DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 22 Maret 2019, 16:08 WIB

Kolom Kalis

Kerudung Jacinda Ardern, Sampul 'The Press', dan Jihad Cinta

Kalis Mardiasih - detikNews
Kerudung Jacinda Ardern, Sampul The Press, dan Jihad Cinta Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kerudung hitam Jacinda Ardern, dalam ungkapan duka cita kepada korban teroris di masjid Christchurch (15/3), bukan aksesori. Jacinda, sebagai seorang pemimpin, tengah berdiri paling depan untuk melindungi warganya. Kerudung adalah simbol yang paling tampak dari seorang Muslim perempuan. Jacinda menjadi Muslim secara ruh. Ia meyakini bahwa Muslim, dengan semua simbol yang melekat pada diri mereka, adalah bagian dari dirinya sebagai seorang Perdana Menteri. Maka, azan pun berkumandang di seluruh penjuru Selandia Baru diikuti oleh dua menit hening cipta oleh seluruh penduduk.

Jacinda adalah perlawanan kepada persona pemimpin rasis seperti Donald Trump dan Fraser Anning. Donald Trump tak berhenti menjadi tolol meski dikutuki seluruh dunia. Fraser Anning barangkali bertambah megalomania setelah dilempar telur oleh Will "Egg Boy" Connoly. Kerudung Jacinda, bersama segenap kepiawaiannya dalam memimpin adalah keteladanan yang mahal.

Mahal. Semahal koran lokal Christchurch, The Press, yang pada Jumat (22/3) ini bersampul polos tanpa foto. Lembar kertas lapang itu diisi oleh huruf Arab yang berbunyi Salaam, dan kemudian diterjemah dengan "salam", peace. Pada bagian bawah halaman sampul, tersebut 50 nama Muslim yang menjadi korban penembakan oleh teroris seminggu yang lalu. Ya, saya tak akan menyebut nama laki-laki iblis itu, sebagaimana mandat Jacinda Ardern, "He is a terrorist. He is a criminal. He is an extremist. But he will, when I speak, be nameless."

Menarik menyimak komentar yang muncul di media sosial oleh sebagian orang lokal yang menganut paham white supremacist. Seseorang mempertanyakan, mengapa The Press tidak menyebut kata shalom, alih-alih salam. Ada seseorang yang menjelaskan bahwa kata salam itu tidak otentik, sebab kata tersebut berasal dari akar kata shalom alaichem dalam bahasa Yahudi. Komentar sejenis ini, dalam konteks yang berbeda, sangat mudah kita jumpai di Indonesia.

Seorang provokator mencuit tanpa beban, "Tak ada keberpihakan kepada kaum Muslim ketika Muslim yang menjadi korban." Padahal seluruh dunia memberitakan dan mengutuk terorisme. Seorang artis "hijrah" mem-posting foto solidaritas masyarakat Selandia Baru yang datang ke masjid atas dasar kemanusiaan untuk bersolidaritas dengan menambahi opini pretensius bahwa Islam menguat meskipun agama ini terus diserang. Kanal-kanal yang menyebut diri sumber kajian tauhid, mempromosikan ustaz yang takut berkurang ketebalan akidahnya jika umat Muslim beramai-ramai menunjukkan kekaguman kepada ketegasan Jacinda Ardern dan solidaritas yang mengagumkan dari berbagai golongan di New Zealand pasca menghadapi duka yang mereka sebut "darkest of days" itu. Sebuah penggiringan opini yang sama sekali tak bijak, saya kira.

Dalam situasi di mana white supremacist, ekstremis beragama, xenophobia, dan Islamofobia tengah menjadi tantangan untuk masa depan dunia, menyebarkan cinta kepada semua orang dari semua identitas adalah jihad.

Ketika periode dakwah sedang sulit, Rasulullah SAW pernah meneladankan hijrah pertama ke Habasyah, sebuah negeri yang dipimpin oleh Raja Najasyi, seorang Kristen yang adil. Alkisah, Sang Raja menerima informasi bahwa pengikut Muhammad adalah kaum yang berbahaya sebab merekalah penyebab timbulnya keributan di Mekkah. Raja Najasyi tak percaya. Ia justru penasaran bagaimanakah ajaran Muhammad itu sehingga banyak orang beramai-ramai menganutnya. Ia lalu mendengar kesaksian langsung dari umat Islam bahwa Islam Muhammad mengajar mereka untuk mengasihi orang miskin, memberi penghormatan kepada perempuan dan tidak membeda-bedakan semua manusia kecuali karena akhlaknya. Raja Najasyi justru gembira, lalu memberi suaka umat Islam yang membutuhkan perlindungan dari serangan kafir Quraisy.

Para penganut white supremacist takut kepada penduduk migran. Sama seperti sebagian Muslim takut kepada golongan lain. Kelompok mayoritas ini hidup dalam halusinasi kemurnian identitas kelompok yang terusik kenyamanannya melihat keberagaman secara faktual. Keterusikan itu kemudian lebih sering berpilin bersama isu perebutan tanah, lapangan pekerjaan, keberpihakan politik hingga dinamika sosial budaya. Identitas kelompok dan agama, lebih sering jadi jargon untuk meniup-niupkan sentimen permusuhan dibanding mencari solusi bagaimana menciptakan sistem yang adil bagi masyarakat.

Sampul berhuruf Arab dari The Press adalah harapan. Ia adalah sebuah mekanisme kebijakan yang mempresentasikan sikap supremasi jurnalistik yang adil dan damai. Inilah tugas mulia jurnalistik yang sebenar-benarnya. Dalam situasi masyarakat yang tengah kacau, penuh mitos dan kekacauan informasi, jurnalisme dapat muncul sebagai pusat informasi yang memberi keseimbangan.

Yasser Louati, seorang aktivis anti-Islamofobia asal Prancis pernah ditanya dalam sebuah siaran berjudul Paris Terror Attacks oleh penyiar CNN, John Vause pasca tragedi Charlie Hebdo. Louati menjawab pertanyaan tendensius Vause, bahwa umat Islam sedunia berjumlah 1,6 miliar. Umat Islam sangat beragam dan tidak terkait sama sekali dengan ulah segelintir kelompok ekstremis.

Selain menambah pengetahuan tentang keragaman pemeluk agama dan identitas kelompok, seorang pewarta dan penulis penting untuk berhati-hati dalam memilih istilah. Saya tidak memakai istilah jihadis Muslim untuk menyebut kata teroris atau ekstremis beragama, seperti beberapa media Barat yang mulai memakai kata Daesh dibanding menyebut Negara Islam. Saya bahkan lebih memilih istilah "keragaman" atau "keberagaman" daripada menyebut "perbedaan".

Saya tak ragu sedikit pun menyebut aktivitas sederhana menunjukkan cinta dan solidaritas sosial di media sosial kita masing-masing sebagai jihad. Sebaliknya, di era disrupsi informasi ini, menyeru untuk menjadi pemeluk agama yang menjauhi kelompok lain sebab terlalu khawatir akan berkurang akidahnya, sama sekali bukan sunah. Keesaan Tuhan, yang dalam akidah mesti kita terjemahkan dalam iman, dalam perbuatan serta mengagungkan asma (nama) dan sifat-sifat-Nya, mestinya jadi lebih kokoh di tengah-tengah keberagaman, seperti melihat berbagai warna di taman bunga.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed