detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 29 Maret 2019, 17:16 WIB

Kolom

Tragedi Christchurch, "Green Book", dan Cita Rasa Kemanusiaan

Erick Ebot - detikNews
Tragedi Christchurch, Green Book, dan Cita Rasa Kemanusiaan Film
Jakarta -

Beberapa hari lalu kita semua dikagetkan dengan kejadian horor pembantai 50 manusia yang sedang melakukan ibadat keagamaan di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood di Kota Christchurch yang terletak di pantai timur negara Selandia Baru. Ini merupakan peristiwa pembantai massal dengan korban terbesar dalam sejarah negara itu setelah Araoma Massacre pada tahun 1990 yang menewaskan 14 orang.

Perdana Menteri Jacinda Adern mengutuk keras peristiwa berdarah ini. "Ini menjadi hari paling hitam dalam sejarah," kata Ardern dalam jumpa pers pada Sabtu, 16 Maret 2019. Ardern juga mengajak segenap masyarakat untuk melakukan aksi solidaritas terhadap umat muslim yang berduka di negaranya dengan mengajak masyarakat untuk mempererat sikap toleransi, inklusivitas, dan kepedulian terhadap sesama. Ada pesan kuat di balik aksi solidaritas yang ingin disampaikan oleh Ardern bahwa kelompok Islam yang adalah juga sebagian besarnya merupakan para imigran adalah warga negara Selandia baru. They are us, tegas Ardern.

Superioritas rasial bisa terjadi pada siapa saja dan terjadi kapan saja. Dalam konteks peristiwa berdarah di Selandia Baru, isu utamanya adalah menyeruaknya supremasi dan ketakutan orang kulit putih terhadap para imigran, kelompok kulit berwarna, kelompok muslim yang berbeda dengan mereka. Perasaan-perasaan sempit seperti ini adalah reaksi emosional yang tidak hanya muncul dari pribadi, tetapi merefleksikan sejarah panjang praktik dominasi melalui perbudakan, diskriminasi, dan stereotip terhadap orang kulit berwarna dalam sejarah peradaban dunia.

Sentimen identitas seperti itu adalah endapan dari diskriminasi dan stereotip rasial yang diinstitusionalisasikan bahkan diejahwantahkan lewat berbagai hukum-hukum dalam sejarah peradaban yang sungguh tidak berpihak pada orang-orang kulit berwarna. Tidak mudah untuk keluar dari sejarah panjang diskriminasi yang diinstitusionalisasikan seperti ini. Butuh proses panjang untuk mengolah dan membentuk satu konsep bersama bahwa perbedaan dalam dunia adalah keniscayaan, dan kita semua adalah warga dunia yang seharusnya bersatu karena kesamaan sebagai ras manusia.

Sebagai kelompok orang yang berasal dari ras yang sama, sudah sepatutnya manusia hidup dalam cita rasa kemanusiaan yang sama. De facto ada banyak perbedaan di antara manusia --agama, warna kulit, ideologi, termasuk selera. Tetapi, dalam perbedaan, satu hal yang seharusnya mengikat secara emosional adalah rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan, dalamnya simpati, empati dan respek terhadap sesama adalah basis moral yang menyatukan segala perbedaan.

Belajar dari Film Green Book

Green Book, pemenang Piala Oscar 2019, adalah film dari sebuah kisah nyata tentang dua orang yang datang dari latar belakang berbeda. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang doktor musik sekaligus pianis jenius berkulit hitam, sedangkan Tony Vallelonga (Viggo Mortensen) adalah seorang kulit putih, orang Italia yang menetap di AS. Keduanya berbeda dalam segala hal, tapi satu hal yang menyatukan perbedaan mereka yakni keduanya sama-sama manusia.

Kisah keduanya dimulai ketika Don Shirley mencari seorang sopir sekaligus tukang pukul untuk menemaninya selama tur konser yang berlangsung dua bulan ke daerah bagian selatan Amerika, sebuah daerah yang terkenal sangat rasis. Takdir membawa Tony bertemu Don. Awalnya Tony menolak, karena ia sendiri tidak menyukai orang kulit hitam, apalagi harus berada bersama selama waktu yang begitu lama. Tetapi, karena desakan ekonomi Tony setuju menemani Don.

Dua pelajaran bisa kita petik dari film ini. Pertama, proses untuk menemukan cita rasa kemanusiaan membutuhkan proses panjang; ia adalah perjalanan jauh yang penuh dilema, ketakutan, keengganan, dan keras kepala. Tetapi, kalau perjalanan itu dijalankan dengan kesediaan untuk terbuka, berdialog, dengan sedikit memasukkan candaan yang mencairkan suasana, maka perjalanan panjang itu tidak akan sia-sia.

Dalam film Green Book, dua tokoh utama saling sindir atau nyeletuk soal stereotip masing-masing. Tapi, karena pengalaman itu juga mereka lebih saling mengenal dan menghormati keaslian serta latar belakang masing-masing. Perbedaan dapat membuka pikiran tentang hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya, ujar Dudley Field Malone.

Kedua, film ini mengajarkan kepada kita untuk berani menentang segala aturan dan kebiasaan dalam kehidupan masyarakat yang bersifat diskriminatif. Don Shirley dan Tony hidup pada era 1960-an ketika Amerika Serikat kuat dengan diskriminasi terhadap ras kulit hitam, bahkan ada banyak peraturan hidup bersama yang membatasi gerak dan hak kaum kulit hitam. Tony awalnya terperangkap dalam aturan seperti ini. Hidupnya dikuasai rasa superioritas dan ketakutan terhadap yang kaum kulit hitam.

Tetapi, seiring perjalanan waktu dan keberanian untuk masuk dalam risiko, pandangan dan konsep Tony tentang kehidupan pun berubah. Tidak hanya Tony, oleh interaksi serta komunikasi yang terus menerus, Don Shirley pun belajar banyak hal. Keduanya mendapatkan pelajaran tentang hidup, bahwa dalam menghidupi perbedaan butuh keberanian untuk mengubah banyak hal dalam hidup, termasuk konstruksi masyarakat yang terlampaui negatif tentang perbedaan.

Konteks Indonesia

Persoalan superioritas rasial dan agama yang terjadi di Selandia Baru juga terjadi di Indonesia. Hubungan yang hangat antarwarga negara terancam karena kompetisi politik tidak menjadi panggung pesta rakyat, malahan menjadi panggung yang meneror pluralitas bangsa. Para penguasa memantik sentimen politik identitas dalam masyarakat demi memenangkan kepentingan politis mereka. Pengkotak-kotakan yang dibuat oleh para politisi yang tidak bertanggung jawab membawa risiko terjadinya chaos yang hebat dalam masyarakat. Perasaan kedaerahan menguat, solidaritas negatif atas nama agama, ras, pilihan politik mengikis rasa toleransi dalam perbedaan.

Dalam situasi seperti itu, kita layak mencemaskan kebinekaan kita semakin menuju titik nadirnya. Kejadian berdarah di Selandia Baru harusnya menjadi pembelajaran penting bahwa selalu ada harga yang harus dibayar mahal ketika politik identitas dan dampaknya dibiarkan bekerja dalam ruang publik.

Film Green Book tidak hanya menghibur, tapi dalam konteks peristiwa berdarah di Selandia Baru dan situasi pluralitas Indonesia yang saat ini sedang panas-panasnya karena kompetisi politik, film ini memberikan pesan moral yang begitu kuat kepada masyarakat. Bahwa superioritas rasial, sentimen agama, dan preferensi politik yang dimainkan oleh orang atau kelompok tertentu sesungguhnya hanya konstruksi sosial yang membatasi horizon kita untuk menjadi manusia yang otentik.

Manusia yang otentik adalah mereka yang tidak mempersoalkan perbedaan, tidak membiarkan dirinya dikontrol oleh aturan dan situasi hidup yang tidak pasti, tetapi dalam perbedaan berusaha mengejar kesempurnaan diri, yakni menjadi manusia yang manusiawi. Film Green Book memberi kita pilihan bahwa kita bisa mengubah konstruksi itu dengan memilih untuk menjadi diri sendiri, menelusuri perjalanan hidup kita demi satu tujuan menjadi manusia yang sungguh original, manusia yang mampu menumbuhkan cita rasa kemanusiaan, manusia yang melihat dan mampu memperlakukan orang lain layaknya ia memperlakukan dirinya sendiri.

Erick Ebot mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere-Flores


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com