DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 23 Maret 2019, 10:00 WIB

Pustaka

Seksualitas di Indonesia Tempo Dulu

Hanputro Widyono - detikNews
Seksualitas di Indonesia Tempo Dulu Foto: Buku Kompas
Jakarta - Judul Buku : (Bukan) Tabu di Nusantara; Penulis: Achmad Sunjayadi; Penerbit: Kompas, 2018; Tebal: xiv + 202 halaman

Seksualitas itu seperti kentut, melegakan namun jarang yang mau mengakuinya. Orang takut dicap cabul, otak mesum, mata keranjang, tak bermoral atau tuna susila. Meski begitu, peristiwa yang dikatakan tak senonoh di hadapan publik itu sempat pula mendapat ruang-ruang berharga di koran dan majalah sebagai berita. Peristiwa terkait seks, apalagi skandal, memang selalu ramai diperbincangkan. Apalagi jika menyangkut skandal orang-orang terpenting nan terkenal.

Tiga abad sebelum Indonesia merdeka, tentu orang-orang mengenal Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen. Ia terkenal sangat puritan dan mengutuk perbuatan tak bermoral seperti homoseksual dan seks di luar nikah. Tapi ia justru kecolongan di rumah sendiri. Sara Specx, putri Jacques Specx yang dititipkan pada Coen, kedapatan bercumbu dengan seorang serdadu rendahan, Pieter Jocobszoon Cortenhoeff. Coen pun berang dan menjatuhkan hukuman bagi keduanya.

Pelbagai upaya dan bujuk rayu untuk membatalkan hukuman diajukan oleh istri Coen dan Dewan Gereja Belanda. Tapi percuma saja. Coen ingin hukum ditegakkan dan konsisten pada peraturan yang sudah diterapkannya. Keputusan hukuman itu menggemparkan Hindia Belanda dan negeri kincir angin. Pada 6 Juni 1629, Pieter Jocobszoon Cortenhoeff dipancung di Balai Kota, sedangkan Sara Specx ditelanjangi, dicambuk, dan dijadikan tontonan di depan khalayak.

Cerita itu termuat di buku (Bukan) Tabu di Nusantara garapan Achmad Sunjayadi. Sejak awal hingga akhir, buku ini membawa kisah-kisah terkait seksualitas yang terjadi di Indonesia sejak masa prakolonial, kolonial, hingga pascakolonial.

Berita penggeli hati kita temukan di halaman 107. Waktu itu, sekitar tahun 1898 sebuah firma bernama H. Bunning mencetak seri kartu pos Yogyakarta, Prambanan, dan Borobudur. Salah satu kartunya bergambar patung Buddha di Borobudur. Kemudian, pembeli mengirimkan kartu pos bergambar patung Buddha bertelanjang itu ke Belanda sebagai bentuk ucapan selamat tahun baru.

Setibanya di sana, petugas pos Rotterdam menganggap gambar di kartu pos itu kurang sopan untuk disampaikan langsung pada si penerima. Terpaksa, sang Buddha mesti diberikan "pakaian" alias diamplopi. Dan petugas pos membebankan biaya pengganti "pakaian" sang Buddha sebesar 7,5 sen gulden. Alamak!

Selain dari berita-berita di majalah atau koran, Sunjayadi juga memberi perhatian pada iklan-iklan. Hal ini dianggap penting sebab artinya perihal seksualitas yang semula terbatas pada ruang domestik telah memasuki ruang-ruang publik. Seksualitas memberi ruang bagi perusahaan-perusahaan untuk memproduksi barang-barang penunjang masalah seks.

Di majalah Sin Po tahun 1932 terpasang iklan obat kuat yang berupa teks disertai gambar seorang prajurit Romawi mengenakan baju tempur. Nama obatnya lucu, Pil Koeat "Si Dongkrak", yang mengingatkan kita pada peralatan otomotif. Kita kutip teksnya: "Sanggoep bikin seorang toea jang Toyang (peloe) berbalik djadi gaga dan Tjongyang (moeda) kembali. Bikin tamba tenaga, hidoepin dara dan penoein soemsoem jang soeda maoe kering. Orang moeda jang banjak pelesir haroes makan ini pil koeat boeat djaga diri djangan sampe djadi phonphe."

Dari sejumlah iklan yang dicatat Sunjayadi, obat kuat, obat kecantikan, jamu, obat penyakit kelamin, anggur, dan buku tentang seksualitas banyak beredar sejak awal abad XX. Barang-barang itu laku keras, sehingga perusahaan-perusahaan baru pun muncul untuk mengencangkan persaingan.

Pada masa 1970-an, orang-orang di Jakarta gandrung membaca novel-novel erotis garapan Enny Arrow. Alasannya sederhana, dibandingkan bacaan sejenis karya Freddy S atau Nick Carter, novel-novel Enny Arrow termasuk yang paling diburu para pembeli lantaran selalu mendeskripsikan adegan-adegan ranjang secara detail dan vulgar. Hal itu didukung pula dengan sampul novel yang sering memasang foto perempuan dengan potongan kain minimalis.

Meski kepingin banget (membaca), orang-orang tak mau terlalu terbuka. "Biasanya pura-pura nyari yang lain dulu, baru deh nanya ada Enny Arrow atau enggak," kata Tagor, pedagang buku, mengisahkan situasi transaksinya pada masa itu (Tempo, 22 Oktober 2017). Kepopuleran novel-novelnya tak membuat Anny Arrow gerah dan ingin muncul ke publik. Hal ini dimanfaatkan para pedagang buku di Jakarta untuk mengarang sendiri kisah-kisah erotis, lalu mencetaknya dengan nama Enny Arrow. Alhasil, sampai saat ini, sosok Enny Arrow masih misterius. Bahkan alamat penerbit "Mawar" yang memproduksi novel-novel Enny Arrow pun tak juga diketahui keberadaannya.

Dalam 202 halaman buku ini, kisah-kisah terbanyak berasal dari masa kolonial, 1800-1942. Tetapi soal ketimpangan data dan cerita pada periode prakolonial (1600-1800) dan pascakolonial (1942-1960) tak perlu jadi masalah. Toh, buku ini memang tidak disajikan secara kronologis.

Tampaknya, Sunjayadi tak berkehendak menjadi juru terang sejarah seksualitas di Indonesia dengan menyajikan analisis canggih namun berisiko merumit. Sunjayadi yang bergelar doktor di bidang sejarah itu hanya ingin berbagi cerita-cerita yang bersifat deskriptif. Meski demikian, hal itu justru membuat bacaan ini terasa ringan dan mudah diterima awam. Pembaca seperti membaca kumpulan kliping berita dari masa silam.

Sejumlah majalah dan koran berbahasa Melayu dan Belanda yang menjadi sumber primer penulisan buku ini dapat kita sebut: majalah Aneka, Bataviaasch Nieuwsblad, Bentara Hindia, De Preanger Bode, Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, Het nieuwsblad voor Sumatra, Holland Horizon, Java Bode, Sin Po, Soerabaiische Handelsblad,Tilburgsche Courant, De Tijd, dan lainnya.

Hampir semua kisah dan informasi yang termuat dalam buku ini berbasis media cetak. Seksualitas belum dibicarakan memasuki media digital atau yang berbentuk video. Akhirnya, kalaupun seksualitas masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia, buku ini membuktikan bahwa berbagi informasi dan pengetahuan tentang seks bukanlah hal tabu.

Hanputro Widyono anggota Karang Taruna "Bitaris" Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed