DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 22 Maret 2019, 14:25 WIB

Kolom

Bangkitnya Solidaritas Pasca Terorisme di Christchurch

Amalia Sustikarini - detikNews
Bangkitnya Solidaritas Pasca Terorisme di Christchurch Foto: REUTERS/Jorge Silva
Jakarta -
Kabar duka datang dari kota Christchurch, New Zealand. Terjadi aksi penembakan massal terhadap jemaah yang melakukan ibadah Salat Jumat di Masjid An-Nur dan Masjid Linwood di kota ini. Korban jiwa sampai artikel ini ditulis telah mencapai 49 orang, 2 orang dalam keadaan kritis dan 48 terluka, yang menjadikan peristiwa ini sebagai penembakan massal dengan korban terbesar dalam sejarah New Zealand setelah Aramoana Massacre pada 1990 yang menewaskan 14 orang.

Kejadian ini juga merupakan salah satu aksi penyerangan terhadap tempat ibadah dengan jumlah korban paling tinggi. Pada 2017 dan 2018 terjadi penyerangan di Masjid Quebec, Canada dengan korban tewas 6 orang, Gereja di Texas, AS dengan korban tewas 20 orang dan Synagogue di Pittsburg, AS dengan korban tewas 11 orang. Di awal 2019 terjadi pemboman di sebuah Katedral di Jolo Filipina Selatan dengan korban 20 jiwa.

Pelaku aksi terorisme di Christchurch ini telah ditangkap dan berjumlah 3 orang. Salah satu pelaku adalah warga negara Australia yang menetap secara berkala di New Zealand. New Zealand dan Australia memiliki kebijakan imigrasi Trans-Tasman yang memungkinkan penduduk dari dua negara ini melakukan mobilitas dengan mudah.

Peristiwa ini sangat mengejutkan karena terjadi di New Zealand, salah satu negara yang relatif aman dari aksi aksi terorisme. Walau menghadapi hal yang sangat sulit, pemerintah New Zealand di bawah kepemimpinan Jacinda Ardern menunjukkan respons yang cepat dan komprehensif. Reaksi awal yang patut dipuji adalah saat dengan tegas Ardern menyebut peristiwa penembakan ini sebagai "terrorist attack".

Hal ini membantu reduksi kesan standar ganda yang diterapkan di negara negara barat saat terjadi aksi kekerasan yang melibatkan pelaku dari kalangan kulit putih. Aksi kekerasan tersebut sering tidak disebut sebagai aksi terorisme, berbeda saat pelaku adalah dari kalangan muslim. Standar ganda ini secara langsung ataupun tidak langsung menyuburkan grievance dan viktimisasi di kalangan umat muslim yang selanjutnya dapat menjadi pencetus tindakan retaliasi.

Perdana Menteri Ardern juga mengumumkan niat pemerintahannya untuk merevisi UU Kepemilikan Senjata. Walau memiliki tingkat kejahatan yang relatif rendah, New Zealand adalah salah satu negara dengan kepemilikan senjata api yang tinggi. Senjata semi otomatis yang digunakan oleh pelaku dibeli secara legal di New Zealand pada 2017. Rencana ini disambut baik oleh kalangan kelompok gun control dan kepolisian.

Pihak media dan penyedia internet juga secara aktif berusaha menghentikan penyebaran video peristiwa tersebut yang direkam sendiri oleh pelaku dan disebarkan lewat platform media sosial.

Poin kuat lain yang disampaikan oleh Perdana Menteri Ardern adalah pesan bahwa New Zealand akan tetap menjadi tempat tujuan yang aman bagi pengungsi dan imigran. Di bawah kepemimpinan Ardern, New Zealand meningkatkan kuota pengungsi dua kali lipat dari 750 menjadi 1500 pada 2020. Ardern juga menyampaikan bahwa para pengungsi dan imigran di New Zealand terutama dari kelompok Islam adalah bagian dari penduduk New Zealand, dengan frasa "they are us".

Frasa ini kemudian menjadi tagar yang populer untuk menunjukkan dukungan dan simpati kepada korban terorisme di Christchurch. Di tengah kecenderungan global terhadap pembatasan, penolakan bahkan kriminalisasi imigran terutama imigran muslim, sikap yang ditunjukkan Ardern adalah angin segar untuk menghidupkan kembali solidaritas global terhadap pengungsi dan imigran serta perlawanan terhadap rasisme, xenophobia dan segregasi.

Tragedi ini juga menjadi peringatan bagi pemimpin dunia bahwa seperti halnya terorisme yang dilakukan kelompok Islam, homegrown terrorist atau teroris domestik yang mengagungkan white supremacy adalah ancaman yang sangat serius. Wacana anti-imigrasi dan Islamophobia yang dikumandangkan oleh para pemimpin ultra kanan adalah pupuk untuk menyuburkan kondisi bagi terbentuknya white supremacist terrorism baik yang berkelompok ataupun lone-wolf.

Dunia tidak bisa berkelit lagi tentang kebangkitan white supremacist terrorism setelah kejadian terorisme di Christchurch ini, di mana pelakunya menyebarkan manifesto yang sarat dengan ujaran kebencian terhadap imigran dan Islam, yang disebut sebagai invader. Internet menjadi media bagi tersebarnya bibit kebencian ini, yang menjadikan aksi ini dapat dilakukan di New Zealand sebuah negara yang terletak jauh di selatan bumi.

Hal ini juga menjadi pelajaran penting di Indonesia. Seharusnya tidak ada tempat lagi bagi pemimpin yang gemar memainkan identity card berupa agama, etnis, dan ras untuk kepentingan politik. Saat pelaku aksi terorisme di Christchurch ini menggunakan kata invader untuk kelompok Islam, maka di Indonesia kita pun sering dijejali dengan narasi invasi kekuatan asing.

Keuntungan politik yang didapat dari permainan isu identitas ini bersifat sementara, tapi dampak yang ditimbulkannya dapat secara permanen mempengaruhi kohesi sosial masyarakat. Pemerintah, oposisi, politis,i dan elemen masyarakat sipil di New Zealand juga terlihat satu suara untuk menyikapi kondisi darurat ini dan mendepankan aspek kemanusiaan di atas perbedaan politik. Tidak ada yang berusaha mempolitisasi tragedi ini untuk menyerang pemerintah untuk kepentingan golongannya.

Pada 2011, Christchurch mengalami gempa bumi besar dan menjadi salah satu tempat bagi terbentuknya solidaritas global bagi disaster awareness dan resilience. Setelah kejadian terorisme terjadi di Christchurch, banyak pemimpin dunia menyatakan simpati terhadap korban dan mengutuk tindakan terorisme ini.

Namun lebih dari pernyataan sikap, saatnya dunia kembali menjalin solidaritas global. Kali ini untuk melawan aksi terorisme yang dilakukan semua kelompok, dan menolak segala bentuk kebencian atas dasar identitas. Kali ini bukan lagi seperti gerakan melawan terorisme pasca 911, dengan semboyan "You are either with us or against us" tapi, "We all stand together against terrorism and hatred". Dan tentunya Indonesia pun ikut serta dalam solidaritas global ini.

Kia Kaha*, Christchurch! Kia Kaha, New Zealand!


Keterangan:

*Kia Kaha : Tetap Kuat, terjemahan dari Bahasa Maori, penduduk asli New Zealand

Amalia Sustikarini kandidat Doktor Ilmu Politik University of Canterbury, Christchurch, New Zealand, Research Associate CBDS Departemen Hubungan Internasional Binus University

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed