Kerapuhan Manusia pada Takdir

Pustaka

Kerapuhan Manusia pada Takdir

Marliana Kuswanti - detikNews
Sabtu, 06 Apr 2019 11:26 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa
Jakarta -

Judul Buku: To A God Unknown (Kepada Ilah yang Tak Diketahui); Pengarang: John Steinbeck; Penerjemah : Tanti Lesmana; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2019; Tebal: 324 halaman)

Segala yang telah terjadi bersifat mutlak. Namun persepsi atas latar belakang atau penyebab kejadian itu boleh jadi akan berbeda dari satu orang ke orang lainnya. Bapa Angelo percaya bahwa hujan yang tiba-tiba turun setelah bencana kekeringan yang seolah-olah tak akan berakhir adalah berkat doa-doa yang dipanjatkannya dan diperkenankan Tuhan. Namun bagi Joseph, hujan yang akhirnya datang setelah begitu banyak kematian, baik yang menimpa istri dan adiknya maupun ternak-ternaknya, adalah akibat dari pengorbanan terbesar yang diminta tanah itu dari dirinya dan akhirnya dipenuhinya.

Joseph percaya, tanah itu memiliki misterinya sendiri. Sedang batu besar yang menjadi tempatnya akhirnya menyayat nadi hingga darahnya mengucur ke batu itu lalu datanglah hujan besar diyakininya memiliki kekuatan gaib bahkan menjadi pusat dari seluruh misteri yang melingkupi tanah itu. Joseph juga percaya bahwa sebuah pohon ek besar telah menjadi tempat bersemayam roh ayahnya yang telah meninggal.

Di lain sisi, Burton, saudaranya yang sangat religius menganggap Joseph telah menyekutukan Tuhan dengan melakukan ritual-ritual persembahan pada pohon itu. Sampai-sampai Burton menguliti batang bawah pohon ek yang tertutup tanah sehingga pohon itu mati perlahan-lahan.

Keyakinan spiritual manusia dapat dipandang semata sebagai urusan antara pribadi manusia itu sendiri dengan suatu kekuatan yang lebih tinggi darinya. Namun dalam kasus Joseph dengan pohon ek itu, ditemukan faktor psikologis yang lebih kuat. Faktor psikologis itulah yang kemudian memunculkan keyakinan-keyakinan barunya.

Sebagai anak yang paling dekat dan paling mewarisi keahlian ayahnya dalam mengelola tanah dan peternakan, Joseph sangat terpukul saat ayahnya dikabarkan meninggal. Ia begitu menghormati sang ayah, sosok yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Saat kabar duka itu datang, Joseph yang membutuhkan penghiburan tak mendapatkannya dari siapa pun karena ia tengah merintis lahan baru di daerah yang amat jauh dari saudara-saudaranya. Ia sendirian di tempat yang terpencil. Boleh dibilang, hanya pohon ek besar itulah yang tampak paling dominan di tanah yang diinjaknya. Joseph bahkan mendirikan rumah di bawah salah satu cabangnya.

Joseph yang terluka jauh lebih dalam dari yang tampak oleh berita duka itu sontak menjadikan pohon itu sebagai pelarian, pengalihan dari rasa sedih yang dalam. Kematian sang ayah sebetulnya tak lagi mengejutkan mengingat usia dan kesehatannya yang memang telah menurun bahkan sebelum Joseph pergi untuk mencari lahan baru karena lahan lama mereka tak akan cukup lagi untuk menghidupi keluarga yang kian membesar seiring datangnya para istri dan anak dari saudara-saudara Joseph. Tetapi ikatan yang begitu kuat membuat Joseph tak pernah benar-benar siap menerima kepergian ayahnya.

Ayahnya adalah bosnya, partner-nya, sekaligus gurunya. Rasa hormat dan kebutuhan akan bimbingan itulah yang kemudian ia alihkan pada pohon ek. Ia mengadu pada pohon ek, yakin dapat melihat petunjuk tentang apa yang akan terjadi atau apa yang harus dilakukannya cukup dengan memandangi pohon itu. Di alam sadar, Joseph berpikir ini hanya permainan untuk sementara waktu. Sebagai penghiburan, sampai ia merasa lebih baik dan dengan sendirinya akan berhenti memainkannya.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pengalihan figur dari ayahnya yang telah tiada ke pohon ek yang selalu ada di tempatnya itu justru membuatnya makin terhubung secara spiritual. Semacam ada rasa aman dan nyaman, ketagihan, sukar menghentikan yang telah menjadi kebiasaan.

"Kebiasaan ini semakin kuat," pikirnya. "Mulanya kulakukan untuk menghibur diri setelah ayahku meninggal, dan sekarang sudah tertanam begitu dalam, sehingga nyaris melampaui segala-galanya. Dan cara ini tetap menghiburku."

Joseph memang selalu hidup dekat dengan alam. Tentu wajar bila ia memiliki kepekaan yang lebih pada tanda-tanda yang diberikan alam. Namun kepekaan pada tanda-tanda alam itu tak lagi mencerahkannya dan justru menjadi seperti benang kusut ketika bercampur baur dengan pemikiran-pemikirannya sendiri yang makin tidak logis, terutama setelah istrinya meninggal karena terpeleset dari batu besar yang sejak awal telah diyakininya memiliki kekuatan gaib.

Tentu, sesuatu yang gaib tidak layak ditolak keberadaannya. Sesuatu yang gaib memang ada, namun akan menjadi sangat berbahaya bila keyakinan akan keberadaan yang gaib itu telah sangat memengaruhi kita dan menempatkan kita di bawah kendalinya. Boleh jadi bukan kekuatan gaibnya yang jauh melebihi kekuatan kita melainkan kita sendiri yang tanpa sadar telah membesar-besarkannya, merasa dikendalikan oleh yang seakan-akan telah menjadi takdir padahal bukan.

Secara logika, jelas Joseph tahu ia seharusnya ikut bahkan memimpin saudara-saudaranya membawa ternak mereka mengungsi ke tanah yang lebih baik. Namun Joseph justru memilih menjadi satu-satunya yang tinggal, padahal di dalam rombongan itu juga ada satu-satunya anak buah perkawinannya dengan Elizabeth. Toh bila masa kekeringan telah berlalu dan tanah itu hijau lagi, mereka tinggal kembali.

Namun rasa takluk yang lahir dari keyakinan-keyakinan semu Joseph itu membuatnya tak mampu lagi berpikir logis, bahkan menumpulkan nalurinya sebagai seorang peternak dan pemilik tanah yang dalam banyak waktu telah berhasil mencapai kejayaan berkat bakat dan kerja kerasnya. Kali ini, Joseph bahkan seperti orang yang kalah sebelum berjuang.

Novel To A God Unknown karya John Steinbeck ini, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul bagus, Kepada Ilah yang Tak Diketahui, dalam kacamata saya adalah penggambaran titik rapuh yang dimiliki semua orang, tak terkecuali seorang lelaki seperti Joseph yang selalu diingat orang-orang sebagai sosok yang amat tangguh. Bahkan bisa jadi, makin seseorang tampak tangguh, ia justru hanya menyembunyikan rongga yang amat besar dalam dirinya.

Joseph bukanlah orang yang dapat mengemukakan isi hatinya yang terdalam. Ia selalu terlalu ringkas, padahal emosi manusia bersifat kompleks dan membutuhkan penjabaran. Ia sosok yang terus mengejar dan lupa bahwa sesekali berhenti juga sama pentingnya dengan bergerak.

Joseph adalah sosok lemah dalam bingkai yang kuat. Bahkan orang-orang yang setiap hari ada di dekatnya tak pernah benar-benar dapat mengenali kepribadian Joseph dan perasaan-perasaannya yang sesungguhnya. Sama halnya dengan Joseph yang sebenarnya merasa asing dengan dirinya sendiri maupun orang-orang.

Ikatannya yang paling kuat hanyalah dengan ayahnya. Ikatan yang kemudian menjelma berbagai bentuk bayangan yang terus mengikutinya. Pohon ek, lalu setelah pohon ek mati ganti pada perasaan harus mempertahankan bahkan membangunkan tanah yang tengah tertidur panjang oleh kekeringan meski ada jalan yang lebih baik yaitu pindah sementara ke daerah yang lebih basah. Terakhir, dalam bentuk keyakinan palsu tentang batu besar dan sungai kecil di dekatnya sebagai sumber kehidupan yang justru pada akhirnya menjadi tempat kematiannya.

Semua orang telah berkali-kali mengingatkannya. Tetapi Joseph seperti petualang kemarin sore yang berkeras pada peta buatannya sendiri, berharap sampai ke suatu tempat yang bahkan belum pernah dikunjunginya. Joseph yang malang. Bila ada keinginan yang paling diharapkannya dapat terwujud namun selalu teramat sukar untuk diakuinya bahkan pada dirinya sendiri adalah masa-masa yang relatif mudah bersama ayahnya yang sehat dan tangguh. Ketika harapan itu terlalu mustahil untuk terwujud sementara ia sendiri merasa kewalahan menghadapi bencana tak terduga yang menimpa tanahnya, ia memilih untuk menyusul ayahnya saja.

Dua kalimat terakhir di atas mungkin tepat seperti yang ingin disampaikan John Steinbeck melalui ceritanya. Tetapi mungkin pula sekadar pemikiran liar dan melankolis saya yang terlalu menitikberatkan pada ikatan emosional antara seorang anak dengan ayah yang menjadi panutannya. Memang menyenangkan duduk di bangku pembaca dengan kebebasan membayang-bayangkan dan menarik benang merah. Jadi, mari terus membaca, mari bersenang-senang.

Marliana Kuswanti cerpenis dan penulis novel



(mmu/mmu)