DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 02 April 2019, 12:07 WIB

Kolom

Tantangan Komputerisasi Perangkat Desa

Peringatan Zendrato - detikNews
Tantangan Komputerisasi Perangkat Desa Ilustrasi Foto: Pinterest
Jakarta -

Perangkat desa merupakan elemen terpenting dalam roda pemerintahan desa. Dalam Permendagri No 83 tahun 2015 tentang pengangkatan dan pemberhentian perangkat desa, yang kemudian diubah menjadi Permendagri No 67 tahun 2017, perangkat desa didefinisikan sebagai unsur staf yang membantu kepala desa dalam penyusunan kebijakan dan koordinasi yang diwadahi dalam sekretariat desa, dan unsur pendukung tugas kepala desa dalam pelaksanaan kebijakan yang diwadahi dalam bentuk pelaksana teknis dan unsur kewilayahan. Ini artinya kepala desa, tanpa perangkat desa, akan kewalahan mengurusi segala macam persoalan di desa.

Untuk mewujudkan Nawa Cita ke-3 Presiden Jokowi, yaitu Membangun Indonesia dari Pinggiran Dengan Memperkuat Daerah-Daerah dan Desa Dalam Kerangka NKRI, maka saat ini pemerintahan desa mengalami percepatan. Salah satunya --yang menjadi ulasan di tulisan ini-- adalah komputerisasi kinerja perangkat desa.

Komputerisasi kinerja perangkat desa sudah dilakukan di beberapa daerah. Ini sangat membantu dalam mewujudkan pembangunan dari pinggiran. Komputer menjadi sarana penting bagi perangkat desa untuk melakukan pekerjaannya sebagai bagian dari pemerintah desa. Pekerjaan akan lebih efektif dan efisien dibanding mengerjakan dengan cara manual seperti mencatat dalam buku-buku tebal.

Salah satu penyebab munculnya percepatan kinerja pemerintah desa ini adalah karena terjadi keterlambatan pelaporan penggunaan dana desa berbasis komputer. Kejadian ini mengakibatkan desa akan terlambat pencairan dana desa tahap berikutnya. Menanggapi kejadian tersebut, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang minim di lini pemerintahan desa menjadi perhatian. Maka berbagai daerah mengadakan seleksi perangkat desa, diutamakan yang mampu mengoperasikan komputer, minimal mampu bekerja dengan menggunakan program Microsoft Office.

Tiga Tantangan

Ada beberapa tantangan percepatan kinerja pemerintah desa, khususnya terkait komputerisasi kinerja perangkat desa. Pertama, bagi calon aparatur desa yang belum mengemban pengenalan dasar terkait penggunaan teknologi komputer. Para calon ini sudah merasa gagal sebelum bertanding dalam seleksi pemilihan perangkat desa. Meskipun mereka sudah memiliki pengalaman praktis yang banyak bersama warga desa tetapi gagal dalam tes kemampuan mengoperasikan komputer.

Kedua, kualitas SDM di desa yang didominasi oleh para tamatan pendidikan SMA, sedangkan lulusan sarjana sedikit, bahkan tidak tinggal di desa. Kelangkaan lapangan kerja menjadi penyebab utama para sarjana di desa memilih merantau ke perkotaan. Akhirnya, dua pilihan para kepala desa memanggil kembali para sarjana yang pergi merantau atau mengupayakan pelatihan bagi perangkat desa yang ada dan mau mencalonkan diri.

Ketiga, meskipun secara nasional, elektrifikasi mencapai 95,35% pada 2017, namun di Provinsi NTT (Nusa Tengara Timur) dan Papua masih 59,85% dan 61,42%. Desa yang tidak terjangkau listrik memilih alternatif menggunakan genset atau tenaga surya untuk mendukung kerja di kantor desa. Kerusakan laptop atau komputer yang diakibatkan karena tegangan aliran listrik dari genset tidak stabil menjadi penghambat kinerja perangkat desa.

Desa Percontohan

Di Provinsi Jawa Barat (Jabar), Program Desa Digital dimulai dari Desa Puntang, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, dan akan dikembangkan ke 5.300 desa lainnya di seluruh Jabar. Desa Puntang menjadi desa percontohan nasional perubahan dari manual ke digital. Ke depannya, ini juga akan dialami oleh desa-desa baik yang ada di perbatasan seperti desa-desa di NTT dan Papua. Tujuannya adalah percepatan kinerja pemerintahan desa.

Transisi dari manual ke digitalisasi pastinya mempengaruhi situasi sosial-budaya, ekonomi, dan politik di desa. Perangkat desa yang tingkat pendidikannya masih SMA sederajat digantikan oleh para sarjana. Para perangkat desa yang saat ini sudah berumur 40 tahun ke atas akan rentan menghadapi tantangan ke arah ini. Artinya, mereka lahir pada 1970-an dan tamat SMA pada 1990-an. Sedangkan pada awal tahun 2000, sekolah-sekolah belum dilengkapi komputer untuk mata pelajaran TIK.

Selain itu juga, belajar mengoperasikan komputer bukan menjadi prioritas mereka sekarang ini. Mereka disibukkan dengan pekerjaan lain atau karena tidak ada yang melatih mereka. Mencari solusi ini adalah wajib kalau kepala desa berkeinginan memberikan pelatihan mengoperasikan komputer bagi mereka.

Begitu juga pemilihan perangkat desa yang dilakukan oleh kepala desa dulunya sangat subjektif sekarang beralih ke tangan tim seleksi. Kalau dulunya kemungkinan kepala desa memilih perangkat desa karena faktor kedekatan, tetapi sekarang telah ada tim seleksi yang lebih melihat profesionalitas dan bahkan penguasaan teknologi. Bila para sarjana kembali ke desa dan bersaing dengan para calon yang belum mahir menggunakan komputer, maka harus diantisipasi terjadinya kecemburuan sosial karena kesenjangan tingkat pendidikan.

Selain itu juga, desa-desa yang belum terjangkau listrik sebaiknya difokuskan oleh pemda untuk penyaluran aliran listrik. Sebab, banyak masalah yang diakibatkan karena tegangan listrik yang tidak normal baik dari genset maupun tenaga surya karena menanggung banyak beban. Baterai laptop rusak dan telepon genggam untuk berkomunikasi juga demikian. Tidak menyelesaikan masalah yang paling dasar ini mengakibatkan desa stagnan. Salah satu contohnya ketika desa hanya mengurus pengadaan beberapa unit laptop atau komputer yang baru setiap kali terjadi kerusakan.

Peringatan Zendrato peneliti di Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) NTT


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed