DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 07 April 2019, 10:08 WIB

Jeda

Gerimis Awal April Turun dari Tangismu

Mumu Aloha - detikNews
Gerimis Awal April Turun dari Tangismu Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Setiap memasuki bulan April, saya teringat Franky Sahilatua (1953-2011). Saya teringat lagunya yang berjudul April, yang dinyanyikan berduet dengan Johnny Sahilatua pada 1985, lima tahun setelah duetnya bersama saudaranya yang lain, Jane dalam lagu Perjalanan yang legendaris dan mungkin lebih Anda kenal itu.

Gerimis turun di awal April/ seakan dari tangismu

Lagu yang sendu dan kelam ini seolah meramalkan kematiannya sendiri, berpuluh tahun kemudian, pada usia 57 tahun. Franky meninggal dunia pada bulan April, bulan transisi, bulan berpindahan antara musim hujan ke musim kemarau.

Di negeri dengan dua musim ini, April adalah bulan yang sedih dan muram. Pagi sering berkabut, embun menebal di daun-daun, dan sisa hujan rintik-rintik semalam menggigilkan orang-orang yang bangun dari mimpi. Hujan memang sudah tidak sering turun. Dalam hitungan orang Jawa, hujan mulai "mengkeret" pada bulan Maret. Tapi, gerimis, kadang juga hujan deras disertai angin masih mengguyur pada hari-hari awal. Seakan dari tangismu. Tangis berpisahan. Untuk menyambut musim yang mungkin akan lebih buruk.

Tumbuhan basah karena duka/ apa tetes perasaanmu

April selalu membuat kita melankolis. Bulan dengan hari-hari yang membuat kita ngelangut. Tahun Baru mulai beranjak. Kita telah menapaki tiga bulan awal. Resolusi kita masih menggantung di awang-awang. Rencana-rencana kita masih tersusun rapi di buku catatan, satu per satu mulai kita wujudkan. Jalan masih terbentang panjang.

April adalah bulan yang wingit. Bulan yang wigati. Dibuka dengan hari-hari yang mencemaskan. Setelah Januari yang penuh pesta dan kegembiraan, lalu Februari yang hanya 28 hari, dan Maret yang panjang sampai 31 hari, April rasanya seperti babak baru yang akan mengantarkan kita pada sebuah tujuan di ujung yang jauh.

April yang sibuk. April yang gaduh. Banyak orang bergumam pada dirinya sendiri, seperti keluh, berharap April segera berlalu. Kita berdiri di depan pintu, menatap langit malam, ingin lenyap di antara bintang-bintang. Seandainya waktu bisa dipercepat, atau kita bisa melompat. Tapi, hari-hari yang banyak telah menunggu di depan sana. Dan kita hanya bisa mengulangi kata-kata Chairil Anwar: kami sudah coba apa yang kami bisa/ Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa.

Apakah kita masih punya cukup tenaga? Belakangan ini, kita telah melewati tahun-tahun yang berat. Orang-orang menyebutnya sebagai tahun politik. Dan, April ini akan menjadi penentuan. Kita sedang berada pada hari-hari menjelang hajatan puncak pemilu serentak. Kita akan memilih presiden dan wakilnya, juga anggota-anggota legislatif, pusat dan daerah. Debat sudah tuntas (dan semua pihak merasa puas), kampanye memasuki hari-hari terakhirnya, dan kontes penentuan itu tinggal menghitung hari.

Di antara kita jauh-jauh hari sudah memantapkan hati pada pilihan yang diyakini. Tidak ada keraguan sama sekali. Tidak ada pertanyaan lagi. Jawaban sudah final. Suara-suara dan dukungan-dukungan sudah diserahkan dengan segenap jiwa, hidup atau mati. Tapi, sebagian lagi masih ada yang menimbang-nimbang, siapa yang akan dipilih nanti. Ada pula yang akhirnya tak tahan lagi untuk menyembunyikan kekecewaannya selama tahun-tahun belakangan ini, dan memutuskan untuk pergi. Lalu, di antara mereka bertengkar sendiri-sendiri.

Rasanya belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa ini, pemilu menjadi urusan yang segawat sekarang ini. Sampai-sampai ada yang saling benci, memutuskan silaturahmi, tak mau menganggap teman atau bahkan saudara lagi, karena perbedaan pilihan dan dukungan. Padahal kalau dilihat-lihat lagi, apa sih kurangnya calon-calon yang akan berlaga nanti?

Pak Jokowi yang santun penuh unggah-ungguh kehalusan Jawa yang andhap-asor itu sudah menunjukkan sebagian dari hasil kerja kerasnya yang tampak nyata dan bisa dinikmati dan kita banggakan. Pasangannya, Pak Ma'ruf Amin, subhanallah, melihat sosoknya yang sepuh, matang, penuh pengalaman, seorang kiai pengayom umat, siapa yang masih berpikir bahwa beliau tak akan mampu membawa bangsa ini menjadi sejahtera lahir dan batin, dunia dan akhirat?

Lalu, lihatlah pasangan calon satunya. Pak Prabowo yang gagah, selalu menggebu-nggebu, membakar semangat --sosok seperti apalagi yang dibutuhkan untuk mengantarkan bangsa ini menghadapi persaingan di masa depan menuju kejayaan dan kemenangan? Dan, wakilnya, alamak...seorang pengusaha muda yang kaya raya yang sebenarnya bisa saja memikirkan dirinya sendiri untuk menjadi semakin kaya, tapi lihatlah, beliau memilih untuk siap mengabdi memperjuangkan nasib kita sampai belum apa-apa sudah memperhatikan hal-hal kecil seperti ukuran tempe yang kita makan dan harga-harga belanjaan emak-emak di pasar.

Belum lagi para calon-calon anggota legislatif kita, wakil rakyat kita. Ya ampun, belum pernah rasanya bangsa ini memiliki calon-calon wakil rakyat yang begitu muda, cantik-cantik dan tampan-tampan, cerdas pintar tiada tara, energik, berpose penuh gairah di baliho yang dipasang di pohon-pohon pinggir jalan hingga ke dinding-dinding tebing di pelosok desa-desa yang terletak di lereng gunung; menggepalkan tangan "siap melawan korupsi". Apalagi kalau kita lihat poster-poster yang memasang foto dirinya dengan posisi terbalik, dengan tulisan besar-besar "siap jungkir balik memperjuangkan rakyat". Duh, Gusti betapa beruntungnya kita punya calon-calon pemimpin seperti itu.

Mereka semua, calon presiden dan wakilnya, juga calon-calon anggota legislatif itu, adalah manusia-manusia pilihan, pinunjul, diberkati. Mereka adalah para penyelamat yang diutus oleh Tuhan untuk kita, untuk memakmurkan negeri yang kaya raya ini. Mereka anak-anak terbaik bangsa yang terpanggil untuk mengabdikan hidupnya, jiwanya, hartanya untuk kepentingan masyarakat. Mereka sudah hidup enak, dan bisa saja memikirkan dirinya sendiri dan keluarganya, atau duduk-duduk santai bersenang-senang, tapi ternyata tidak. Bahkan banyak artis yang rela meninggalkan dunianya yang penuh kemewahan dan keglamoran, menempuh jalan sunyi, melepas atribut popularitasnya, demi rakyat, bangsa, dan negara.

Di mana lagi ada tempat di atas Bumi ini yang lebih membahagiakan untuk hidup ketimbang di sini? Kita terharu, bangga, dan merasa gembira. Siapapun yang kita pilih, siapapun yang menang, siapapun yang akan memimpin negeri ini, nasib kita aman dan akan terjamin, karena mereka semua begitu serius memikirkan dan memperjuangkan kepentingan kita. Mereka juga telah bertekad untuk membela agama kita, membela ulama, memberantas korupsi, hingga menghapus pajak kendaraan. Apa masih perlu disebut, bahwa mereka juga siap menciptakan ribuan lapangan kerja?

April sudah memasuki minggu kedua. Tak ada alasan sedikit pun, atau keraguan sekecil apapun, atau dalih-dalih tersembunyi, untuk masih bimbang. Hajat besar yang kita tunggu-tunggu segera tiba, dan kita akan tahu hasilnya. Pada hari-hari penantian ini, gerimis mungkin masih akan turun, atau hujan deras sesekali mengguyur, mendinginkan suasana, mengademkan jiwa kita, meluruhkan sisa-sisa kebencian yang telah membelah kita dalam kubu-kubu dukungan dan perbedaan pilihan, menghapus segara caci-maki, ujaran kebencian, dan berita-berita bohong yang sebelumnya sempat kita lontarkan, kita sebarnya, dan kita biarkan merajalela.

Setelah itu (seperti dilantunkan oleh Franky dan Johnny Sahilatua): tiada lagi mendung, hanya kemurnian/ menyanyikan puisi untukmu. Keringkan pipimu, lembutkankan bibirmu/ tersenyumlah pada pelangi. Setelah itu: tiada lagi dinding, hanya keluasan/ menyemaikan kembang untukmu. Isikan dadamu dengan kegembiraan/ senyumlah pada matahari.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed