DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 08 April 2019, 10:56 WIB

Kolom Kang Hasan

Pendidikan yang Membangun Kebiasaan Buruk

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Pendidikan yang Membangun Kebiasaan Buruk Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kalau kita bertanya pada orang Indonesia yang pernah sekolah, soal di mana seharusnya setiap orang membuang sampah, maka bisa dipastikan bahwa setiap orang bisa menjawab bahwa tempat membuang sampah adalah tempat sampah. Sejak SD dalam soal ulangan kita selalu ditanya soal itu, dan itulah jawaban kita. Tapi kalau kita periksa, berapa banyak orang Indonesia yang membuang sampah dengan benar, memasukkannya ke tempat sampah, tentu hasilnya akan jauh berbeda. Mungkin kurang dari 50% orang Indonesia yang terampil membuang sampah pada tempatnya.

Lingkungan kita kotor, hampir di semua tempat. Saya berlibur ke Puncak, banyak pepohonan hijau, dan kali berair jernih. Tapi begitu saya turun ke kali, mencoba menikmati kesejukan air yang mengalir di antara bebatuan dan pepohonan, saya langsung kehilangan selera. Sampah plastik berserakan di mana-mana, hanyut di aliran sungai, atau sangkut di atas batu. Di bumi perkemahan, tempat orang-orang yang katanya cinta alam, pemandangannya sama. Sampah bertumpuk, mengotori alam yang sejuk, sangat merusak pemandangan. Di laut dan pantai pun suasananya tak jauh berbeda. Air laut yang bening dan tembus pandang, rusak keindahannya oleh sampah.

Berbagai fasilitas umum di kota besar bersampah. Semakin ramai tempat itu, semakin banyak tebaran sampah. Kendaraan umum pun begitu. Orang membuang sampah di mana saja, di tempat di mana sampah itu ia hasilkan.

Kenapa orang tidak bisa melakukan hal yang sangat sederhana itu? Mereka tahu apa yang harus dilakukan, tapi tidak melakukannya. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tidak menjelma menjadi tindakan keseharian. Ajaran positif tidak menjadi kebiasaan dalam hidup sehari-hari.

Pendidikan kita memang hanya berpusat pada buku dan hafalan. Guru-guru berdiri di depan kelas, mengocehkan isi buku teks yang tebal, murid-murid mendengarkan. Mereka diharapkan mengingat apa yang mereka dengar. Nanti mereka akan diuji melalui ujian tertulis, apakah mereka ingat dengan ocehan guru di depan kelas. Murid yang baik adalah yang paling banyak mengingat. Ia akan menjawab pertanyaan dengan benar dan mendapat nilai tinggi.

Pendidikan kita kurang gerak, kurang eksplorasi. Hal-hal yang sudah tertera dalam buku teks untuk dilakukan sering dilewati begitu saja oleh guru. Murid-murid tidak diajak melakukan. Mereka hanya diminta untuk mengingat cerita tentang kegiatan itu dan hasilnya. Lagi-lagi tujuannya agar bisa menjawab saat ujian.

Membuang sampah adalah sebuah kebiasaan. Manusia melakukan kegiatan ini tanpa berpikir, tanpa sadar. Riset tentang perilaku manusia menunjukkan bahwa hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan akan tetap dilakukan oleh seseorang, meski ia sudah mengalami kerusakan otak yang membuatnya kehilangan ingatan sekali pun. Informasi tentang kebiasaan disimpan di bagian otak paling dalam, yang disebut basal ganglia. Di bagian itu disimpan informasi tentang tindakan yang dilakukan berulang-ulang, dalam waktu yang lama.

Mekanisme kebiasaan dibangun oleh otak manusia untuk menghemat energi. Berpikir untuk melakukan tindakan menguras energi otak. Untuk menghindari kelelahan, otak punya sistem yang segera mengalihkan fokus dari konsentrasi tinggi ke tindakan otomatis. Hal-hal yang dilakukan berulang akan direkam sebagai pola berulang, yang untuk melakukannya tidak lagi diperlukan konsentrasi berenergi tinggi.

Membuang sampah adalah tindakan yang kita lakukan lebih dari 10 kali sehari. Itu adalah tindakan rutin belaka. Otak kita mengidentifikasinya sebagai sebuah kebiasaan. Nah, di sekolah kita diajari secara verbal untuk membuang sampah pada tempatnya. Tapi sekolah pada umumnya fokus pada kegiatan mengingat omongan guru dan isi buku teks, tidak berfokus untuk membentuk perilaku. Sekolah tidak menyediakan sistem yang membuat murid-murid selalu membuang sampah di tempat sampah. Tempat sampah tidak disediakan secara memadai. Membuang sampah sembarangan tidak diberi label sebagai tindakan yang sangat buruk. Suasana di rumah pun begitu. Sebagian besar orang Indonesia tumbuh dengan membangun kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Mengubah kebiasaan artinya mengubah informasi yang tersimpan di ganglia basal. Prinsipnya, sangat sulit untuk mengubahnya. Kebiasaan dibentuk dari kegiatan berulang selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengubahnya adalah dengan mengganti suatu kebiasaan dengan kegiatan rutin yang lain. Orang yang kecanduan merokok, misalnya, harus mengganti rutinitas merokok itu dengan tindakan lain, misalnya mengunyah permen karet. Merokok adalah suatu bentuk kebiasaan yang tingkatnya bisa jadi sangat buruk, yaitu kecanduan.

Jadi, bagaimana cara mengubah kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan tadi? Tempat-tempat umum harus diubah menjadi sebuah sekolah besar yang diatur sedemikian rupa sehingga orang hanya membuang sampah di tempat sampah. Bila diperlukan, terapkan sistem imbalan dan hukuman yang ketat. Singapura melakukan hal ini di tahun 80-an, dan sistem hukuman keras bagi pembuang sampah sembarangan masih berlaku hingga sekarang. Sudah saatnya urusan disiplin membuang sampah ini dijadikan gerakan nasional.

Sekolah-sekolah pun harus menggeser fokus pendidikan, dari sekolah yang membentuk para penghafal buku teks, menjadi sekolah yang membangun kebiasaan-kebiasaan positif.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed