DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 22 Maret 2019, 15:10 WIB

Kolom

Tak Ada Tempat di Dunia bagi Brenton Tarrant

Yuli Isnadi - detikNews
Tak Ada Tempat di Dunia bagi Brenton Tarrant Foto: Glenda KWEK/AFP
Jakarta -

"Aku lebih baik membiarkannya mengambil HP-ku, kehilangan 100-200 Euro, daripada keselamatanku terancam." Begitu ucap teman saya ketika HP-nya dicopet di pintu keluar Stasiun La Chapelle, Paris, Oktober tahun lalu.

Menariknya, teman saya itu penduduk lokal Paris. Sedangkan si pencopet seorang imigran. Saya yang pendatang, waktu itu mahasiswa di salah satu universitas Paris, sulit menerima kenyataan, bagaimana mungkin seorang tamu tak diundang berani mencuri? Apalagi si tuan rumah yang justru ketakutan.

Kami cukup beruntung. Si pencopet mau mengembalikan barang curiannya. Tahu, kenapa? Karena beberapa meter dari TKP, berdiri polisi.

Seorang imigran mencuri barang penduduk lokal di depan polisi! Bagaimana lagi cara terbaik untuk menggambarkan "supremasi" imigran di Kota Paris?

BrentonTarrant, pelaku pembantaian muslim di New Zealand pada Jumat lalu, ada benarnya tentang imigran. Brenton kelahiran Australia, berasal dari kelas buruh dan keluarga berpendapatan rendah, tidak kuliah, dan sempat terlibat dalam kegiatan rasis anti-kebab.

Sebelum berangkat membunuh kelima puluh manusia yang sedang beribadah Jumat di masjidl, ia merilis dokumen yang menjelaskan alasannya: "The Great Replacement".

Penurunan angka kelahiran ras kulit putih menyebabkan muslim dunia datang menginvasi lahan mereka. Lalu sumber daya ekonomi direbut, budaya dan nilai diganti. "This is white genocide," tulis Brenton. Ini adalah pemusnahan ras kulit putih.

Artinya, imigran muslim telah berbuat tidak menyenangkan pada penduduk lokal yang ras kulit putih. Bahkan oleh Brenton ini menjadi sinyal bahwa proyek pemusnahan kulit putih sedang berlangsung.

Kesimpulan ini ada sedikit benarnya di Kota Paris, Prancis, negara yang bukan hanya punya jumlah imigran terbesar, tetapi juga diakui Brenton turut membentuk idenya membunuh muslim.

Suatu ketika saya harus bolak-balik ke bagian utara Kota Paris untuk keperluan riset tentang imigran, di daerah La Chapelle.

Di sana saya merasa tidak sedang berada di Eropa. Langkah kaki selalu diiringi perasaan terancam oleh imigran. Mereka berkeliaran dan menatap tajam ke setiap orang yang bukan dari mereka. Sementara semua yang bukan mereka mendekap erat tas dan barang berharga masing-masing.

"Kamu beruntung dia tidak menusukmu," begitu kata dosen saya mendengar pengalaman kecopetan HP di atas. Ya, kami beruntung tak terluka sama sekali.

Sebagian imigran di kota ini tidak menghargai nilai dan budaya lokal. Bahkan mengancam keselamatan warga lokal kulit putih. Sudah beberapa kali terjadi bentrokan fisik antar keduanya. Mayoritas disebabkan pendudukan fasilitas umum, seperti trotoar dan stasiun, dan penerapan nilai Islam secara serampangan.

Sampai di sini, mata Brenton tak salah. Imigran berbuat tidak menyenangkan terhadap warga lokal kulit putih. Tetapi itu bukan berarti sedang terjadi genosida. Yang ada justru sebaliknya. Imigran muslim memberi keuntungan kepada negara-negara ras kulit putih.

Pikiran Brenton kurang mendalam. Ia tidak mencari tahu, mengapa seseorang menjadi imigran, mengapa setibanya di negeri ras kulit putih mereka sulit berbaur, dan kenapa pula negara-negara ras kulit putih membuka pintu terhadap imigran?

Imigran bukanlah orang yang datang untuk merebut lahan ras kulit putih. Mereka datang karena melarikan diri dari perang yang berkecamuk di Pakistan, Irak, Afghanistan, dan negara-negara Afrika. Walau tanpa perbekalan yang cukup.

Suatu ketika saya bertanya kepada aktivis NGO yang fokus pada isu pengungsi, bagaimana perbekalan para imigran dalam menempuh perjalanan ribuan kilometer, antarbenua. Jawabannya amat miris. Jangankan perbekalan uang, banyak darinya yang tak pernah bersekolah, hanya bisa bahasa ibu, dan tak bisa baca tulis. Yang dibawa cuma nyawa yang masih melekat di badan.

Adalah tak masuk akal jika orang-orang yang begini dituduh ingin menginvansi apalagi melakukan genosida. Tak semestinya sebuah pasukan tempur yang lemah berangkat ke negeri perkasa dengan bermodalkan nyawa semata.

Lalu mengapa gerangan hingga mereka sulit berbaur dengan penduduk asli? Ada kemungkinan karena trauma. Negara-negara koalisi, seumpama US, Prancis, Inggris, Jerman, dan sebagainya terlibat secara langsung dan tidak langsung pada perang yang menyebabkan mereka harus melarikan diri. Ini sedikit banyak berpengaruh pada kehidupan bermasyarakat.

Lebih menarik dari dua pertanyaan tadi, mengapa negara-negara itu membiarkan imigran masuk? Bukankah mereka punya hak untuk menolak?

Ah, sudahlah. Lebih baik kita jujur saja. Itu karena mereka butuh pertolongan imigran muslim.

Di sebuah sesi diskusi, saya bertanya, mengapa pemerintah kalian menerima imigran? Itu karena kami terikat perjanjian internasional, demikian jawab dosen saya.

Ini soal hak asasi manusia. Semua berhak untuk hidup dan rasa aman.

Karena tak percaya itu, lalu saya kejar. Apa yang akan kalian lakukan jika nanti negara-negara mereka sudah damai? Akankah dikembalikan ke negara asal? Di sini ia terdengar sedikit ragu menjawab. Dan akhirnya bilang, "Kami butuh tenaga kerja untuk pekerjaan-pekerjaan kasar." Jadi mereka tak akan dipulangkan kembali ke negara asal.

"Tenaga kerja untuk pekerjaan-pekerjaan kasar." Di dalam hati saya bersorak karena alasan sebenarnya ditemukan.

Imigran sudah menjadi komoditas. Mereka adalah manusia yang dulunya merdeka tapi lantaran lari dari perang berubah menjadi tenaga kerja murah.

Toh, dalam sebuah rapat Uni Eropa mengenai pengalokasian uang pengelolaan pengungsi, sebuah negara meradang kepada Prancis yang menuntut alokasi uang lebih besar sebab menerima imigran paling banyak.

Tahu, apa komentar negara itu? "Lebih baik kami memberi insentif kepada penduduk kami untuk punya anak lebih banyak, ketimbang memberikannya kepada kalian."

Semua paham, Prancis sebetulnya mau menggunakan dana pengungsi untuk mendidik dan melatih imigran agar sesuai dengan kebutuhan industri. Rencana ini kemudian ditutupi wacana penanggulangan pengungsi atas dasar hak asasi manusia.

Bagaimana mungkin usulan Prancis disetujui oleh yang lain sementara mereka punya masalah yang sama. Mengeluarkan biaya untuk menyelesaikan persoalan Prancis bukan kebijakan tepat.

Artinya, negara-negara kulit putih, jika menggunakan istilah Brenton, sedang mengalami krisis tenaga kerja. Kehadiran imigran korban perang punya potensi untuk disulap menjadi tenaga kerja murah. Imigran muslim bukan masalah, melainkan solusi.

Dari luar memang tampak sial bagi negara yang kebanjiran imigran. Tetapi sebetulnya mereka beruntung. Tenaga kerja tersedia, pembangunan industri bisa terus maju, pertumbuhan ekonomi tetap bisa lanjut, tingkat kesejahteraan masyarakat tetap meningkat.

Jadi, Brenton keliru dalam memahami persoalan imigran muslim. Mereka bukan datang khusus untuk menginvansi lahan-lahan kulit putih, melainkan melarikan diri dari perang yang berkecamuk.

Mereka bukannya tak ingin melebur, menjadi warga negara yang ideal. Mampu menerima perbedaan. Melainkan trauma akibat intervensi negara-negara ras kulit putih.

Imigran muslim bukan pula merugikan negara-negara kulit putih, melainkan penyelamat. Mereka adalah tenaga kerja murah yang menggerakkan roda perekonomian di tengah defisit populasi.

Maka dari itu, alih-alih membenci, Brenton seharusnya bersimpati akan nasib pelarian, meminta maaf atas intervensi militer negara-negara ras putih yang menyebabkan mereka pergi jauh dari tanah kelahiran, sekaligus berterima kasih atas penyelamatan ekonomi. Bukan dibantai secara live streaming.

Kita berduka atas kekeliruan Brenton, namun respons yang diberikan dunia, khususnya ras kulit putih sangat menggembirakan. Masyarakat kulit putih mengutuk tindakan Brenton dan mengungkapkan rasa sedih dan simpati yang mendalam terhadap para korban. Brenton Tarrant telah disisihkan oleh masyarakatnya sendiri. Karena semua sudah sepakat, dunia yang damai tak pernah punya tempat bagi kekerasan, rasisme, dan fasisme.

Yuli Isnadi mahasiswa Ph.D Ekonomi Politik NCKU Taiwan, alumni pertukaran pelajar di UPEM-UPEC Paris-Prancis




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed