DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 18 Maret 2019, 12:40 WIB

Kolom

Tragedi Christchurch dan Tangis Polisi Muslim

M. Sya'roni Rofii - detikNews
Tragedi Christchurch dan Tangis Polisi Muslim Imam masjid dan pastor berpelukan usai tragedi Christchurch (Foto: Reuters)
Jakarta -

Naila Hassan tak kuasa menahan tangis saat memberi sambutan di hadapan masyarakat Selandia Baru yang berbondong-bondong datang ke taman kota Christchurch untuk menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya 49 warga Muslim negara itu. Naila adalah seorang inspektur polisi berlatar belakang Muslim. Ia bergabung dengan kepolisian sejak dua dekade silam. Sebelumnya ia harus menyembunyikan identitas keagamaannya, namun setelah adanya transformasi di tubuh kepolisian, ia lantas menyatakan rasa bangga sebagai seorang Muslim.

Tragedi Christchurch mengejutkan banyak kalangan, sebab selama ini Selandia Baru selalu menduduki predikat sebagai negara paling bahagia di dunia. Pada 2016 National Geographic menempatkan negara ini masuk sepuluh besar negara paling bahagia di dunia. Forbes juga memberikan predikat yang sama pada 2018. Indikator kebahagiaan sebuah negara salah satu parameternya adalah keamanan.

Tetapi, serangan membabi buta yang dilakukan oleh Brenton Tarrant di Masjid Al Noor Christchurch seketika mencoreng predikat Selandia Baru sebagai negara aman dan bahagia. Akibat serangan itu terdapat 49 korban meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka, termasuk warga negara Indonesia.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern setelah mengetahui kejadian tersebut seketika mengutuk pelakunya dan berjanji akan melakukan amandemen atas undang-undang peredaran senjata. Politikus partai buruh itu juga menyatakan simpatinya atas peristiwa yang dianggap menyakiti komunitas pendatang yang oleh pemerintah telah dianggap sebagai bagian dari masyarakat Selandia Baru. (ABC, CNN, 15/3).

Pengaruh Islamophobia

Tindakan Brenton Tarrant bukanlah tindakan kriminal biasa. Dari manifesto yang tersebar sangat terlihat jelas motivasi dari tindakannya adalah berlatar belakang sentimen kebencian atas ras dan agama.

Peristiwa ini tentu saja mengingatkan kita pada peristiwa-peristiwa yang sama yang terjadi di berbagai belahan dunia yang menunjukkan sebuah fakta bahwa nuansa kebencian berlatar belakang ras dan agama kian meningkat. Kasus ini hanya bagian kecil dari Islamophobia yang terjadi di negara-negara Amerika dan Eropa. Islamophobia dalam bentuk diskriminasi, rasisme, ujaran kebencian, serangan fisik, dan kampanye anti-Muslim telah menyeruak sejak Peristiwa 11 September 2001 (John Esposito, 2011).

Sejumlah sarjana Barat seperti Tariq Ramadan, John Esposito, dan Karen Armstrong telah berupaya memberikan klarifikasi terkait konsepsi Islam yang anti kekerasan dan memiliki konsep moderat, namun ternyata belum cukup untuk meredam benih-benih kebencian yang menyebar lebih cepat.

Meredam Kebencian

Belajar dari perisitiwa tersebut, maka penting bagi pemerintah Selandia Baru untuk mengambil langkah-langkah konkret untuk mencegah terjadinya kejadian serupa di masa depan. Pertama, pemerintah Selandia Baru harus melakukan amandemen undang-undang yang membebaskan peredaran senjata dan membatasi akses warga sipil untuk memiliki senjata.

Kedua, pemerintah Selandia Baru perlu membangun komunikasi dengan semua pemimpin komunitas etnis dan agama yang tinggal di benua Australia itu untuk menjaga agar kohesivitas atau perasaan sebagai sesama warga tumbuh, sehingga menutup celah upaya provokasi dari pihak luar.

Ketiga, pada tingkat masyarakat, masing-masing pemimpin komunitas etnis dan agama perlu memperkuat jalinan komunikasi agar perasaan sesama warga Selandia Baru semakin erat, sehingga mampu membentengi diri dari upaya pecah belah yang kerap disampaikan kelompok ultranasional semacam Anders Behring Breivik di Nowegia, Geert Wilders di Belanda, dan Brenton Tarrant di Selandia Baru.

Keempat, para pemimpin negara atau pemimpin politik juga semestinya harus mengakhiri menggunakan sentimen agama dan ras untuk meraih keuntungan politik elektoral. Sebab menggunakan isu kebencian bernuansa ras dan agama seperti yang kerap disampaikan oleh Donald Trump dalam beberapa kesempatan dan senator Australia Fraser Anning beberapa waktu lalu hanya akan menanam benih kebencian yang dampak kerusakannya sangat dalam.

Kelima, pemerintah Selandia Baru perlu membangun kerja sama dengan pemerintah Indonesia dalam upaya mencegah terjadinya kekerasan bernuansa etnis dan agama. Indonesia memiliki leverage sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia serta memiliki ormas keagamaan moderat seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang bisa membantu menyemai nilai-nilai Islam moderat di tengah masyarakat multikultur serta mengikis benih-benih kebencian yang muncul karena disebabkan oleh kesalahpahaman.

Terakhir, baru-baru in, kita menyaksikan sejumlah gambar menarik seputar tindakan simpatik warga negara Selandia Baru yang berbondong-bondong datang ke masjid untuk menyatakan sikap bahwa mereka hadir di depan masjid untuk menjaga komunitas Muslim yang akan melaksanakan ibadah. Sikap warga yang mengambil inisiatif sendiri untuk datang menjaga rumah ibadah komunitas lain sudah lebih dari cukup untuk menguatkan bangsa Selandia Baru untuk tangguh melawan terorisme.

M. Sya'roni Rofii dosen Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, Vice President OIC Youth Indonesia




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed