DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 05 April 2019, 11:40 WIB

Kolom

Kemben Putri Duyung dan Erotika Raga

Aris Setiawan - detikNews
Kemben Putri Duyung dan Erotika Raga Patung Putri Duyung Ancol yang ditutup kemben (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Beberapa hari terakhir, selain politik, liminasa media sosial dipenuhi dengan berita patung putri duyung di Resort Ancol yang memakai kemben berwarna emas. Kemben tersebut menutupi dada yang sebelumnya telanjang. Corporate Communication Manager Taman Impian Jaya Ancol Rika Leatari menjelaskan bahwa kemben itu adalah sebentuk penyesuaian dengan norma dan budaya ketimuran (detikcom, 23/3).

Berbagai komentar bermunculan. Satu hal yang pasti, bahwa Indonesia saat ini sedang fobia erotisme. Apapun yang dipandang berbau pornografi, maka akan disensor, tak terkecuali patung. Pada sebuah film kartun Spongebob Squarepant, Sandy (sosok tupai) harus di-blur hanya karena memakai celana dalam dan bra. Dikhawatirkan anak-anak di negeri ini terangsang saat melihat tupai bercelana dalam.

Bahkan dalam sebuah acara lain bertema cara memproduksi air susu dari sapi perah, susu sapi itu juga di-blur. Mungkin, naluri syahwat anak-anak akan membabi buta saat melihat susu sapi itu bergelantungan. Sebelumnya, setali tiga uang, iklan dengan tampilan girl band dari Korea, Black Pink menjadi polemik karena memakai celana yang kelewat pendek, sehingga paha-paha yang putih itu terlihat jelas.

Raga

Wacana seksualitas sebenarnya tidak senantiasa berhubungan dengan tubuh atau raga, tapi lebih penting lagi adalah pikiran. Narasi makna erotisme atau pornografi muncul pertama kali karena tubuh dipandang sebagai objek-subjek pengetahuan, sehingga klasifikasi dan kategori tentang erotisme ditemukan lalu digaungkan. Masyarakat modern kemudian memberikan seperangkat nilai-nilai pada paha, dada, pantat, bahkan kemaluan. Nilai-nilai itu menjadi dasar untuk melahirkan tindakan dalam memperlakukan tubuh.

Posisi paha dalam iklan Black Pink misalnya, dipandang jauh memiliki makna tendensius (yang tidak sekadar kulit) dibanding dengan rambut atau tangan, sehingga saat bentuk paha itu terlihat jelas maka akan melahirkan makna dan nilai baru. Ironisnya, makna dan nilai itu bagi sebagian orang menyasar pada apa yang disebut erotisme yang cabul.

Sementara dalam film Spongebob Squarepant, celana dalam dan bra yang dipakai seekor tupai bernama Sandy memberikan gambaran bahwa bagian tubuh yang privat (kata lain dari erotis) membawa konsekuensi nilai yang sama pada pakaian atau kain yang melekat atau membalutnya. Dengan demikian, kain yang disebut sebagai celana dalam dan bra adalah benda yang secara etika dipandang tabu untuk ditampilkan secara terbuka. Tidak peduli bahwa yang memakai itu adalah seekor tupai, atau bahkan monyet sekalipun.

Sementara pada kasus yang lain, sosok Squidward (seekor gurita di film yang sama) justru hanya memakai kaos tanpa celana, dan Plankton bahkan sama sekali tidak memakai baju, namun sedikit pun tidak di-blur. Hal itu menunjukkan bahwa wilayah erotisme pada tubuh adalah sebentuk gugusan pemikiran yang multitafsir. Atau ada persoalan lain di balik tokoh-tokoh kartun itu, yakni karena sosok Sandy semata adalah perempuan?

Jenis kelamin melahirkan kajian-kajian tentang gender. Tetapi kajian itu seringkali menempatkan tubuh perempuan sebagai objek. Tubuh perempuan dibedah sedemikian rupa, diklasifikasi, dikategori, dan terus menerus dimaknai. Foucault lewat bukunya History of Sexuality menyebutkan bahwa tubuh perempuan adalah sebuah medan kekuasaan. Kekuasaan itu tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan sosial yang menempatkan tubuh perempuan memiliki beberapa kelambu tingkat keprivasian, dari sekadar dilihat secara terbuka hingga ditutup secara sangat rapat. Tapi yang demikian justru tidak terjadi di wilayah tubuh laki-laki.

Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki dada dan paha, tapi berakibat terbentuknya makna yang sangat berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa seksualitas mendefinisikan tentang siapa yang membicarakan (mengkaji) tubuh, dari sudut pandang mana, dan alasan apa yang mendorong tubuh harus dibicarakan. Bila ditelaah lebih jauh, walaupun tidak secara presisi, menyebutkan bahwa tubuh perempuan itu selalu dibicarakan-dipandang-dimaknai dari sudut pandang laki-laki, bukan sebaliknya. Hal inilah yang mendasari pandangan bahwa tubuh perempuan seolah tak lebih dari sekadar area kekuasaan bagi laki-laki.

Akibatnya, pernyataan seorang ustad bernama Tengku Zulkarnain, dalam sebuah wawancara di stasiun televisi bertajuk Pemaksaan Hasrat Seksualitas beberapa waktu lalu menuai polemik. Ia berkeyakinan bahwa hasrat seksualitas laki-laki tidak boleh ditahan; seorang istri baginya cukup dengan hanya terlentang, pasrah, dan diam saja. Sedemikian rapuhnya cara pandang sang ustad, melihat raga perempuan semata sebagai benda-objek kuasa yang mati.

Barangkali demikian pula saat patung Putri Duyung itu tiba-tiba harus dikasih kemben di dadanya. Dada patung yang sebelumnya terlihat jelas dipandang sebagai pembiaran bagi mata laki-laki untuk dengan mudah membongkar tubuh perempuan tanpa perlawanan. Kemben itu dianggap setidaknya sebagai batas atau sekat bagi perempuan dalam upaya menolak kepasrahan. Sah-sah saja memang.

Tetapi ironisnya, area perlawanan atau upaya menolak kepasrahan itu menjadi gerakan yang membabi buta. Apapun seolah harus dilihat dari sudut pandang seksualitas. Ke depan mungkin patung-patung dan relief perempuan bertelanjang tubuh di candi dan situs-situs purbawi akan diperlakukan sama, memakai kemben bahkan baju lengkap.

Darinya kita dapat menyimpulkan satu hal, bahwa erotika senantiasa mengkambinghitamkan tubuh atau raga (tangible), bukan pemikiran di baliknya (intangible). Tubuh mencoba dibenahi dan ditata, sementara pemikiran sama sekali tidak berubah. Dengan demikian, tubuh boleh tertutup, tapi erotika raga tetap dirayakan secara bebas dan liar dalam imajinasi. Aduh!

Aris Setiawan pengajar di ISI Surakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed