DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 14 Maret 2019, 11:28 WIB

Kolom

Merencanakan Transportasi Daerah

Sukma Larastiti - detikNews
Merencanakan Transportasi Daerah Anak muda di Ciamis protes jalan rusak lewat aksi unik (Foto: Istimewa/Muhafid)
Jakarta -

Minggu lalu, berita kerusakan infrastruktur jalan di daerah kembali viral. Naiknya isu ini tak terlepas dari upaya protes kreatif para pemuda-pemudi masa kini, yang bergaya membaca, memancing, dan bermain air di depan dan dalam lubang jalan yang berisi air berwarna coklat, seolah sedang berada di kolam renang mewah.

Masalah kerusakan jalan di daerah Indonesia bukan hal yang baru. Setiap kali saya pulang ke desa, selalu saja ada jalan yang rusak. Ibu saya sendiri sempat menemukan keluarga yang bernasib tragis karena kecelakaan di jalan rusak dan berlubang dalam. Sang anak meninggal karena terlempar dari gendongan ibunya, sementara sang ibu dan bapak "hanya" luka-luka. Sedihnya, itu bukan kasus pertama dan terakhir yang terjadi.

Sebenarnya, masalah transportasi di daerah tak terbatas infrastruktur yang buruk. Ada juga masalah ketersediaan layanan angkutan umum dan logistik. Layanan angkutan umum kurang menjangkau publik bahkan tidak sedikit yang mulai menghilang, kalah oleh kendaraan bermotor pribadi. Anak-anak desa, walaupun belum cukup umur, makin banyak yang bepergian dengan kendaraan bermotor. Di sisi lain, angkutan logistik masih belum mampu menekan biaya distribusi barang.

Kasus semacam ini seringkali tidak muncul di publik karena biasa dialami setiap hari. Proses yang berulang seperti ini terekam dan menjadi sesuatu yang "normal", baik bagi publik ataupun pemerintah. Efeknya, respons penanganannya akan selalu lamban.

Sistem transportasi di daerah juga lebih jarang dibicarakan di ruang-ruang publik, berbeda dengan transportasi perkotaan yang "terkenal" dengan kemacetannya atau aksesibilitas transportasi antardaerah yang masuk ke jaringan sistem logistik nasional (sislognas). Perencanaan transportasi kita lebih banyak berkutat pada perkotaan (urban planning), belum sampai wilayah daerah (rural planning).

Padahal, sistem transportasi di daerah memiliki keterkaitan erat dengan perkotaan. Tata kelola sistem transportasi di daerah yang buruk pada akhirnya turut membebani kota-dengan masuknya kendaraan bermotor ke kota yang akhirnya mendorong kemacetan-dan menciptakan transportasi berbiaya tinggi.

Transportasi Seperti Apa?

Untuk memperbaiki tata kelola sistem transportasi daerah, pertama-tama kita perlu mengajukan pertanyaan sistem transportasi seperti apa yang sesuai dengan daerah? Ada banyak tantangan yang dihadapi untuk menata kembali sistem transportasi di daerah. Tantangan yang pertama berasal dari karakteristik daerah itu sendiri seperti kondisi geografi, topografi, aktivitas warga, dan jenis pergerakan orang-orang daerah. Tantangan yang berkaitan dengan aspek keruangan berpengaruh besar terhadap penyediaan angkutan umum dan penjaminan keamanan dan keselamatan penumpang di jalan.

Tantangan yang kedua, potensi perubahan pergerakan akibat disrupsi teknologi. Warga masa kini dapat mengakses barang dan/atau jasa hanya dengan sekali klik tanpa perlu pergi ke kota atau daerah lain. Kecenderungan untuk melakukan transaksi elektronik ini semakin meningkat di kalangan generasi milenial yang lebih melek teknologi. Ini akan berpengaruh pada perhitungan permintaan angkutan umum dan logistik.

Tantangan yang ketiga, fenomena perubahan iklim. Transportasi merupakan penghasil emisi terbesar ketiga dari sektor energi (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2017). Secara global, transportasi menyumbang 23 persen emisi CO2. Perencanaan transportasi daerah di masa kini dan mendatang perlu mempertimbangkan transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Hal ini perlu menjadi perhatian daerah karena daerah, khususnya kawasan pertanian, termasuk garda terdepan yang rentan terhadap perubahan iklim, selain kawasan pesisir dan kelautan. Fenomena perubahan iklim meningkatkan ketidakpastian cuaca dan meningkatkan potensi bencana alam yang berhubungan dengan keikliman. Eksesnya, berpotensi mengganggu pasokan pangan.

Perencanaan transportasi daerah yang berkelanjutan perlu memenuhi prinsip hindari (avoid), berpindah (shift), dan tingkatkan (improve). Prinsip hindari berarti daerah perlu mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor baik untuk aktivitas pribadi maupun logistik yang tidak efektif.

Prinsip berpindah berarti mendorong warga untuk menggunakan kendaraan transportasi tidak bermotor dan angkutan umum. Pemerintah perlu lekas menata kembali sistem angkutan umum untuk mendukung strategi berpindah. Prinsip yang terakhir, tingkatkan, berarti mendorong kendaraan berenergi ramah lingkungan dan pengoperasian angkutan umum dan logistik yang lebih efektif.

Dari sisi infrastruktur, pembuatan jalan tak hanya harus aman dan selamat, tetapi juga perlu memikirkan desain jalan yang mengakomodasi gerak manusia, bukan kendaraan bermotor. Selama ini, desain jalan dibuat hanya untuk mengakomodasi keamanan dan keselamatan kendaraan bermotor.

Hal ini seperti tampak di dalam beberapa foto protes kerusakan jalan, sepeda motor-dengan pengendara tak memakai perlengkapan berkendara lengkap-dan truk berlalu lalang di belakang para model. Sangat jarang ada foto yang menampakkan latar belakang orang berjalan kaki atau bersepeda. Saat ini, orang lebih merasa tidak aman dan selamat berjalan kaki atau bersepeda dibandingkan naik kendaraan bermotor.

Sistem transportasi daerah pada masa depan tidak berdiri di atas penyediaan infrastruktur jalan dan kendaraan bermotor. Sistem transportasi daerah masa depan adalah transportasi yang berkelanjutan-yang mampu menjamin kelangsungan alam dan generasi penerus-dengan tulang punggung desain jalan yang meningkatkan martabat manusia serta angkutan umum dan logistik yang handal.

Sukma Larastiti bergiat di Transportologi, saat ini tengah mengembangkan laman transportologi.org untuk menyebarkan pengetahuan tentang transportasi berkelanjutan dan isu-isu perubahan iklim



(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed