detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 15 Maret 2019, 15:20 WIB

Kolom

Kampanye, Nasi, Infrastruktur

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Kampanye, Nasi, Infrastruktur Cawapres Sandiaga Uno dalam salah satu momen kampanye (Foto: Instagram @sandiuno)
Jakarta - Gagasan itu muncul begitu saja saat berangkat ke kantor di pagi hari. Di pinggir jalan yang kami lewati, ada tulisan mencolok: "Ayo mampir sarapan dulu!" Saat saya tengok ternyata sebuah warung yang menjual nasi bungkus yang siap disantap. Siapa yang bisa menolak tawaran itu saat perut lapar?

Nasi

Nah, inilah yang sebenarnya dibutuhkan bangsa ini. Pertama, kebutuhan hidup secara langsung. Di dalam berbagai acara kampanye, Sandi dengan cerdik memanfaatkan kebutuhan ini untuk membangkitkan semangat emak-emak untuk mendukung dirinya. Perhatikan jargon yang dipakai, seperti "Uang 50 ribu dapat apa?", "Nasi campur di Indonesia lebih mahal ketimbang di Singapura", "Tempe setipis ATM". Atau, berpose memakai "wig" pete.

Bisa saja kita mengkritik gaya kampanyenya yang kurang atau sengaja tidak melihat data, sehingga meme sindirannya merebak ke mana-mana. Namun, saya rasa Sandi cukup cerdik. Baik atau buruk, yang jelas namanya semakin populer. Namanya yang sempat melejit saat menjadi wagub DKI makin moncer saat terpilih jadi pasangan penantang Jokowi. Seringnya pemberitaan yang mencantumkan namanya membuat nama Sandi begitu populer.

Saya berhenti sejenak untuk menguji asumsi saya. Saat mengetik kata 'Sandi' di Google inilah yang saya dapatkan: About 142,000,000 results (0.36 seconds). Demikian juga saat saya memakai kata 'Sandiaga', muncul: About 26,400,000 results (0.39 seconds). Bagaimana kalau saya ketik lengkap 'Sandiaga Uno'? Yang muncul: About 26,800,000 results (0.44 seconds). Mengapa kata 'sandi' begitu banyak di jagad maya? Ingat, bukankah 'sandi' juga bisa berarti 'rahasia'? Jadi kata 'sandi' yang muncul dari Google Search tidak selalu merujuk namanya.

Dari angka-angka di atas kita tahu bahwa sepak terjang Sandi selama kampanye yang aneh dan nyeleneh ternyata meningkatkan "elektabilitasnya" di internet. Ingat, iklan yang buruk pun adalah iklan yang melekat di benak khalayak banyak.

Apa kebutuhan khalayak banyak? Nasi! Nasi bungkus pun oke, sehingga demo-demo yang ada nasi bungkusnya katanya lebih banyak diikuti orang ketimbang yang "garingan" (Jawa = tanpa konsumsi).

Siapa bilang jika kebutuhan paling mendasar ini hanya diincar kalangan bawah? Bukankah setiap negosiasi bisnis yang berakhir manis seringkali dimulai dengan acara santap siang atau santap malam di resto maupun hotel?

Saat sebagian wilayah di Indonesia-khususnya seputar tol-di Jawa Timur terendam banjir, masyarakat butuh tempat berteduh dan nasi agar perut pun teduh. Jika kebutuhan yang sangat mendasar ini tidak dipenuhi, bisa jadi mereka menjadi gaduh. Seorang ibu yang menerobos Paspampres dan pingsan di depan Jokowi menyiratkan bahwa masih ada pembebasan tanah yang tidak "ganti untung" melainkan masih "ganti rugi". Untung Jokowi tanggap dan segera memerintahkan jajarannya untuk mengusut tuntas. Jika tidak, peristiwa ini menjadi "gorengan" yang membuat isunya jadi gosong.

Jadi, masyarakat ingin kebutuhannya yang mendesak ini segera dipenuhi, entah bagaimana caranya. Bukankah negara dibentuk memang untuk menyejahterakan rakyat? Kenaikan gaji PNS yang segera dilakukan didukung baik oleh Jokowi maupun Prabowo, meskipun timing-nya dianggap berbau politis.

Infrastruktur

Bagaimana dengan pembangunan infrastruktur yang sedang digarap Jokowi dan tim dengan semangat tinggi? Jalan di pedesaan, tol dan jembatan terus dikebut. Siapa yang bilang tidak penting? Infrastruktur penting sekali.

Sepulang dari Hawaii selama hampir satu bulan, rekan-rekan saya bertanya, "Bagus mana Hawaii dengan Bali?"

"Jujur, Bali lebih indah, namun kalah di infrastruktur!" jawab saya singkat.

Jika dalam kondisi sekarang saja Bali sudah "mengalahkan" Indonesia dalam hal ketenaran di mata turis mancanegara, jika infrastrukturnya diperbaiki terus, hasilnya sungguh luar biasa. Dalam perjalanan dari Sidney ke Denpasar, iseng-iseng saya tanya turis Aussie, "Senang ke Bali?"

Jawabannya sungguh membuat saya senang, "Saya sudah ke Bali belasan kali dan tidak bosan!"

Ketika berada di Puncak Padar, saya bertemu serombongan turis dari Brasil. "Wah, negaramu indah sekali. Saya akan ajak lebih banyak teman ke sini."

Pulau Padar memang memukau, namun akan jauh lebih berpendar jika pembangunan infrastruktur di sana diperhatikan.

Pembangunan infrastruktur, meskipun hasilnya tidak bisa kita lihat secara langsung dan seketika, menimbulkan multiple effect yang luar biasa. Jika turis membanjir, hotel pun kebanjiran penghuni sehingga occupancy rate-nya naik. Jika banyak turis yang datang, masyarakat yang menggantungkan nafkahnya di bidang tour and travel pasti terimbas. Para guide sampai penjual suvenir ikut merasakan manisnya serbuan dolar ini.

Dua Sisi Mata Uang

Bicara soal uang, di mana pun berlaku bahwa dua sisi mata uang selalu berbeda. Jadi di satu sisi, infrastruktur harus jalan terus. Di sisi lain, perut rakyat tidak boleh dibiarkan kosong terus. Para pemimpin bangsa harus pandai-pandai melakukan pengaturan anggaran yang seimbang sehingga naik jalan tol tidak kebanjiran dan kelaparan.

Di dalam setiap kampanye dari kedua belah kubu, mereka terus-menerus menyasar kaum milenial. Bukan hanya karena jumlah pemilih generasi muda mencapai puluhan juta, namun masa depan bangsa memang ditentukan oleh anak-anak muda. Jepang yang mengalami zero growth, bisa jadi minus growth, kalau dibiarkan terus menjadi bangsa yang menua. Lihat saja kantor-kantor di Jepang yang dihuni dan didominasi pekerja tua.

Indonesia mempunyai jumlah anak muda yang besar. Potensi ini bisa dianggap berkah, bisa musibah. Inilah tanggung jawab pemerintah. Pembangunan infrastruktur perlu diimbangi pengembangan SDM yang berkelanjutan. Jangan sampai generasi muda yang jadi back bone negara diabaikan sehingga mengalami back pain dan akhirnya justru membebani. Misalnya, terpapar narkoba. Apalagi politisi yang terkena dianggap wajar dan hanya perlu direhabilitasi. Anak muda adalah aset negara yang sangat berharga.

Saya teringat saat berada di Perth Mint, penghasil uang logam bagi Australia. Di sana ada timbangan unik. "Coba Bapak berdiri di atasnya," ujar Karen yang menemani saya dan istri ke sana.

Saat berdiri di atas timbangan itu, yang keluar bukan berat badan saya, melainkan nilai diri saya jika dikonversikan dengan emas. "Wuih, mahal juga nilaimu," ujar Karen.

"San," ujarnya sambil menoleh ke istri saya, "Boleh nggak suamimu ditukar dengan emas murni seberat tubuhnya?"

Gelengan istri saya membuat saya lega. Demikian juga Indonesia. Jangan pernah menukar nilai luhur bangsa dengan kampanye yang penuh lumpur. Jangan tukarkan harga diri dengan iming-iming materi, apalagi hanya senilai nasi bungkus.

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com