Selain nongolnya simbol-simbol palu-arit di sembarang tempat, ada juga peristiwa kemunculan orang-orang gila, serangan orang gila ke kyai kampung, pembakaran puluhan kendaraan bermotor di Jawa Tengah beberapa waktu lalu, dan tentu saja perusakan salib di makam secara misterius. Kasus perusakan salib di makam ini setidaknya telah terjadi dua kali, yaitu di Magelang dan di Makam RS Bethesda Yogyakarta. Pelaku perusakan di Magelang sudah tertangkap, dan dinyatakan dia mantan pasien rumah sakit jiwa. Hehehe, no comment!

Kalau boleh menyimpulkan dengan sarkastis, saya ingin mengatakan bahwa orang-orang yang secara reaktif berteriak "Intoleran! Intoleran!" pada peristiwa misterius perusakan salib makam itu tak ada bedanya dengan mereka yang berseru "PKI bangkit kembali! PKI bangkit kembali!" pada kasus misterius kemunculan simbol palu-arit. Maaf lho ya.

***

Sejarah Nusantara kenyang dengan adu domba, kenyang juga dengan kisah pemain politik yang menghalalkan segala cara. Referensi kita sangat banyak, ibaratnya kita ini punya perpustakaan besar berisi penuh buku. Tapi kita selalu malas membacanya, bahkan sering lupa kalau kita mengoleksinya.

Iqbal Aji Daryono pengamat kericuhan politik


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com