DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 13 Maret 2019, 11:58 WIB

Mimbar Mahasiswa

Menghargai Pluralitas Kebenaran

Edo Putra - detikNews
Menghargai Pluralitas Kebenaran Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -
Sampai awal abad ke-20, cita-cita abad Pencerahan (Aufklerung) agar manusia mandiri dan kritis telah memberi harapan masa depan yang menjanjikan. Tragedi Perang Dunia I, Perang Dunia II dengan Holocaust yang kejam dan mengerikan, totalitarisme dan jurang antara Utara-Selatan membuat optimisme itu pupus.

Dewasa ini, cita-cita itu hanya seperti fatamorgana. Optimisme dalam pencarian kebenaran tak beranjak jauh dari bayang-bayang tradisi dan dominasi agama. Kebenaran yang dicari bukan sesuatu yang membebaskan, bukan pula peristiwa merekahnya perdamaian.

Masyarakat modern terjebak dalam pencarian kebenaran yang justru menyeret ke arena pertarungan kekuatan. Kebenaran diidentikkan dengan keunggulan. Lalu ia menjadi ajang pendakuan, serta pembuktian hubungan pengetahuan-kekuasaan, pencarian massa dan pengakuan sosial. Maka tidak heran bahwa kekerasan atas nama agama tidak juga menghilang dari cakrawala humanisme, seakan manusia tidak belajar dari masa lalu yang penuh konflik dengan motivasi agama.

Kebenaran yang dicari tidak membawa manusia pada perdamaian, namun konflik, ketakutan, dan diskriminasi. Suasana petualangan pencarian kebenaran tidak mampu memperluas lingkup kebebasan, namun justru mempertajam fanatisme dan radikalisme kelompok-kelompok.

Kelompok-kelompok radikalis itu mendaku diri sebagai kelompok yang memiliki ajaran yang paling benar dari agama-agama lain. Oleh karena itu, dengan segala cara, termasuk dengan kekerasan, mereka berusaha untuk menjadikan ajaran agama mereka diakui oleh semua orang.

Model-Model Kebenaran

Mereka yang terjebak dalam radikalisme agama tidak mempunyai daya berpikir kritis karena mereka dibiasakan dengan sikap dogmatis. Sikap seperti ini tidak terlatih untuk mempertanyakan apa yang dianggap sebagai kebenaran atau tidak memeriksa prosedur yang ditentukan. Asumsinya, seakan-akan kebenaran adalah entitas yang dicari. Padahal tekanan seharusnya diletakkan pada aktivitas berpikir itu sendiri.

Konsepsi baru tentang pemikiran menunjukkan bahwa berpikir bukan lagi hanya membuka syarat-syarat kemungkinan pengalaman atau pengetahuan dari segi pembentukan obyek, tetapi "berpikir adalah menyingkap kemungkinan-kemungkinan baru kehidupan" (Deleuze, 1962). Jika kita fokus pada penyingkapan kemungkinan baru, maka perlu ada terobosan terhadap pembatasan-pembatasan, terutama model-model kebenaran itu sendiri.

Pendakuan kebenaran bukan kebenaran itu sendiri. Di balik kebenaran tersembunyi kepentingan, motivasi, keyakinan bahkan ilusi. Maka kontribusi Nietzsche menjadi sangat berharga ketika dia menawarkan empat model kebenaran yang patut dipertanyakan karena mengungkit hakikatnya yang tidak selalu pasti. Empat model kebenaran itu dijelaskan Nietzsche dalam karyanya On Truth and Lies in A Nonmoral Sense (1873).

Empat model kebenaran itu dapat menjadi titik tolak untuk membongkar pendakuan kebenaran itu sendiri. Model kebenaran yang pertama nampak dalam prinsip eksterioritas yang menunjukkan bahwa di balik pengetahuan atau kebenaran bisa tersembunyi permainan naluri tirani.

Hasrat akan kekuasaan merupakan naluri utama manusia. Hanya saja peradaban Barat mengajarkan untuk tidak terlalu mengungkapkan hasrat dasariah itu. Maka hasrat akan kekuasaan harus disembunyikan atau dikemas dalam ungkapan yang lebih beradab, bisa dalam ungkapan seperti demi kebaikan dan keselamatan jiwa, obyektivitas, ilmiah, pelayanan, kesejahteraan bersama, keadilan dan tujuan-tujuan kemanusiaan lainnya.

Model kebenaran yang kedua tampak dalam prinsip fiksi yang mau menyingkap bahwa kebenaran tidak lain adalah kasus khusus kekeliruan. Asumsinya adalah kebenaran tidak pernah tunggal. Kebenaran adalah plural atau jamak dan tidak definitif. Pluralisme harus dipahami sebagai usaha untuk melawan semua upaya sistematisasi dan penyeragaman yang riil sehingga menghancurkan realitas yang beragam itu sendiri dengan mereduksinya dalam penjelasan bahwa fakta selalu mempunyai hukum umum dan prinsip utama.

Kebenaran merupakan kasus khusus kekeliruan terbukti dengan penemuan Copernicus dan dielaborasi oleh Galileo tentang heliosentrisme alam semesta. Gagasan Ptolomeus sebagai kebenaran yang dipegang berabad-abad yaitu bumi menjadi pusat alam semesta akhirnya disingkirkan.

Model kebenaran yang ketiga nampak dalam prinsip penyebaran yang mau menjelaskan bahwa kebenaran tidak tergantung pada salah satu subjek, namun pada banyaknya sintesis sejarah. Kesimpulan bahwa bumi itu bulat tidak diambil dari satu kejadian melainkan dari banyak pengalaman dan berbagai penelitian serta pengamatan oleh berbagai pihak yang berlangsung dalam kurun waktu yang berbeda dan lama.

Colombus hanya membuat sintesis sejarah dan meneguhkan apa yang pernah dipikirkan oleh para petualang dan geograf pendahulunya. Oleh karena itu, orang akan mudah jatuh ke jebakan penyederhanaan bila tanpa memperhitungkan variabel sejarah atau mendasarkan hanya pada salah satu pengetahuan atau pengalaman subyek, lalu dengan berani mengambil kesimpulan yang dipegang sebagai kebenaran.

Model kebenaran yang terakhir berpegang pada prinsip kejadian yang menegaskan bahwa kebenaran tidak mendefinisikan seluruh makna asali, tetapi setiap kali merupakan penemuan khas. Dalam perspektif ini, konteks menjadi penting karena yang konkrit ada di tempat dan waktu tertentu.

Situasi baru mengundang penemuan kebenaran yang baru yang bukan sekedar rumusan baru. Prinsip ini bekerja melawan kekuatan reaktif yang lebih menekankan reproduksi, adaptasi dan pemeliharaan. Kebenaran yang keluar dari kekuatan reaktif cenderung melanggengkan status quo sehingga lamban terhadap perubahan.

Semangat Menghargai

Pluralitas merupakan faktum yang tak terbantahkan dalam kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia. Kita hidup di tengah pluralitas baik itu pluralitas agama, etnis, budaya, orientasi seksual dan sebagainya yang menuntut kita untuk menerima dan menghargainya sebagai suatu keunikan dan kekayaan. Sebagai konsekuensi dari pluralitas, maka dalam kehidupan bersama kita juga mengakui adanya pluralitas kebenaran.

Kebenaran itu tampak dalam berbagai prinsip, pandangan hidup dan juga ajaran-ajaran agama. Setiap agama pada dasarnya memiliki ajaran-ajarannya masing-masing yang dianggap sebagai suatu kebenaran oleh para pemeluknya. Tidak ada agama yang memiliki ajaran yang lebih benar dari agama-agama lain. Oleh karena itu, siapa pun tidak mempunyai hak untuk memaksakan ajaran agamanya kepada orang atau pemeluk agama lain.

Di tengah hingar-bingar percaturan politik saat ini, isu-isu agama menjadi komoditas yang sangat laku untuk meraup dukungan publik. Dalam kampanye, baik itu secara langsung maupun melalui berbagai media sosial, para caleg berusaha untuk menggaet massa voters dengan isu-isu keagamaan.

Berbagai cara dilakukan termasuk dengan menyebarkan berita bohong tentang lawan politik beserta agama yang dianutnya. Mereka berusaha untuk berbicara tentang kebenaran agamanya masing-masing agar masyarakat tersentuh dan mengakui mereka sebagai orang yang taat terhadap agama. Padahal di balik itu, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Nietzsche, ada keinginan untuk berkuasa. Kebenaran agama hanya dijadikan sebagai topeng untuk menutupi segala keburukan dan kejahatan yang mereka miliki demi suatu tujuan yaitu kursi kekuasaan.

Dalam pertarungan politik, kebenaran juga ikut dipertaruhkan. Kebenaran yang dimaksudkan di sini lebih berkaitan dengan visi dan misi para calon pemimpin atau caleg. Dalam kampanye, para caleg dengan berapi-api menyampaikan visi dan misi mereka dan berusaha meyakinkan rakyat bahwa visi dan misi serta janji mereka itu adalah benar.

Namun, perlu diingat bahwa kebenaran dalam konteks politik harus dipahami sesuai dengan definisi kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang terjadi dalam kenyataan. Itu berarti, visi dan misi itu bisa dikatakan sebagai suatu kebenaran ketika masyarakat mengalaminya dalam kehidupan nyata.

Kita tentunya mendambakan sebuah kontestasi politik yang bersih dan fair. Itu berarti, segala macam strategi busuk harus dihindari. Untuk dapat mencapai sebuah kontestasi politik yang bersih, kita khususnya para caleg harus menjadikan sikap saling menghargai sebagai habitus yang melekat dalam diri. Sikap saling menghargai ini juga harus dimiliki oleh kita semua yang hidup di tengah pluralitas kebenaran. Pluralitas kebenaran baik itu kebenaran agama maupun kebenaran politik harus dilihat sebagai suatu keunikan yang dapat saling memperkaya satu sama lain.

Edo Putra mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed